White Swan Online Store

Tampilkan postingan dengan label MINDSET. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MINDSET. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Desember 2010

The Thick Face Black Heart

Thick Face Black Heart Chi Ning Chu didalam bukunya “Thick Face Black Heart” atau “Muka Tebal Hati Hitam”, mengatakan bahwa sebenarnya didalam diri manusia sebenarnya terkandung potensi yang begitu besar untuk bisa maju dan sukses. Masalahnya potensi tersebut sering kali terkubur begitu saja, karena kita tidak mau “bermuka tebal” dan “bermuka hitam”. Chi Ning Chu memberikan sebuah prinsip penting untuk tidak usah malu dan berhati tega dalam kondisi-kondisi tertentu. Tega terhadap diri sendiri dengan berani menanggung resiko dan tega terhadap orang lain; tidak terlalu bermain perasaan. Itulah yang ia maksudkan dengan “Muka Tebal Hati Hitam”.
Menurut Chi Ning Chu, perasaan-perasaan seperti gengsi, takut malu, dan terlalu menjaga perasaan orang atau merasa ngak enak sama si A, nggak enak sama si B justru sering kali menjadi penghambat seseorang untuk maju. Begitu sering kita tidak berani bertindak atau melakukan sesuatuyang akan mendatangkan kemajuan dan kesuksesan, hanya karena perasaan malu, gengsi dan tidak enak. Jika diterapkan secara positif, tentu saja prinsip ini akan berguna dan menolong kita untuk maju dan memaksimalkan semua potensi yang kita miliki tanpa peduli kata-kata orang yang melemahkan semangat kita. Tetapi sebaliknya, jika ini diterapkan secara negatif maka akan sangat merugikan diri kita dan juga orang lain, tidak sedikit orang yang tidak lagi punya rasa malu untuk berbuat dosa, Berlaku curang, serakah, mengambil keuntungan gelap dan menjilat secara terang2an, atau meminta kesana kemari. Ini adalah thick face atau muka tebal yang diterapkan secara negatif. Selain itu juga ada orang yang begitu tega terhadap sesamanya, tidak punya kasih dan kepedulian, tidak punya kepekaan, menindas, menekan sesama dan tidak pernah mencoa memposisikan diri orang yang ditindas. Orang-orang seperti ini jarang sekali terusik hatinya terhadap keadaan sesama, yang penting dirinya sendiri nyaman. Ketika sebuah kalimat nasihat keluar, sering kali kita berkata “Nasihat ini bukan untuk saya, melainkan untuk orang lain” atau krn sudah terbiasa dengan hati yang jahat dan merasa tindakannya benar, maka ia akan balik menyerang orang yang mencoba utnuk mengingatkan dengan berkata “tidak perlu ngajarin saya” ini benar-benar black heart. Kita perlu hati2 jangan sampai kita “membantu” dan tidak bisa menerima teguran dan nasihat orang lain. Marilah kita menyelidiki hati kita, masihkah kita hidup dalam jalan yang benar? atau kita sudah punya sifat yang kasih kita mulai dingin ?. Kiranya Tuhan melembutkan serta memperbaharui hati kita semua. Amin…!!!


* Thick Face, Black Heart adalah hukum rahasia alam yang mengatur perilaku sukses dalam setiap aspek kehidupan seseorang.
* Sering kali kita begitu peduli dengan apa yang membuat kita merasa nyaman bahwa kita melupakan apa yang membuat kita merasa hebat. Memahami bagaimana mengatasi rasa sakit, keraguan, dan kegagalan adalah aspek penting dari permainan menang di kehidupan.
* Karakter yang tidak terbuat dari sinar matahari dan mawar. Seperti baja, itu ditempa dalam api, antara palu dan landasan.
* Sebuah kehidupan yang sukses adalah yang hidup melalui pemahaman dan mengejar jalan sendiri, bukan mengejar mimpi orang lain.
* Thick Face, Black Heart bukan tentang kekejaman, namun Anda akan belajar bahwa dengan mengadaptasi dan mengadopsi kekejaman non-destruktif, Anda akan mendapatkan kebebasan dalam tindakan yang diperlukan untuk mencapai efektivitas dalam pelaksanaan tugas hidup Anda.
* Dengan semakin dalam berhubungan dengan kekuatan ini dalam diri Anda, Anda akan mendapatkan kejelasan tak tergoyahkan dan fokus untuk membantu Anda menemukan dan mencapai takdir yang Anda inginkan.
* The Thick Face, Black Heart praktisi harus melatih kemampuannya untuk mengabaikan kritik, cemooh, dan fitnah lain dari orang lain, dan pada saat yang sama melaksanakan tugas Anda sesuai keinginan Anda.
* Thick Face, Black Heart pada tingkat yang paling kejam tidak memiliki nada moral. Hal ini murni membahas bagaimana mendapatkan apa yang Anda inginkan. Tebal muka pada tingkat ini benar-benar rendah budi; Black Heart benar-benar kejam.
* Kebijaksanaan spiritualitas adalah akar dari kehidupan duniawi. Kemampuan untuk menilai baik dari yang jahat adalah penting. Tidak ada orang di luar sana Anda harus menaklukkan. Bila Anda telah berhasil menaklukkan diri sendiri, dunia akan berada di kaki Anda.
* Akhir keberanian seorang Thick Face, Black Heart Warrior adalah dispassion. Ini berarti memiliki keberanian untuk melawan meskipun takut; untuk dapat melepaskan diri dari emosi yang terkait dengan kekalahan sehingga kehadirannya tidak menghalangi Anda.
* Para penyatuan spiritual dan material dunia: Anda akan mampu menciptakan sebuah tempat pertemuan bagi dunia spiritual yang luhur dan dunia usaha yang kejam. Pada akhirnya, Anda akan melihat tidak ada divisi atau konflik antara dunia spiritual dan dunia yang kejam. Pandangan spiritual sublimal Anda akan menjadi alat penting untuk menaklukkan hari-hari realitas.
* Ketika seseorang bertindak selaras dengan Alam, salah satu tindakan yang selaras dengan kebaikan semua dan manfaat dari semua. Anda tidak merasa benar sendiri tidak terlalu bersemangat untuk menyenangkan, atau apakah Anda mencari persetujuan. Dalam menaklukkan, Anda kejam. Dalam aksi dan non tindakan, Anda tak berubah. Jika Anda dapat mencapai ini, Anda adalah benar Praktisi Thick Face, Black Heart.

THICK FACE (Tebal Muka)
* Kebanyakan orang Asia yang sangat khawatir bahwa orang lain menganggap baik mereka dan terutama yang lainnya menunjukkan rasa hormat terhadap martabat pribadi mereka. Gagasan ini bertolak belakang dengan gagasan orang barat dan menjadi tidak peka terhadap kritik dan pendapat negatif orang lain adalah yang terbaik. Menyatu bersama-sama, ini ide perkiraan 2 konsep Thick Face: sebuah perisai untuk melindungi harga diri kita dari pendapat buruk orang lain. Seseorang yang mahir dalam Thick Face menciptakan sendiri citra diri yang positif meskipun kritik dari orang lain.
* Dalam usaha tujuan apa pun, selalu ada ruang untuk keraguan tentang kemampuan kita untuk mencapai, motif kita untuk mencapai, atau kelayakan kita untuk menerima manfaat dari pencapaian.
* Orang memiliki kemampuan untuk menempatkan keraguan diri, menolak untuk menerima keterbatasan yang lain telah berusaha untuk memaksakan pada dirinya dan, yang lebih penting, dia tidak menerima keterbatasan yang biasa kita terapkan pada diri kita sendiri. Dia tidak mempertanyakan kemampuan atau kelayakan. Di matanya sendiri, dia adalah sempurna.
* Dunia memiliki kecenderungan untuk menerima penghakiman kita sendiri diri kita sendiri. Dengan keyakinan yang mutlak, maka orang bermuka tebal menanamkan kepercayaan pada orang lain. Mereka melihat dia sebagai sukses dan biarkan dia mencapai kebebasan suksesnya

BLACK HEART (Hati Hitam)
* Black Heart adalah kemampuan untuk mengambil tindakan tanpa memperhatikan bagaimana akibatnya akan mempengaruhi orang lain. Black Heart adalah kejam, tetapi tidak selalu jahat.
* Hasil akhir dari cupet kasih sayang untuk beberapa majikan akan menjadi penutupan seluruh operasi dan menaruh semua karyawan mereka kehilangan pekerjaan.
* Hati hitam – orang mempunyai keberanian untuk gagal.

Thick Face dan Black Heart adalah dua sisi mata uang yang sama. Ketika seseorang memiliki kekuatan Thick Face, seseorang dapat mengabaikan kritik dan penolakan dari massa. Kekuatan yang sama ini juga merupakan sumber Black Heart; itu memungkinkan seseorang untuk secara efektif menggunakan tombak untuk memotong melalui ide-ide bodoh dan prakonsepsi massa.
The Thick Face, Black Heart praktisi harus melatih kemampuannya untuk mengabaikan kritik, cemooh, dan fitnah dari orang lain, sementara secara bersamaan menjalankan tugasnya sebagai ia melihat cocok.

Minggu, 08 Agustus 2010

Bola Karet & Bola Kaca ala Brian Dyson

Brian Dyson, mantan eksekutif Coca Cola, pernah menyampaikan pidato yang sangat menarik,
"Bayangkan hidup itu seperti pemain akrobat dgn lima bola di udara.

Anda bisa menamai bola itu dengan sebutan:
• Pekerjaan
• Keluarga
• Kesehatan
• Sahabat, dan
• Semangat

Anda semuanya harus menjaga semua bola itu tetap di udara dan jgn sampai ada yang terjatuh.
Kalaupun situasi mengharuskan Anda melepaskan salah satu diantara lima bola tsb, lepaskanlah Pekerjaan karena pekerjaan adalah BOLA KARET.
Pada saat Anda menjatuhkannya, suatu saat ia akan melambung kembali, namun 4 bola lain seperti: Keluarga, Kesehatan, Sahabat dan Semangat adalah BOLA KACA.
Jika Anda menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal!
Brian Dyson mencoba mengajak kita hidup secara seimbang.
Pada kenyataannya, kita terlalu menjaga Pekerjaan adalah bola karet, bahkan kita mengorbankan Keluarga, Kesehatan, Sahabat dan Semangat demi menyelamatkan bola karet tsb.
Demi uang atau pekerjaan, kita mengabaikan keluarga.
Demi meraih sukses dalam pekerjaan, kita jadi workaholic dan tidak memperhatikan Kesehatan.
Bahkan demi uang atau pekerjaan, kita rela menghancurkan hubungan dengan Sahabat yang telah kita bangun bertahun tahun lamanya.
Bukan berarti pekerjaan tidak penting, jgn sampai pekerjaan atau uang menjadi BERHALA dalam hidup kita.
Ingatlah, kalaupun kita kehilangan uang masih bisa kita cari lagi, tapi jika Keluarga sudah terjual, kemana kita membelinya lagi?

Lihat kisah Yusuf yang meski pernah dibuat miskin, habis-habisan, dan sengsara oleh kakak-kakaknya, tapi tetap tahu bahwa Keluarga lebih penting dari penderitaannya itu.
Uang hilang masih bisa dicari, tapi apa kita bisa membeli Sahabat?
Uang hilang masih bisa dicari, tapi apakah kita bisa memulihkan Kesehatan kita secara normal jika kita terkena penyakit kritis?
Jagalah prioritas hidup Anda tetap seimbang.

Jumat, 18 September 2009

Hukum Truk Sampah

Sebuah kisah dari teman :

Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.
Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya & mulai menjerit ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang orang tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka saya bertanya, "Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!" Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah".
Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, & seringkali mereka membuangnya kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup.
Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka:
  • Kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak.
  • Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya.
  • Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.

Kamis, 17 September 2009

Kisah Anak dan Sang Pianis

Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia ingin melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal.
Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket kkonser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.
Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.
Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut.
Didorong olehrasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, Twinkle2 Little Star.
Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata "Teruslah bermain", dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya. Sang pianis lalu duduk di samping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut. Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi GR (Gede Rasa), pikirnya "Gila,baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!" Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya,mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

Apa implikasinya dalam hidup kita ? Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping kita.
Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Allah di samping kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Tapi bila Allah ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.
Semoga kita tidak pernah lupa bahwa ada Allah yang selalu menyertai kita.

Kisah Dua Batu Bata Jelek

Seorang teman menceritakan kepada saya seperti di bawah ini.

***
Pada saat saya off beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang kawan yang baru menikah 1 tahun… mereka adalah pasangan yang sudah cukup lama menjalin hubungan sebelum memutuskan untuk menikah...(maklum.. mereka sudah pacaran mulai kuliah..). Akan tetapi pada saat itu kawan tersebut bercerita bahwa dia mengalami masalah rumah tangga yang cukup berat, bahkan dia berencana untuk menceraikan istri yang baru dinikahi tersebut...
Kemudian saya meminta dia untuk menceritakan apa ”masalah berat” yang mengancam rumah tangganya tersebut. Ternyata yang menjadi masalah adalah cuma karena salah pengertian saja... sang istri belum memahami apa kemauan dari sang suami...
Saya lalu teringat sebuah kisah yang pernah saya baca beberapa tahun yang lalu dan mungkin bisa bermanfaat bagi kawan tersebut..
***
Kisah itu tentang seorang fisikawan yang memutuskan untuk menjadi biksu. Seperti yang kita ketahui, tidak ada biksu yang kaya... mereka terbiasa hidup apa adanya..(padahal kalau saja dia mau melanjutkan hidup sebagai fisikawan pastilah dia sudah kaya raya sekarang...)
Pada suatu ketika para biksu tersebut ingin membangun sebuah wihara untuk mereka beribadah. Akan tetapi setelah mereka sanggup membeli tanah untuk wihara, mereka jatuh bangkrut. Mereka terjerat hutang. Tidak ada bangunan diatas tanah itu, bahkan sebuah gubuk pun tidak ada. Pada minggu – minggu pertama, mereka tidur diatas pintu – pintu tua yang mereka beli murah dari pasar loak. Mereka mengganjal pintu – pintu itu dengan batu bata disetiap sudut untuk meninggikannya dari tanah (tidak ada matras – tentu saja, mereka adalah petapa hutan).
Mereka hanyalah biksu – biksu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Mereka tidak mampu membayar tukang (bahan – bahan bangunan saja sudah cukup mahal). Jadi fisikawan tersebut harus belajar cara bertukang : bagaimana menyiapkan pondasi, menyemen, dan memasang batu bata, mendirikan atap, memasang pipa – pipa (pokoknya semuanya...). Dia adalah seorang mantan fisikawan dan guru SMA sebelum menjadi biksu, tidak terbiasa bekerja kasar. Setelah beberapa tahun dia menjadi cukup terampil bertukang. Tetapi pada saat memulai, ternyata bertukang itu sangatlah sulit.
Kelihatannya gampang, membuat tembok dengan batu bata : tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana, sedikit ketok sini. Ketika dia mulai memasang batu bata, dia ketok satu sisi untuk meratakannya, tapi sisi lainnya malah jadi naik. Lalu dia ratakan sisi yang naik itu, batu batanya jadi melenceng. Setelah diratakan kembali, sisi yang pertama malah terangkat lagi !!!!
Sebagai seorang biksu, dia memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang dia butuhkan. Dia pastikan setiap batu bata terpasang dengan sempurna, tak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya dia berhasil menyelesaikan tembok batu batanya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karyanya. Saat itulah dia melihatnya... Oh tidak... dia telah keliru menyusun dua buah batu bata. Semua batu bata yang lain sudah lurus, tetapi dua batu bata tersebut tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya...
Saat itu semen sudah terlanjur keras untuk mencabut dua batu bata itu, jadi biksu itu bertanya kepada kepala wihara apakah dia boleh membongkar tembok itu dan membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu, meledakkannya sekalian. Biksu itu telah berbuat kesalahan dan dia menjadi gundah gulana. Kepala wihara bilang tidak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.
Ketika biksu tersebut membawa tamu pertamanya berkunjung mengelilingi wihara yang baru setengah jadi, dia selalu menghindarkan membawa mereka melewati tembok batu bata yang dia buat. Biksu itu tidak suka jika ada orang yang melihatnya. Lalu suatu hari, kira – kira 3 – 4 bulan setelah dia membangun tembok itu, biksu tersebut berjalan dengan seorang pengunjung dan dia melihatnya.....
”Itu tembok yang indah,” pengunjung itu berkomentar dengan santainya.
”Pak,” biksu itu menjawab dengan terkejut, ”apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan anda sedang terganggu? Tidakkah anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?”
Apa yang pengunjung itu ucapkan selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan biksu tersebut terhadap tembok itu, berkenaan dengan diri dia sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata, ”Ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga melihat 998 batu bata yang bagus.”
Biksu itu tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, dia mampu melihat batu bata - batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Di atas, dibawah, di kiri, dan di kanan dari dua bata jelek itu adalah batu bata – batu bata yang bagus, batu bata yang sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna, jauh lebih banyak daripada dua bata jelek itu. Selama ini mata biksu itu hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah dia perbuat.... dia terbutakan oleh hal - hal lainnya. Itulah sebabnya biksu tersebut tidak tahan melihat tembok itu, atau tidak rela membiarkan orang lain melihatnya juga. Itulah sebabnya dia ingin menghancurkannya. Sekarang dia dapat melihat batu bata – batu bata yang bagus, tembok itu jadi tampak tidak terlalu buruk lagi. Tembok itu menjadi, seperti yang dikatakan pengunjung tadi, ” Sebuah tembok yang indah.”
Tembok itu masih tetap berdiri sampai hari ini, setelah puluhan tahun, namun biksu itu sudah lupa dimana letak persisnya dua bata jelek itu berada. Dia benar – benar tidak dapat melihat kesalahan itu lagi.

***
Berapa banyak orang yang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua yang mereka lihat dari diri pasangannya adalah ”dua bata jelek?” Berapa banyak diantara kita yang menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri, karena semua yang kita lihat dalam diri kita hanyalah ”dua bata jelek?” Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih banyak batu bata yang bagus (diatas, dibawah, dikiri, dan dikanan dari yang jelek....) namun pada saat itu kita tidak mampu melihatnya. Malahan setiap kali kita melihatnya, mata kita hanya terfokus pada kesalahan yang kita perbuat. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira yang ada hanyalah kekeliruan semata, karena itu kita ingin menghancurkannya. Dan terkadang, sayangnya, kita benar – benar menghancurkan ”sebuah tembok yang indah”.
Kita semua memiliki ”dua buah bata jelek”, namun batu bata yang baik didalam diri kita masing – masing jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Begitu kita melihat batu bata yang baik, semua akan tampak tidak terlalu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan – kesalahan kita namun juga bisa menkmati hidup bersama pasangan kita....
Saya juga mempunyai beberapa kawan yang berprofesi sebagai tukang bangunan. Mereka memberi tahu saya tentang rahasia profesi mereka :
” Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan,” katanya, ”tetapi kami bilang kepada pelanggan kami bahwa itu adalah ”ciri unik” yang tiada duanya di rumah – rumah yang lain. Lalu kami menagih biaya extra untuk ”ciri unik” tersebut !!!”
Jadi, ”ciri unik” di rumah anda, bisa jadi, awalnya adalah sebuah kesalahan. Dengan cara yang sama, apa yang anda kira sebagai kesalahan pada diri anda, rekan anda, pasangan anda, atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah ”ciri unik”, yang memperkaya hidup anda di dunia ini, ketika anda tidak lagi terfokus padanya...

Cara Tuhan yang Ajaib (Kisah Nyata dari Andy Flores Noya)

Kisah Nyata dari Andy Flores Noya (Presenter Acara Kick Andy)

Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.
Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut. Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu. Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak. Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.
Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang "menyembunyikan" penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan – setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya. Namun ketika keadaan yang terburuk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu. Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu?
Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. "Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup," ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.
Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. "Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini." Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.
Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah.

Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena "keadaan darurat". Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya. Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain.
Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.
Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.
Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis! Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib.
Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.
Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya. Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung.
Tuhan Maha Besar.

Jumat, 04 September 2009

Kisah Bungkus Palsu Jessica Chandra

Jessica Chandra adalah anggota baru di sanggar tari. Wanita mungil itu selalu terlihat lincah dan riang. Gayanya luwes. Senyumnya ramah. Tidak banyak yang mengetahui usianya sudah berkepala tiga. Sepintas gayanya lebih mirip mahasiswi daripada seorang Ibu beranak satu.
Minggu lalu Jessica terlambat. Dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Setelah sepeda motor bututnya diparkirkan, dengan langkah tergesa-gesa Jessica langsung menuju meja resepsionis. Masih seperti biasa, senyum lebar selalu menyungging di bibirnya. Lalu dia menyodorkan kartu keanggotaan untuk diabsensi.
Jessica baru menyadari air botol minum di kantong samping ranselnya kosong. Ternyata dia lupa mengisi ulang botol minumnya karena tergesa-gesa. Jessica mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Mencari air dispenser. Dalam benaknya, disanggar tari sebesar itu pasti ada air dispenser yang disediakan untuk para member.
Dengan rasa sungkan dan ragu, Jessica bertanya kepada resepsionis apakah ia boleh meminta botol air minumnya diisi kembali. “Oh, boleh” jawab resepsionis. Dipanggillah seorang pelayan dapur
“Maaf, mbak. Saya lupa mengisi air minum, boleh tolong diisikan ?” Tanya Jessica
Jessica lalu memberikan botol minum berukuran 500 cc itu kepada pelayan dapur. Pelayan dapur agak ragu menerima botol minum tersebut. Dengan gelisah ia masih berdiri di sana, seakan-akan menunggu persetujuan dari seseorang. Jessica sedikit heran. Keengganan itu terlihat begitu jelas.
Kemudian datanglah seorang wanita paruh baya. Entah siapa dia, tapi Jessica sering melihatnya di kafe lantai bawah. Mungkin pemilik sanggar tebaknya. Jessica merasa tidak enak dengan tatapan tajam dari mata wanita itu. Pelayan dapur agak gugup menjelaskan maksudku kepada wanita tersebut.
“Mbak ini minta air minum,” kata pelayan kepada wanita tua.
Wanita tua dengan sorot tidak bersahabat berkata :
“Kenapa tidak beli saja air mineral, dek ? Kami ada menjualnya di sini.”
Jessica menangkap pesan penolakan. Dia tau wanita itu enggan mengisikan air minumnya.
“Oh, gak boleh ya. Kalo gitu gak papa kok.”
Senyum Jessica sedikit agak dipaksa. Dia mengambil kembali botol minumnya dari tangan pelayan dapur dan segera bergegas melangkah ke lantai dua. Meski sedikit kecewa, Jessica menghibur diri bahwa dia tidak akan mati dehidrasi saat latihan.
Sementara di lantai bawah, masih terdengar debat kecil antara wanita tua itu dengan resepsionis. Jessica tidak lagi memperdulikan. Dia hanya ingin latihan hari itu segera usai.

***
Hari berikutnya, Jessica masih rutin mengikuti latihan seperti biasanya. Meski ada rasa tidak enak, Jessica tetap santun menundukkan kepalanya sambil tersenyum kepada wanita tua itu ketika menyapanya. Jessica sama sekali tidak pernah menceritakan kejadian itu pada siapapun. Yang pasti sejak itu, Jessica sangat memperhatikan botol air minumnya.
***
Suatu sore, Jessica tidak mengendarai sepeda motor bututnya. Suaminya berjanji akan menjemputnya. Hujan mengguyur deras sekali. Usai latihan, Jessica segera turun. Dia melihat hidangan mie goreng dan nasi goreng di meja. Malam itu adalah perayaan tahun pertama berdirinya sanggar tari. Wanita tua itu terlihat sibuk melayani para member lainnya.
Mengajak mereka makan. Banyak yang menolak halus, mungkin takut gemuk, mungkin juga ingin segera pulang. Jessica pun menolak halus ketika ditawarkan. Makan terburu-buru bukan kebiasaannya. Lagipula, dia tidak ingin suaminya menunggu lama.
Jessica mengecek HPnya. Ternyata sms dari suaminya mengabari terlambat menjemput. Jessica masih berdiri di luar dan menunggu di sana. Tiba-tiba wanita tua itu telah di sampingnya.
“Kamu lagi menunggu seseorang ?”
“Iya. Suamiku”
“Suami ? Saya pikir kamu masih mahasiswi.”
Jessica tertawa. “Aku sudah 35 tahun.”
“Menikah muda ya ?”
“28”.
Jessica tidak tau pasti apakah umur segitu termasuk menikah muda.
“Bukankah kamu yang biasanya mengendarai sepeda motor ?” tanya lagi wanita itu
Tentu saja mudah dikenali. Karena Jessica satu-satunya wanita yang
mengendarai sepeda motor ke sanggar. Kebanyakan member yang lain mengendarai mobil, sebagian lagi didrop oleh supir.
“Iya. Hari ini dijemput suami, jadi aku gak bawa motor.”
“Oh, itu dia jemputanku” Jessica menunjuk pada sebuah mobil Mercedes hitam mengkilap seri terbaru yang berhenti pas di tempatnya menunggu.
“Bukankah Itu mobil Bapak Ardiansyah ?” tanya wanita tua penuh rasa penasaran.
“Yah, Ardiansyah adalah suamiku.”

Wanita itu terkejut. Tatapannya masih tidak percaya ketika melihat Jessica melambaikan tangan dan menembus hujan masuk ke dalam mobil.
Mobil itu telah lama berlalu, tapi wanita tua masih berdiri sana, melongo.
Ketika memori membawanya kembali pada kejadian air minum itu, rasa malu menghantam keras hatinya. Tiba-tiba dunia terasa gelap.
Ardiansyah !
Dia adalah sponsor utama yang selalu mendukung kegiatan sanggar tarinya.
“Oh, tidak …”

Moral Story :
Sahabat, Kita sering menganggap diri kita adalah orang baik. Tapi ketika kita dihadapkan pada bungkus luar dari apa yang mereka pakai, dari kendaraan yang digunakan, begitu gampangnya sikap hati kita berubah.
Bila ‘bungkus luar’ itu bagus, kita cenderung ‘mengangkat tinggi-tinggi’ orang tersebut. Sebaliknya bila ‘bungkus luar’ jelek, kita lalu menjengkalnya, menyepelekan mereka. Senyum kita jadi palsu. Kebaikan hati kita jadi basa-basi.
Hendaknya di dalam pelayanan, kita juga tidak memandang 'bungkus luar' dari tiap-tiap orang.

Selasa, 01 September 2009

7 Tipe Jawara Bisnis

Paulus Bambang W.S. pernah menulis dalam Warta Ekonomi bahwa ada 7 Tipe Jawara Bisnis. Berikut ini kutipan selengkapnya.
Banyak yang terkejut ketika Keluarga Sampoerna, dimotori oleh Putera dan Michael Sampoerna, melepas saham yang selama ini menjadi ikon dan identitas mereka, yakni PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP). Tak ada rumor yang mampu dibaca oleh analis, pemegang saham, dan karyawan. Sebuah transaksi yang, menurut banyak pihak, nyaris tak terdengar. Ketika rahasia itu terungkap, banyak kalangan yang kaget dan bertanya, mengapa dan apa apa?

Padahal, dalam konteks lain yang tak sebesar HMSP, banyak pengusaha yang melakukan terobosan nyaris sama. T.P. Rachmat, mantan petinggi Astra, melepas ikon Adira Finance (“Adira” sing katan dari Adi Rachmat, nama ayah beliau) ke Grup Danamon, dan Adira Mobil ke partner eksekutifnya, Stanley Atmadja. Saya belum tahu apakah Danamon akan mengubah brand Adira. Namun, tampaknya Stanley sudah siap dengan ikon baru, mengubah Adira Mobil menjadi ASCO (Atmadja Stanley Company). Di sini T.P. Rachmat rela melepas ikon untuk ganti haluan menekuni bisnis pertambangan.

Hiruk pikuk ganti haluan dan “ganti baju” memang lebih semarak dalam beberapa tahun belakangan. Nah, kalau ditelusuri, meminjam istilah Jim Collins dalam bukunya Good to Great, pemimpin yang berani melakukan lompatan adalah pemimpin yang berkarakter good to great. Jim menulisnya sebagai professional will number 2 yang mantranya berbunyi: “demonstrates an unwavering resolve to do whatever must be done to produce the best long-term result, no matter how difficult”. Berarti gaya Putera dan Michael, serta T.P. Rachmat, sudah bisa disejajarkan dengan pemimpin dunia pengelola Abbot, Circuit City, Fannie Mae, Gillette, Kimberly-Clark, Kroger, Nucor, Philip Morris, Pitney Bowes, Walgreens, dan Wells Fargo.

Tujuh Tipe Jawara Bisnis
Mengamati kiprah dua tokoh bisnis di Indonesia tersebut, dan melakukan studi lanjut atas karya Jim Collins, Noel Tichy, Warren Bennis, dan Daniel Coleman, saya membuat rumusan tipe dan karak ter pemimpin bisnis dengan gaya dan triknya yang sangat berbeda, yang akan membawa perusahaannya searah dengan karakternya.

Pertama, saya sebut sebagai tokoh berkarakter PEMIMPI (The DREAMER). Pemimpi ini bukan pengkhayal. Pemimpi ini adalah pemim pin yang berkarakter kuat mencari misi dan visi yang baru, menco ba menghidupi misi dan visi yang dipikirkannya, dan berusaha sekuat tenaga mewujudkannya. Dalam bahasa warna, saya simbolkan sebagai pemimpin yang berdarah MERAH (RED BLOOD LEADER), yang berarti berani bertualang dalam dunia ide dan konsep untuk mene lurkan gagasan baru yang belum dipikirkan sebelumnya.

Kedua, tipe jawara kelas PERANCANG (The ARCHITECT). Kelas ini merupakan pemimpin yang berkarakter yang bisa menerjemahkan mimpi menjadi cetak biru yang solid dan lengkap. Mampu merangkai sistem dan infrastruktur serta tahapan pembangunan kampiun bisnis yang akan dikerjakan. Hasilnya sebuah rancang bangun dan rancang sistem yang sangat integrated dan mampu dijadikan competitive edge yang mumpuni. Simbolisasi warnanya adalah si JINGGA (ORANGE JUICE LEADER) yang melambangkan gairah yang meluap untuk mencipta sebuah karya yang membahana.

Ketiga, tipe pemimpin yang mampu membangun secara kokoh apa yang telah dirancang dengan teliti. Kadang menggunakan pendekatan preman atau buldoser, dan kadang harus keras mengangkat batu karang dengan gaya EXCAVATOR, dan sering pula dengan sentuhan lembut tangan malaikatnya Maradona. Ini jenis pekerja keras karena meletakkan fondasi bisnis agar bisa kokoh bertahan sampai beberapa generasi. Tipe ketiga ini saya sebut sebagai PEMBANGUN (The BUILDER) dengan warna KUNING (YELLOW BIRD) yang melambang kan kerja keras dan pantang menyerah, tetapi masih mempertahankan aspek kehati-hatian yang terkalkulasi secara baik.

Keempat, saat perusahaan sudah melaju pesat dan persaingan mulai ketat, diperlukan pemimpin yang mau mempertajam business model dan business process agar tetap unggul dalam persaingan. Pembenahan sistem dan jaringan bisnis mulai dipertajam dan diper kuat. Segala jenis strategic initiatives macam CRM, SCM, MCM, PLM, dan TCM mulai dicanangkan. Pemimpin yang mampu melakukan penajaman sisi operasional dan struktural bisnis ini saya pang gil sebagai The SHAPER (PENAJAM), bukan penujum yang mengandalkan hoki untuk memenangkan persaingan. Warna yang saya alokasikan bagi The SHAPER adalah HIJAU (GREEN FIELD). Artinya, mampu memba wa pertumbuhan dengan kesehatan bisnis yang baik. Hijau melam bangkan kesuburan dan ketatalaksanaan yang rapi dan teratur. Hijau bukan menakutkan, melainkan membawa kedamaian dan kesegaran karena sistem akan tertata dengan manis.

Kelima, ini yang paling menyenangkan. Setelah pohon mulai tumbuh subur, berbunga, dan berbuah lebat, diperlukan seorang PENUAI (The HARVESTER) yang cakap, yang tahu mana yang harus dituai, mana yang harus dibuang, dan mana yang harus ditunggu. Penuai yang baik tahu kapan waktu menuai dan menanam kembali agar bisa menghasilkan pohon untuk generasi berikutnya. Ini bagaikan kelompok bangsawan dan kesatria yang berdarah BIRU (BLUE OCEAN) yang secara aristokrat mampu memilah buah baik dan mempertahankan pohon agar tetap baik. Bukan asal tebang, melainkan tebang pilih dengan gaya Richard Branson pemilik Virgin.

Keenam, setelah masa berbuah yang sangat lebat, timbul para doks yang harus dihadapi. Apakah mempertahankan pohon bisnis yang ada, atau melakukan S Curve kedua agar tidak tua dan melambat pertumbuhannya, atau harus mengganti pokok pohon dengan tanaman baru yang bisa menghasilkan buah lebih baik. Ini karakter seorang The REINVENTER (PEMBARU). Ini tipe sangat langka, kurang dari 2% pemimpin mempunyai keberanian seperti itu. Putera Sampoerna dan T.P. Rachmat adalah contoh pemimpin yang setidaknya berani mengambil langkah yang bagi banyak pihak diang gap sebagai judi. Dalam bahasa perlambang, saya sebut sebagai pemimpin berwarna NILA (INDIGO), karena keberanian menitikkan nila di tengah susu sebelanga. Kalau berhasil, ia akan dipuja bak dewa. Sebaliknya, kalau gagal, ia akan dihujat bak pengkhianat yang tak termaafkan. Nila akan berbuah jadi mahkota, atau merusak susu sebelanga, adalah taruhan bagi pembaru macam begini.

Ketujuh, kalau tidak berani melakukan rombakan mendasar tetapi memilih S Curve kedua dengan kaizen, maka yang diperlukan adalah pemimpin yang berfungsi sebagai The OPERATOR (PELAKSANA), yang menjaga agar pohon bisnis tetap berbuah walau pohon sudah pada tahap matang (mature) dan mengarah ke penurunan (declicing phase). Warna yang cocok untuk sang OPERATOR adalah SUTRA UNGU (VIOLET SILK), lambang kemegahan sekaligus warna kematian, lam bang kemegahan sekaligus duka cita. Bak kabut sutra ungu.

Semua pemimpin setidaknya memiliki seluruh aspek dalam tujuh karakter tersebut, tetapi ada satu yang menonjol dalam dirinya. Ini akan jelas terlihat dalam trik dan strateginya pada saat memimpin, apalagi dalam menghadapi bahaya dan tantangan. Bahwa ada yang memiliki split personality, itu lumrah saja. Namun, dalam menghadapi krisis, akan ketahuan belang karakter mereka. Carly akan tampil sebagai seorang Carly Fiorina tatkala harus berhadapan dengan BOD-nya Hewlett-Packard. Dan ia rela dipecat, karena ia bukanlah tipe operator seperti yang diharapkan BOD-nya. Karakter ini bisa digunakan pula untuk menyusun the best team dalam perusahaan Anda.

Resume 7 Tipe Jawara Bisnis :
Jawara #1 : Sang Pemimpi (The Dreamer / Red Blood Leader)
Jawara #2 : Sang Perancang (The Architect / Orange Juice Leader)
Jawara #3 : Sang Pembangun (The Builder / Yellow Bird/Yellow Lamp)
Jawara #4 : Sang Penajam (The Sharper / Green Field)
Jawara #5 : Sang Penuai (The Harvester / Blue Ocean)
Jawara #6 : Sang Pembaharu (The Reinverter / Indigo)
Jawara #7 : Sang Pelaksana (The Operator / Violet Silk)

Anda bisa membaca selengkapnya pada masing-masing artikel di blog saya ini.

7 Tipe Hati Pemimpin

Paulus Bambang W.S., mantan direktur PT Astra Graphia yang sekarang menjabat sebagai vice president director PT United Tractors Tbk, punya gagasan menarik soal hati dan karakter pemimpin.
Dalam buku bertajuk Lead to Bless Leader (Mei, 2009), yang dihadiahkannya kepada komunitas pemimpin di Indonesia, ia memaparkan hasil pengamatannya tentang tujuh karakter dan hati pemimpin. Ketujuh karakter ini sangat memengaruhi gaya kepemimpinan dan perlakuan seorang pemimpin terhadap karyawan.

#1 Pemimpin Berhati Penjajah
Dia memosisikan karyawan sebagai budak tanpa nilai dan hak. Memberi pekerjaan kepada karyawan dianggap sebagai kebaikan hati yang tak terbalaskan. Dia menganggap dirinya raja besar sehingga pantas untuk menerima loyalitas absolut dari karyawan, termasuk kehidupan pribadi mereka. Dalam konteks karyawan sebagai sumber daya, dia menganggap karyawan adalah daya, bukan sumber daya, apalagi manusia.

#2 Pemimpin Berhati Penyamun
Dia memosisikan karyawan sebagai buruh yang hanya memiliki sedikit hak tetapi menanggung segudang kewajiban. Hak karyawan diberi dalam konteks normatif minimal. Kewajiban dituntut secara posesif maksimal. Karyawan dianggap sebagai daya dengan sedikit sumber yang mudah dicari penggantinya.

#3 Pemimpin Berhati Pengawas
Dia memosisikan karyawan sebagai sumber daya, disamping modal finansial dan mesin, yang cukup penting untuk merealisasikan hasil produksi barang dan jasa. Dia harus dikelola secara cermat dan diberi program pelatihan dan pengembangan agar menjadi sumber daya dengan kualitas tinggi.

#4 Pemimpin Berhati Petani
Dia memosisikan karyawan sebagai sumber daya manusia. Dia menyeimbangkan antara kebutuhan karyawan sebagai sumber daya dan sebagai manusia. Dia juga memikirkan aspek kebutuhan manusia yang amat berbeda dengan sumber daya nonmanusia.

#5 Pemimpin Berhati Penggembala
Dia sudah memiliki kecenderungan pada sisi manusia, bukan pada sisi sumber daya. Dia menganggap karyawan sebagai makhluk hidup sesama ciptaan Tuhan yang patut diberdayakan sesuai dengan kodrat ilahinya.

#6 Pemimpin Berhati Pelayan
Dia justru melihat karyawan sebagai subjek yang perlu dilayani; bukan subjek yang harus melayani pemimpinnya. Dia melihat struktur organisasi sebagai piramida terbalik, yang menganggap pimpinan harus mendukung karyawan agar mampu berprestasi sebaiknya untuk melayani pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya. Prinsip segitiga terbalik inilah yang membuat sisi kemanusiaan karyawan menjadi lebih bermakna, dia sebagai pekerja, anggota keluarga dan masyarakat yang harus dipenuhi kebutuhannya secara simultan.

#7 Pemimpin Berhati Parent atau Orangtua
Dia melihat karyawan sebagai anak yang harus dibesarkan, dididik, dan dikembangkan agar dapat mewarisi kepiawaian yang dimilikinya, dan kursi kepemimpinan yang didudukinya saat ini. Karyawan tidak diperlakukan sebagai orang lain, tetapi sebagai anggota keluarga yang harus dibina secara harmonis dengan memperlihatkan unsur perasaan yang jauh lebih mendalam dari sekadar intelektual. Secara lebih menyeluruh, Paulus Bambang mencoba memberikan gambaran mengenai sosok tujuh karakter pemimpin sesuai dengan hati mereka masing-masing.

Dia menyorotinya dari lima aspek penting: fokus pada sumber daya manusia; cara pandang terhadap hak bawahan; pola instruksi; penghargaan atas kinerja karyawan; dan bagaimana terminasi hubungan alias pemutusan hubungan kerja. Hasil pengamatan di atas menarik.
Pertama, karena pengamatnya adalah seorang praktisi yang berkecimpung secara tungkus lumus di bidang bisnis dan aktif dalam organisasi sosial keagamaan. Pengalaman lebih dari 25 tahun bekerja dari posisi bawah sampai ke posisi puncak organisasi, tentu memberi bobot terhadap pengamatan tersebut.
Kedua, karena Paulus Bambang berkiprah di sebuah konglomerasi yang acapkali masuk dalam jajaran organisasi terbaik negeri ini. Astra Graphia dan United Tractors Tbk, kita tahu, merupakan bagian dari kelompok besar Astra International yang sejak awal perintisannya oleh William Soerdjajaya sangat menekankan pentingnya budaya yang bertumpu pada nilai-nilai luhur.
Ketiga, karena hasil pengamatan itu selintas saja dapat kita rasakan "kebenarannya", dalam arti memang ada pemimpin-pemimpin yang menunjukkan karakter seperti penjajah, penyamun, dan pengawas.
Sejumlah kasus perseteruan antara manajemen puncak perusahaan dan organisasi serikat buruh tertentu-mengenai upah minimum regional, misalnya-membuktikan bagaimana pandangan dasar pengusaha (pemimpin) terhadap hak-hak dasar pekerja.
Keempat, karena hasil pengamatan itu merupakan gagasan anak bangsa sendiri. Bukan hasil kutipan dari studi yang menggunakan kaca mata dunia Barat yang konteks budaya dan nilai-nilainya tidak selalu cocok dengan negeri ini.
Kelima, karena pengamatan tersebut segera saja menyadarkan kita bahwa di negeri yang sudah merdeka selama 64 tahun ini, lebih mudah menemukan contoh pemimpin berhati penjajah, penyamun, dan pengawas, ketimbang pemimpin berhati petani, penggembala, pelayan, apalagi parent atau Ayah.
Mudah-mudahan segera datang pemimpin-pemimpin baru yang telah mengalahkan hasrat penjajah, penyamun, dan pengawas dalam dirinya, dan berhasil membangun karakter-karakter yang lebih baik, sebagai petani, penggembala, pelayan, dan parent atau ayah. Salam Merdeka!
Bukankah lebih indah memberi dari pada menerima… Be blessed n be greatful to you all.
Disadur dari : Andrias Harefa, Penggagas Visi Indonesia 2045

Pit Stop untuk Mengisi Energi

Michael Schumacher menjadi juara dunia Formula One (F1) tujuh kali. Ia mampu memacu mobil balapnya dengan kecepatan di atas 300 km/jam, menyelesaikan puluhan lap dalam waktu yang amat cepat. Ada satu hal yang selalu ia lakukan saat berlomba, yaitu melakukan pit stop. Di pit stop itu, ia berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar, mengganti ban yang aus, dan memeriksa peralatan mobilnya. Sesaat kemudian ia pun melanjutkan lomba.
Sejarah mencatat, dalam F1 strategi pit stop tidak jarang menjadi penentu. Perhentian sesaat di pit stop itu bisa mengantar seorang pembalap meraih kemenangan. Mirip dengan kehidupan kita. Setiap hari kita menjalani berbagai aktivitas dan kerap terjebak dalam rutinitas. Tujuh hari dalam seminggu kita memacu diri kita dengan berbagai kesibukan pekerjaan, mungkin ditambah juga dengan pelayanan di gereja atau aktivitas di tempat lain. Sehingga saking sibuknya sampai-sampai kita pun kerap kali lupa hal yang sangat penting, yaitu "berhenti" sejenak.
Dalam bacaan kita, Tuhan Yesus mengetahui kelelahan para murid-Nya setelah melayani orang banyak. Dia pun lalu mengajak mereka beristirahat, menarik diri dari kesibukan. Ada saat di mana kita harus sejenak berhenti. Mengambil jeda dari kebisingan hidup. Sejenak menarik diri dari hiruk pikuk rutinitas.

Mengistirahatkan bukan hanya tubuh, tetapi juga hati dan pikiran. Saat di mana kita memeriksa dan mengasah diri. Ibarat me-recharge baterai kehidupan kita. Untuk kemudian bersiap melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi.

Selasa, 19 Mei 2009

Investasi Leher ke Atas untuk Menghadapi Perubahan

Sebuah artikel dari Tung Desem Waringin University.
Hidup ini penuh perubahan yang abadi hanyalah Tuhan, perubahan itu sendiri dan hukum alam. Cara Mencari uang pun dari jaman ke jaman terus berubah. Sekarang banyak muncul jutawan (dalam US$) baru dari Internet, dari bisnis-bisnis yang belum pernah terdengar sebelumnya.
Dan tidak sedikit orang kaya yang jatuh miskin, atau bahkan orang miskin yang bertambah miskin , karena mereka tidak mau belajar lagi untuk menghadapi perubahan . Dan terus mencari uang dengan cara yang lama , tidak mau berhenti untuk belajar lagi tren saat ini.
Pernahkah Anda mendengar kata Benjamin Franklin ? Beliau adalah ilmuan yang sangat dihormati oleh Amerika karena peletak hak-hak asasi manusia dan deklarasi kemerdekaan di Amerika, sehingga gambarnya ada si uang $100 yang merupakan pecahan terbesar di US. Benjamin Franklin pernah mengungkapkan bahwa setiap dollar yang diinvestasikan untuk kepala (belajar lagi), dalam pikiran akan kembali miliaran dollar dalam kantong kita.
Itulah mengapa saya terus belajar di singapore sampai US dan terus berinvestasi untuk leher ke atas, karena saya yakin akan menambah income saya. Ketika saya belajar dari yang sukses, maka saya yakin akan sukses.
Pertanyaan Saya, mana yang lebih menghasilkan leher keatas atau leher kebawah ? Banyak orang didunia ini lebih senang menggunakan uangnya untuk kepentingan leher kebawah, yakni membeli pakaian baru, mobil baru yang tidak akan bisa menambah kekayaan mereka. Sedangkan jika mereka berani berinvestasi pada leher keatas, ke pembelajaran tentang property, bisnis, saham dan internet , mereka bisa melipatgandakan kekayaan mereka
Tahukah Anda apabila Anda menjumlahkan penghasilan dari 5 orang terdekat Anda dan Anda bagi 5, maka itulah jumlah penghasilan Anda. Tanpa Anda sadari pola berpikir teman-teman Anda tentang uang akan mempengaruhi Anda, sedemikian sehingga Anda akan menjadi sama dengan mereka. Bagaimana jika teman Anda tersebut bukanlah seorang miliarder atau multi miliarder ? Tentunya gaya pemikiran mereka adalah cara berpikir ala seorang jutawan.
Saya bukan melarang Anda bergaul dengan orang miskin, Saya pun bergaul dengan siapapun. Tapi saat berbicara soal mindset tentang uang, pastikan Anda bergaul, sharing dan belajar dengan orang yang tepat
Dan tahukah Anda bagaimana cara berpindah dari gelombang orang miskin menjadi gelombang orang kaya? Caranya ada 2 :
1. Bergaul dgn orang kaya
2. Belajar dan terus belajar

Org kaya terus belajar dan tumbuh, contohnya saya sangat kagum dengan pak Lukminto yg punya Sritex di solo luas pabriknya saja 100 hektar dan merupakan produsen pakaian militer terbesar didunia. Bahkan rumahnya diresmikan oleh dua presiden, yaitu Bu Megawati dan Pak SBY. Pak Lukminto ini saja ingin terus belajar dan belajar, bahkan mengundang saya untuk bicara di pabrik beliau. Begitu juga dengan pak Teguh Kinarto di Surabaya yang punya perusahaan properti, beliau terus belajar supaya anaknya juga terinspirasi untuk terus belajar.
Saya tahu orang miskin merasa selalu tahu segalanya, tidak mau belajar dan selalu punya seribu satu alasan untuk tidak belajar yg akhirnya membuat mereka tidak belajar dan takut berinvestasi. Dan itulah sebabnya mengapa mereka terus miskin, karena tidak dapat melihat peluang , mengalokasikan uangnya, dan berinvestasi dengan baik.
Sedangkan orang kaya selalu ingin terus belajar, bahkan tidak peduli terhadap siapa pun yg mempunyai ide lebih baik daripada dia. Mereka berani membayar untuk belajar, mentraktir orang yang jauh lebih kaya untuk belajar ilmunya. Oleh karena itu dia bertambah kaya karena mengerti pola orang kaya.
Karena itu saya terus mengalokasikan uang, tenaga, pikiran, waktu untuk rutin terus belajar ilmu-ilmu yg terbaik, sehingga saya yakin pasti kaya, sudah kaya dan akan terus luangkan waktu, tenaga, uang, pikiran untuk belajar bisnis, properti, saham, internet dan akan terus belajar apapun yang dapat membuat saya menjadi lebih kaya. Ini adalah pemikiran Trilyuner saya.

TDW University - Think Out of The Box

Sebuah artikel dari Tung Desem Waringin University.

Di dunia saat ini dengan persaingan bisnis yang sangat kompetitif, ada baiknya kita untuk selalu belajar Think Out of The Box, karena dibanding Anda bertarung di red ocean (market yang banyak sekali player bermain disana) , Anda bisa bermain untuk tetap mendapatkan profit dengan bermain di luar kotak.

Sebagai contoh Pada Zaman Wild-Wild-West, terjadi trend mengali emas dan tiba-tiba semua orang pergi ke barat untuk mencari emas, tetapi tahukah Anda siapa yang paling kaya?
Yang menggali emas ? BUKAN

Ternyata yang paling kaya adalah YANG JUAL JEANS (LEVI’S), YANG JUAL SEKOP kenapa? karena disaat semua ikut-ikutan menggali emas, mereka tiba-tiba mempunyai kebutuhan yang sama yaitu celana jeans dan sekop. Jadi pada saat itu orang-orang yang dapat melihat peluang bisnis tersebut, akan menjual jeans atau sekop karena mereka tidak ikut-ikutan mencari emas tapi fokus apa yang akan banyak di cari saat trend emas itu terjadi.

Ketika ada trend yang semua orang suka olah raga lari, kita jual apa supaya larinya lebih cepat?

JUALIN SEPATU , JUAL KAOS OLAHRAGA

Ada bisnis sampingan yang bisa anda sediakan saat semua orang lari menuju trendnya, apalagi kalau Anda sendirian

Waktu dulu, di indonesia ada musim ternak jangkrik, Anda bisa jadi konsultan bisnis jangkrik, jual pakan jangkrik, tidak perlu ikut-ikutan ternak jangkrik.

Saat ada bisnis yang trend,harus pintar mencari sampingannya apa saja. Bukan hanya memiliki pemikiran yang terpaku pada 1 hal saja. Untuk itulah Anda harus belajar Think Out of The Box.

Untuk melatih hal ini Anda bisa meningkatkan kreativitas Anda, tetapi kecenderungan banyak orang tidak cukup kreatif sehingga bermain ditempat yang sama , dan berakhir dengan perang harga dan mulai saling menjelekkan. Hal yang lain , yang bisa Anda lakukan untuk melatih Think Out of The Box ini adalah dengan cara memiliki seorang mentor yang bisa melatih Anda kapanpun yang Anda inginkan dan komunitas yang bisa saling membantu Anda untuk semakin kreatif melihat peluang bisnis.

Dan hal lainnya adalah untuk melatih Anda menjadi lebih aware akan peluang-peluang seperti ini adalah dengan cara terus belajar dan open mind , mau belajar kepada siapapun yang lebih baik.

Motivasi dan Kepemimpinan : Kualitas Kepemimpinan Sejati

Motivasi adalah perpaduan antara keinginan dan energi untuk mencapai tujuan tertentu. Memengaruhi motivasi seseorang berarti membuat orang tersebut melakukan apa yang kita inginkan. Karena fungsi utama dari kepemimpinan adalah untuk memimpin, maka kemampuan untuk memengaruhi orang adalah hal yang penting.

Prinsip Dasar Motivasi
Penelitian Kenneth Gangel, dalam bukunya "Competent to Lead", menunjukkan bahwa orang tidak termotivasi untuk bekerja lebih baik, karena dia mendapat gaji yang lebih tinggi atau tunjangan yang lebih banyak.
Motivasi adalah suatu fenomena psikologis, sehingga kita perlu mengetahui pendapat dari para psikolog. Mungo Miller, pimpinan Affiliated Psychological Services, mencetuskan enam prinsip umum motivasi sebagaimana di bawah ini :
  1. Motivasi adalah proses psikologis, atau lebih tepatnya proses emosional, bukan logis.
  2. Motivasi pada dasarnya adalah proses yang tidak kita sadari. Tindakan yang kita atau orang lain lakukan mungkin saja tampak tidak logis, namun bagi orang yang melakukannya, tindakannya tampak wajar dan masuk akal.
  3. Motivasi bersifat individual. Tingkah laku seseorang bersumber dari dirinya sendiri.
  4. Motivasi tiap orang berbeda, begitu juga setiap individu bervariasi dari waktu ke waktu.
  5. Motivasi adalah proses sosial. Tak dapat diingkari, bahwa terpenuhi atau tidaknya kebutuhan kita tergantung dari orang lain.

Dalam tindakan sehari-hari, kita dipandu oleh kebiasaan yang bersumber dari motivasional di masa lalu.

Pendorong Motivasi
Motivasi seseorang sering kali dipengaruhi oleh dua hal berikut :

  1. Seberapa mendesaknya suatu kebutuhan. Misalnya, kita merasa lapar, namun harus menyelesaikan satu tugas dengan segera. Kalau kita merasa sangat lapar, kita akan makan. Tapi bila kita hanya sedikit merasa lapar, kita akan memilih untuk menyelesaikan tugas.
  2. Anggapan bahwa suatu tindakan akan memenuhi suatu kebutuhan. Misalnya, ada dua kebutuhan yang mendesak - keinginan untuk menyelesaikan tugas atau makan. Persepsi tentang bagaimana kita memandang dua kebutuhan tersebut sangat menentukan mana yang akan diprioritaskan. Kalau kita berpikir bahwa kita bisa dipecat karena tugas tidak selesai, kita akan mengorbankan waktu makan siang untuk mengerjakannya. Sebaliknya, jika kita merasa tidak akan mendapat masalah walaupun pekerjaan itu tidak selesai, kita akan pergi untuk makan siang.

Orang dapat termotivasi karena kepercayaan, nilai, minat, rasa takut, dan sebagainya. Diantaranya adalah faktor internal seperti kebutuhan, minat, dan kepercayaan. Faktor lainnya adalah faktor eksternal, misalnya bahaya, lingkungan, atau tekanan dari orang yang dikasihi. Tak ada proses yang mudah dalam motivasi -- kita harus selalu terbuka dalam memandang orang lain.

Menjadi Motivator yang Baik
Adalah penting bagi seorang pemimpin untuk mengetahui bagaimana cara memotivasi karyawannya. MM Feinberg menjabarkan beberapa tindakan yang tidak memotivasi orang lain :

  1. Meremehkan bawahan. Tindakan ini bisa membunuh rasa percaya diri dan inisiatif karyawan.
  2. Mengkritik karyawan di depan karyawan lain. Tindakan ini pun bisa merusak hubungan yang sudah terbina baik.
  3. Memberi perhatian setengah-setengah atau tidak memerhatikan karyawan. Kalau seorang pemimpin tidak memedulikan karyawannya, maka rasa percaya dirinya akan luntur.
  4. Memerhatikan diri sendiri. Pemimpin yang seperti ini dianggap egois dan hanya memanipulasi karyawan untuk kepentingannya sendiri.
  5. Menganak emaskan seorang karyawan. Tindakan ini sebaiknya juga tidak dilakukan, karena bisa merusak moral karyawan lain.
  6. Tidak mendorong karyawan untuk berkembang. Kalau karyawan merasa bahwa bos juga ikut berjuang bersama, mereka akan sangat termotivasi. Informasikan kesempatan yang ada dan jangan pernah mengekang minat para karyawan.
  7. Tidak memedulikan hal-hal kecil. Apa yang nampaknya kecil bagi Anda, mungkin saja sangat penting untuk karyawan.
  8. Merendahkan karyawan yang kurang terampil. Seorang pemimpin memang wajib menolerir ketidakmampuan karyawannya, namun harus hati-hati dalam menangani permasalahan yang ditimbulkan agar tidak sampai mempermalukan karyawannya.
  9. Ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Atasan yang ragu-ragu mengakibatkan kebimbangan di seluruh organisasi.

Sesungguhnya, cara yang paling baik untuk memotivasi karyawan adalah melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Saran, rekomendasi, dan kritik adalah pendorong yang paling efektif dan sangat memotivasi organisasi yang berani menerapkannya.

The Power of Character (Kekuatan dari Karakter)

Disadur dari : Jakoep Ezra, MBA, CBA - Character Specialist dan founder dari Power Character

Mari sediakan waktu beberapa menit dan mengambil makna dari cerita ini. Seorang anak lelaki berusia 12 tahun, menjual Koran di jalan. Dia menawarkan Koran-koran tersebut pada setiap mobil yang berhenti di lampu merah. Dengan wajahnya yang polos, ia mengetuk jendela mobil saya. Saya menatap dia sebentar dan hati saya tergerak, yang pada akhirnya saya membeli korannya walaupun saya tidak membutuhkannya.
“Dua ribu lima ratus rupiah, pak”. Kata anak tersebut. Saya mencari uang yang lebih kecil kembaliannya tetapi tidak dapat saya temukan. Saya memberikan padanya sepuluh ribu rupiah.
Saya tidak mempunya kembaliannya saat ini pak”. Respon dari si anak.
Lampu sudah berubah ke hijau, mobil saya harus jalan. “Kalau begitu saya akan ambil kembaliannya besok”, kata saya kepada anak tersebut ketika mobil saya mulai berjalan. Pikiran-pikiran negatif menyeruak di dalam diri saya. Bagaimana jika saya tidak melihat anak kecil tersebut lagi di jalan yang sama keesokan harinya? Karena uang tersebut bukan dalam jumlah yang besar, maka saya dengan cepat melupakannya.
Hari berikutnya, saya melewati jalan yang sama. Dari kejauhan, saya dapat melihat anak kecil tersebut. “Ini uang kembalian bapak” anak kecil tersebut memberikan uangnya.
Jujur saja, saya tertegun dengan karakter anak ini, walaupun ia mempunyai kesempatan untuk menghilang tetapi ia memilih untuk dapat dipercaya. Saya kagum padanya karena di tengah-tengah krisis kepercayaan di sekitar kita, masih ada anak-anak dengan karakter yang tulus dan keinginan yang kuat untuk bekerja keras demi masa depan mereka.



Kenapa karakter begitu penting ?

Karena dengan karakter kita dapat menemukan:
1. Kualitas dari kehidupan
2. Nilai dari kehidupan
3. Benih dari kesuksesan
4. Sikap mental yang terlatih menghadapi tantangan
5. Kekuatan dalam diri untuk bertahan dan menang
6. Hikmah dari kegagalan dan sukses
7. Ketulusan dari dalam hati
8. Filosofi sebagai prinsip untuk bertindak sportif
9. Pengembangan mental yang kokoh
10. Hubungan erat yang terbentuk antara kita dengan Tuhan.

Karakter adalah Kualitas dari Kehidupan
Kualitas dari kehidupan bukan berarti seseorang harus sukses, kaya, pintar atau mempunyai status yang baik. Kualitas dari kehidupan didasarkan oleh karakter yang kuat. Karakter digunakan sebagai dasar atau prioritas dalam hidup.
Seseorang tidak akan mempunyai sesuatu yang dapat dibanggakan, tetapi jika ia menempatkan karakter sebagai dasar, kita dapat mengatakan bahwa kehidupan ia akan jauh lebih bersinar dibandingkan dengan individu lain yang melakukan hal sebaliknya.


Karakter seseorang akan terlihat ketika dia berada dalam situasi:
1. Tekanan
2. Tantangan
3. Masalah-masalah
4. Pencobaan
5. Kesulitan


Kepribadian adalah sebuah jalan kehidupan atau etika kehidupan yang dapat terlihat atau dirasakan oleh orang lain yang berada di sekitar individu tersebut. Kepribadian tidak dapat menggambarkan karakter sebenarnya dari individu. Kualitas kepribadian dapat memimpin seseorang menjadi sukses tetapi hanya kualitas karakter yang dapat membuat seseorang tetap berada di atas kesuksesannya.

Bagaimana orang lain melihat kita ?




Orang lain melihat dan menilai kita dari:
1. Cara kita berpakaian
2. Cara kita berjalan
3. Cara kita berbicara
4. Cara kita melihat
5. Cara kita duduk
6. Cara kita makan dan minum
7. Cara kita bekerja
8. Cara kita berjabat tangan
9. Cara kita menata rambut
10. Dari keseluruhan penampilan kita

Semua poin di atas adalah kondisi fisik yang dapat terlihat dari luar dan semuanya dapat diatur atau mungkin dikamuflase.

Memanipulasi Diri melalui Penampilan Luar
Kita sering mengatakan penampilan seseorang adalah etika dari orang tersebut, yang dapat menempatkan diri dengan baik di setiap situasi. Dapat dikatakan orang ini adalah individu yang beretika.
Bagaimanapun ketika, orang yang beretika tidak lagi mementingkan kualitas karakter kehidupan yang baik, maka dia telah berhasil memanipulasi orang lain dengan etikanya yang baik itu karena apa yang terlihat oleh orang lain pada seseorang terjadi pada situasi normal. Karakter individu yang sebenarnya akan terlihat ketika indvidu berhadapan dengan tekanan, tantangan atau masalah-masalah.
Kita mempunyai potensi-potensi untuk memanipulasi orang lain dengan kepintaran, pengalaman dan kekuatan penampilan luar kita tetapi ada satu hal yang penting jika kita ingin mengetahui kualitas hidup sebenarnya dari seseorang yaitu waktu.

Waktu adalah Cara Pengujian yang Ampuh

Secara normal, kita hanya berinteraksi dengan orang lain dalam jangka waktu yang pendek, misalnya dalam waktu kerja atau hanya dalam beberapa jam. Maka orang-orang yang mengetahui sifat baik dan kualitas kehidupan kita adalah orang-orang yang telah mengenal dan bersama kita dalam jangka waktu yang panjang. Ekspresi yang tersembunyi akan terlihat dalam situasi tertentu. Tidak ada orang yang dapat menyembunyikan dirinya yang sebenarnya di dalam untuk selamanya, karena dari cara dia berbicara, bertindak dan merespon, kita dapat mengidentifikasi karakter dia.
Kita tetap membutuhkan waktu untuk mengingat atau mengetahui karakter teman-teman kita.
Dengan mempelajari dan mengetahui ilmu karakter, kita akan menjadi sebuah pribadi yang seutuhnya. Bisa menikmati kehidupan yang nyaman, sehat dan bahagia. Kesuksesan akan dijagai oleh karakter yang baik karena kita bisa menggapai sukses dengan karisma tetapi hanya karakter yang bisa menjagai kesuksesan kita tetap pada puncaknya.

Kisah 2 orang Kakak Beradik : Sebuah Pembelajaran Positive Attitude

Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Ketika ayahnya meninggal sebelumnya berpesan dua hal: - Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu, - Kedua: Jika kalian pergi dari rumah ke toko jangan sampai muka kalian terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka. Jawab anak yang bungsu: "Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih". "Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak".

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, ibupun bertanya hal yang sama. Jawab anak sulung: "Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut". "Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup." "Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris ,karena mempunyai jam kerja lebih lama".

Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita. Pilihan ada di tangan anda. 'Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa.

Satu Jam Saja untuk Berpikir & Belajar !

Satu jam saja. Ini memang mirip nama lagu yang pernah menjadi hit beberapa waktu yang lalu. Tetapi, ”Satu jam saja” yang akan dibahas kali ini menyangkut waktu yang kita perlukan untuk membuat hidup lebih berarti. Apa yang dapat kita lakukan dalam satu jam? Jeffrey J. Fox, dalam bukunya How To Become CEO mengusulkan agar pembaca bukunya menyisihkan satu jam setiap hari untuk berpikir.

Mengapa Perlu Berpikir ?
Ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan ”berpikir’, tiga di antaranya yang terpenting adalah:

#1 Mengisi ”bahan bakar”
Jika kita mengendarai mobil, suatu waktu kita perlu mampir ke pompa bensin untuk mengisi bahan bakar. Jika hal ini tidak kita lakukan, maka pada suatu saat mobil akan mogok karena kehabisan bahan bakar. Demikian pula dengan kita. Jika kita bekerja terus tanpa menyediakan waktu untuk berhenti sejenak mengisi bahan bakar (mencari ide baru—strategi baru, inovasi baru, metode baru), maka suatu saat kita akan berhenti beraktivitas karena kita tidak tahu lagi apa yang harus kita kerjakan; pikiran kita yang menjadi motor penggerak aktivitas kita sudah tumpul, tak berdaya.

#2 Membersihkan ”kotoran”
Selain isi bensin, mobil juga perlu ganti oli agar mesin tetap dapat berfungsi dengan baik. Oli yang kotor dan telah mengental dapat menyebabkan penyumbatan dan kerusakan mesin. Oli kotor ini perlu diganti dengan oli yang baru. Ilustrasi ini berlaku pula pada pikiran kita. Kita perlu berhenti sejenak untuk membersihkan diri dari pikiran-pikiran kotor (misalnya: kedengkian, keraguan, kecemasan, keputusasaan) yang dapat menjadi penghambat kita untuk maju.Pikiran kotor ini perlu senantiasa diganti dengan pikiran positif yang memiliki kekuatan ampuh untuk melancarkan jalannya mesin sukses kita.

#3 Mengasah ”ketajaman”
Isi bahan bakar dan ganti oli pada mesin mobil belumlah lengkap. Kedua hal ini perlu dilengkapi juga dengan ”tune up” yang dilakukan secara berkala agar mobil tetap bisa melaju dengan lancar. Pikiran pun perlu di- ”tune up” agar ketajamannya tetap terjaga. Dengan pikiran yang tajam, akan lebih mudah bagi kita untuk mendeteksi masalah, mengidentifikasi solusi, dan memformulasi strategi untuk mengatasi masalah tersebut. Pikiran yang tajam juga akan lebih memudahkan kita untuk melihat ataupun menciptakan kesempatan sukses, serta mengubah tantangan menjadi kesempatan.

Apa yang Perlu Dipikirkan ?
Sekarang kita percaya bahwa menyediakan waktu untuk berpikir memang penting. Lalu, apa yang perlu kita pikirkan dalam waktu satu jam tersebut? Pada prinsipnya ada beberapa kegiatan berpikir yang perlu kita lakukan: Mencari ide/inspirasi, melakukan evaluasi, belajar, dan melakukan perencanaan.

#1 Mencari dan Menuliskan Ide
Kita perlu senantiasa mengisi ”Tanki Pikiran” kita dengan ide-ide yang memberi energi baru untuk bertindak. Ide baru bisa kita dapatkan dari berbagai sumber: diskusi dengan orang lain, artikel yang kita baca, program yang kita lihat, film yang kita tonton, atau sekedar ide-ide dan inspirasi yang datang ketika kita sedang merenung. Ide-ide ini perlu kita tuliskan pada sebuah buku. Penulis buku How To Become CEO mengusulkan agar kita menyediakan Buku Ide untuk menuliskan ide-ide yang muncul di benak kita. Secara periodik kita perlu me-review ide-ide yang sudah dituliskan, memilih yang paling relevan untuk lebih mendekatkan kita pada ”mimpi” yang ingin kita raih. Kita juga perlu secara berkala untuk menambah ide-ide baru dalam daftar di Buku Ide kita tersebut. Buku Ide ini bisa sangat bermanfaat bagi kita ketika kita harus memikirkan suatu solusi, atau mengusulkan suatu ide baru. Pada kondisi tersebut, kita tinggal membuka Buku Ide dan mencari ide yang paling mendekati apa yang kita butuhkan (karena bisa saja ide ini masih perlu dimodifikasi, atau dari ide ini kita mendapat inspirasi untuk melakukan hal-hal lain yang lebih baik).

#2 Melakukan Evaluasi
Kegagalan, perbedaan pendapat, perselisihan, kesulitan seringkali ”mengotori” pikiran kita, sehingga jika kita biarkan terus akan menggerogoti semangat juang untuk sukses. Dengan melakukan evaluasi, kita bisa mendeteksi ”pikiran kotor” yang perlu kita singkirkan dan kita ganti dengan ”pikiran positif” yang memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan. Dalam mengevaluasi, minimum ada dua pertanyaan penting yang bisa kita ajukan.
Pertama: Hal-hal apa yang telah saya lakukan dengan baik? Pasti ada hal-hal baik yang kita lakukan hari ini, misalnya: membantu orang lain (teman kantor, atasan, bawahan, nasabah), menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat, menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas yang lebih baik dari yang diharapkan? Lalu, bagaimana hal ini bisa saya pertahankan, atau saya tingkatkan lagi kualitasnya (dengan metode yang sama, dengan memodifikasi metode yang ada, atau mencoba metode baru).
Pertanyaan kedua: Kesalahan atau kegagalan apa yang telah saya lakukan hari ini? Selain kesuksesan, bisa saja hari ini kita melakukan sesuatu yang di bawah harapan kita, misalnya: terlambat menyelesaikan pekerjaan, melakukan kesalahan dalam pekerjaan, membuat nasabah marah. Kesalahan biasanya menimbulkan dampak yang kurang menyenangkan. Untuk itu kita perlu memikirkan apa yang perlu dilakukan untuk meminimumkan dampak negatif yang timbul dan memperbaiki kesalahan yang terjadi. Agar kesalahan ini tidak terjadi lagi, kita juga perlu mencari tahu penyebabnya dan memikirkan cara-cara baru/langkah-langkah preventif untuk menghindari terjadinya kesalahan yang sama.


#3 Melakukan Pembelajaran
“No learning, no glory.” Tanpa pembelajaran, tak akan ada kesuksesan. Orang yang sukses adalah orang-orang yang tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Dalam proses mencoba tersebut, mereka belajar sesuatu yang baru. Ketika mencoba sesuatu yang baru, mungkin saja mereka tidak langsung sukses, tetapi mengalami beberapa kali kegagalan sebelum akhirnya mereka belajar cara yang tepat untuk melakukannya. Mereka juga bisa belajar dari pengalaman orang lain (kegagalan orang lain, kesuksesan orang lain, percobaan yang dilakukan orang lain). Setelah meraih satu sukses pun mereka tetap tidak berhenti belajar. Mereka belajar hal baru lagi untuk meraih sukses baru. Jadi, pembelajaran ini tidak pernah berhenti. Ketika kita sibuk melakukan suatu pekerjaan, kita sering lupa untuk berhenti sejenak guna melakukan pembelajaran. Banyak alasan yang kita kemukakan: tak ada waktu, tak sempat, tak perlu. Padahal dengan ”satu jam” belajar, bisa saja kita menemukan bahwa arah kegiatan kita sudah melenceng dan perlu diluruskan; atau kita bisa belajar sesuatu yang baru yang bisa mempercepat atau meningkatkan kualitas pekerjaan kita.

#4 Melakukan Perencanaan
Ide, hasil evaluasi, dan hasil pembelajaran perlu diramu dalam satu rencana strategis untuk meraih masa depan yang lebih baik. Perencanaan penting untuk menindak-lanjuti ide yang telah dirumuskan ataupun pembelajaran yang kita dapatkan dari hasil evaluasi ataupun kegiatan ”belajar” agar hasilnya menjadi lebih optimal. Seperti biasanya, perencanaan perlu disusun berdasarkan prioritas (dari yang terpenting sampai yang kurang penting), dan waktu (mana yang harus diselesaikan lebih dulu, berapa lama waktu yang perlu dialokasikan untuk menyelesaikan hal tersebut). Lebih baik lagi jika kita bisa menyusun Rencana B, yaitu antisipasi yang bisa kita pikirkan jika kita mengalami hambatan untuk mewujudkan Rencana A (rencana awal yang kita susun). Perencanaan juga bisa dilakukan dengan pendekatan ”skenario”. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam ”skenario” ini bisa kita tetapkan. Misalnya, kita bisa menyusun rencana berdasarkan skenario kondisi optimistis, pesimistis, atau standar. Jadi, kita tidak akan kaget lagi jika ternyata kondisi yang terjadi tidak seperti skenario A, tapi lebih mendekati skenario B.

Kapan dan di Mana Melakukan Kegiatan ”Berpikir” ?
Kapan dan di mana kita bisa ”berpikir” secara khusus selama satu jam? Kita bisa menentukan sendiri waktu dan tempat yang paling pas untuk kita. Yang penting untuk dipertimbangkan adalah waktu dan tempat yang memungkinkan kita menyi3wsihkan satu jam dengan gangguan ataupun interupsi yang paling minimum.
Kapan?
Orang yang lebih bisa berpikir jernih di pagi hari, bisa mencoba melakukannya pagi-pagi sekali setelah berdoa, dan sebelum melakukan kegiatan lain. Bagi ”orang malam”, sore hari setelah selesai kerja atau bahkan malam hari sebelum tidur bisa dijadikan alternatif pilihan.

Di Mana ?
Sedangkan untuk tempat yang tepat, Jeffrey J. Fox mengusulkan untuk mencoba melakukannya di rumah, atau di tempat lain di luar kantor. Menurut Fox, jika kita melakukannya di kantor, kita mungkin akan menemukan lebih banyak gangguan/interupsi. Fox juga mengingatkan untuk tidak melakukannya ketika sedang mengemudi kendaraan (karena akan mengganggu konsentrasi mengemudi dan membahayakan lalu lintas).
Mungkin sekarang kita sudah bisa mulai mencoba untuk menyisihkan satu jam saja dari waktu kita dalam satu hari untuk melakukan kegiatan berpikir ‘khusus’ untuk mengisi pikiran kita dengan ide-ide baru, mengganti pikiran buruk dengan pikiran yang positif, mengasah pikiran dengan pembelajaran, dan menindaklanjuti ide-ide serta pembelajaran yang telah kita dapatkan dengan membuat perencanaan strategis guna meraih sukses.

Belajar dari Superhero

Superman, Spiderman, Batman, James Bond, McGyver. Pasti nama-nama ini tidak asing lagi bagi kita. Mereka adalah pahlawan dunia khayal yang sering muncul di layar lebar, layar kaca, maupun komik. Demikian pula dengan Tjut Njak Dhien, Mahatma Gandhi, Kartini, Martin Luther King Jr., Soekarno, Hatta, Ibu Teresa dan Yasser Arafat.

APA YANG DILAKUKAN ”SUPERHERO”?

Para superhero dunia khayal dan dunia nyata dihormati banyak orang karena melakukan berbagai hal positif sebagai berikut:

#1 Mempersembahkan Kemenangan.
Rama memenangkan perang terhadap Rahwana. Superman selalu dapat menumpas kejahatan para musuh dan tampil sebagai pemenang. Ibu Teresa mengalahkan kemiskinan dan penderitaan di daerah layanannya. Dewi Sartika menawarkan kemenangan atas penindasan hak-hak wanita untuk menikmati pendidikan. Jadi, bukan superhero namanya kalau tidak bisa mempersembahkan kemenangan. Bahkan kemenangan merupakan tujuan utama mereka setiap kali mereka menjalankan ”tugas” ke-superhero-an mereka (yaitu: memberantas ”kejahatan”). Tapi kemenangan ini sering kali harus diraih melalui berbagai kesulitan dan kegagalan sementara. Justru kesulitan dan kegagalan inilah yang menjadikan kemenangan yang dipersembahkan menjadi lebih ”besar” (kemenangan yang terlalu mudah untuk diraih tidak membutuhkan campur tangan seorang superhero). Yang menjadikan kemenangan ini juga lebih bermakna adalah karena kemenangan ini bukanlah untuk kepentingan mereka sendiri, melainkan untuk kepentingan yang lebih besar dari itu, yaitu kepentingan banyak orang (satu negara, satu benua, bahkan seluruh dunia).

#2 Menjadi Inspirasi.
Banyak orang ingin seperti mereka, karena apa pun yang dilakukan para superhero tersebut selalu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Kata-kata dan perbuatan Russel Crow sebagai pahlawan dalam film Gladiator membangkitkan semangat juang kaum tertindas. Demikian pula dengan Bung Tomo yang kata-katanya berhasil menginspirasi pemuda dan pemudi Indonesia untuk berjuang menghadang penjajah. Perbuatan mereka yang positif bagi banyak orang menjadi contoh bagi seluruh lapisan masyarakat untuk selalu menjunjung tinggi ”Kebaikan”. Sikap mereka yang santun (baik terhadap kawan maupun lawan) menumbuhkan rasa hormat orang lain kepada para superhero tersebut. Penampilan mereka yang segar juga memberi inspirasi bagi orang lain untuk tampil prima.

#3 Menjadi Solusi, bukan Masalah.
Menjadi solusi merupakan salah satu kualitas yang dimiliki semua superhero, baik yang di dunia khayal maupun dunia nyata. Batman selalu datang sebagai solusi bagi masyarakat di Gotham City. Romo Mangun juga menjadi solusi bagi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan di kota Yogyakarta. Ya, tiap superhero menawarkan solusi di bidang ”pelayanan” mereka masing-masing. Para superhero ini dikenal luas sebagai orang yang sama sekali tidak pelit untuk memberikan solusi kepada banyak orang. Mereka juga tidak segan-segan menawarkan solusi bagi orang lain untuk meraih sukses. Mereka tidak selalu menunggu sampai orang datang dan masalah menjelang; mereka bersikap proaktif untuk mengantisipasi masalah ataupun mencegah kesulitan. Membantu orang lain dengan menjadi solusi sepertinya sudah merupakan misi hidup mereka. Tidak heran jika para superhero ini selalu dicari ketika kesulitan datang, tantangan menjelang, musuh menghadang dan masalah tiba.

#4 Tampil Unggul.
Kualitas pekerjaan mereka yang selalu prima mendorong banyak orang agar senantiasa berusaha mempersembahkan yang terbaik yang bisa mereka usahakan. Kualitas kerja James Bond, sang mata-mata dari Inggris, tak pernah diragukan oleh lawan ataupun kawan. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Hatta, salah satu proklamator kita, yang juga adalah Bapak Koperasi, dalam mempersembahkan hasil karyanya (baik dalam bentuk pemikiran, tulisan, dan hasil kerja nyata).
Dalam menjalankan setiap tugas, para superhero tidak pernah setengah hati, mereka selalu serius dalam mempersembahkan hasil yang berkualitas unggul (jauh di atas rata-rata). Inilah yang merupakan salah satu senjata mereka untuk selalu meraih ”kemenangan” di tiap medan perjuangan mereka. Guna tampil unggul, mereka tekun berlatih, menambah ilmu dan keterampilan mereka. Untuk tampil prima, mereka memperhatikan detail dalam memetakan sukses di benak mereka, sebelum menerjemahkannya dalam bentuk tindakan nyata. Mereka juga selalu berusaha maksimal di tiap kegiatan yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka tidak pernah membandingkan kualitas dengan imbalan yang mereka terima. Mereka rela melakukannya tanpa imbalan sekalipun asalkan memberi kepuasan yang tinggi bagi diri sendiri dan orang lain, dan memberi manfaat bagi banyak orang.

BAGAIMANA MENELADANI ”SUPERHERO”?

Yang baru saja kita bahas adalah berbagai kualitas superhero yang mereka terjemahkan dalam perbuatan. Lalu bagaimana para superhero itu bisa menghasilkan perbuatan yang mengandung kualitas kepahlawanan seperti di atas? Inilah yang perlu juga kita teladani.

#1 Punya Mimpi.
Semua superhero mempunyai mimpi. Mimpi merekalah yang menjadikan para superhero ”besar” di mata banyak orang. Mimpi ini mereka tularkan kepada orang lain, sehingga melalui sinergi dengan banyak pihak, mereka berjuang bersama untuk merealisasikan mimpi tersebut. Hal yang sama juga terlihat pada para superhero di dunia nyata. Yasser Arafat ”bermimpi” untuk memberikan Tanah Air bagi rakyatnya. Mahatma Gandhi mempunyai ”mimpi” untuk memberikan kemerdekaan bagi bangsa India. Martin Luther King Jr. ”bermimpi” untuk membuat umat manusia dapat duduk berdampingan dan menikmati hak-hak mereka sebagai manusia. Ia bermimpi untuk membuat orang lain menghormati hak asasi manusia tanpa memandang ras, agama, kedudukan.

#2 Bicara Positif.
Para superhero tidak pernah berbicara negatif yang mematahkan semangat banyak orang. Dengan kata-kata mereka, mereka berhasil membuat orang merasa aman, dan memotivasi orang lain untuk melakukan hal-hal yang positif. Kalimat-kalimat mereka dikenang orang karena memberi inspirasi dan membuat hidup lebih berarti. J. F. Kennedy terkenal dengan kalimat legendarisnya: ”Jangan tanya apa yang negara telah berikan kepadamu, tetapi tanyalah apa yang sudah kamu berikan kepada negara.” Soekarno terkenal dengan kalimatnya yang mendorong orang untuk memiliki cita-cita: ”Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Kata-kata penyejuk dan pemberi semangat inilah yang membuat orang lain senang berteman, bersahabat dan berada di dekat para superhero.

#3 Kreatif.
Dalam memberikan solusi, para superhero menawarkan banyak alternatif jalan keluar. Kreativitas ini terbentuk karena mereka tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru dan tidak jemu-jemu mengasah otak mereka dengan pembelajaran berkelanjutan (membaca, berdiskusi dengan orang lain, berlatih, mencoba hal-hal baru). Semua ini dijadikan kebiasaan, bukannya dilakukan jika diperlukan saja, sehingga mereka pun menjadi terbiasa untuk berpikir dan bertindak kreatif. Siapa yang bisa membayangkan untuk berjuang dengan menuliskan surat saja? Inilah yang dilakukan oleh Kartini. Adat-istiadat yang kuat serta kondisi negara yang masih dalam penindasan kekuasaan lain membatasi gerak-gerik dan perjuangan Kartini. Namun, justru kendala-kendala inilah yang telah memacu Kartini untuk kreatif mencari ”senjata” lain untuk berjuang, yaitu melalui surat-suratnya dan melalui pendidikan, yaitu sekolah puteri yang didirikannya.

#4 Tidak Mementingkan Diri Sendiri.
Bukan superhero namanya jika mereka memikirkan diri sendiri dalam meraih kemenangan. Menjunjung tinggi kepentingan banyak orang membuat skala perjuangan para superhero melebihi kepentingan satu orang saja. Dengan menomorsatukan kepentingan orang banyak (yang akhirnya juga kepentingannya sendiri pasti terakomodasi dengan sendirinya), para superhero justru menunjukkan kebesarannya. Perjuangannya untuk banyak orang mengundang banyak pihak untuk turut membantunya meraih kemenangan.
Nelson Mandela yang rela mengambil risiko untuk dipenjara karena perjuangannya untuk menegakkan persamaan hak bagi bangsa kulit berwarna merupakan teladan yang telah melegenda. Mandela rela disiksa dan dipenjara untuk kepentingan banyak orang. Pengorbanannya yang akhirnya membawa kemenangan bagi bangsa kulit berwarna tidak hanya di Afrika Selatan tetapi juga di seluruh dunia untuk menikmati perlakuan yang sama dalam berbagai hal, menjadikannya seorang pemimpin besar yang dikagumi kawan dan lawan. Bayangkan kalau Mandela hanya mementingkan keselamatannya sendiri, dan tidak berani mengambil risiko yang telah dialaminya tersebut. Mungkin saja ia tidak akan dikenal banyak orang.

#5 Tidak Takut Berbeda.
Seorang superhero menjadi demikian karena ia ”berbeda” dari orang biasa. Ia tidak takut dengan perbedaannya ini. Perbedaan bisa saja berupa perbedaan fisik, perbedaan pendapat, perbedaan cara pandang, perbedaan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Seorang superhero tidak takut akan perbedaannya ini. Justru ia mengelola perbedaan tersebut menjadi manfaat bagi banyak orang.
Helen Keller yang secara fisik berbeda dari orang lain (ia buta, tuli, dan bisu) tidak minder terhadap ”perbedaan” fisiknya tersebut. Helen juga berbeda dalam cara berpikir. Jika kebanyakan orang berpikir bahwa seorang yang memiliki keterbatasan fisik adalah orang-orang yang malang, tak bisa berprestasi, dan hanya patut dikasihani saja, tidak demikian dengan Helen. Helen justru berjuang keras untuk membuktikan semua itu tidak benar melalui teladannya sendiri. Akhirnya, Helen berhasil dalam perjuangannya mengelola perbedaannya dan menunjukkan kepada dunia bahwa berbeda secara fisik dan pendapat bukan hambatan untuk maju. Keberaniannya inilah yang menjadikan Helen sebagai seorang superhero tidak hanya bagi mereka yang memiliki ”perbedaan” fisik, tetapi juga yang menganggap dirinya ”normal” secara fisik.

#6 Mulai dari Diri Sendiri.
Sebelum berhasil berjuang meraih kemenangan bagi banyak orang dan membawa perubahan positif bagi lingkungannya, seorang superhero umumnya memulai perjuangan dengan mengubah diri sendiri terlebih dahulu. Ia mengubah cara pandangnya, nilai-nilai yang diperjuangkannya, dan tindakannya dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi. Sebelum berjuang meyakinkan dunia bahwa kemerdekaan itu penting, hak asasi manusia perlu dihormati, Mahatma Gandhi meyakinkan dirinya sendiri dulu. Demikian pula dengan Ki Hajar Dewantoro yang berhasil meyakinkan Indonesia bahwa pendidikan itu penting. Untuk itu, ia meyakinkan diri sendiri dan memulai dengan membangun sekolahnya sendiri dulu, sebelum akhirnya tindakannya diikuti dan dijadikan inspirasi bagi orang lain.

Jika para superhero selalu pada akhirnya meraih kemenangan dan dihormati banyak orang serta kesuksesan perjuangan merek berdampak lintas tempat dan waktu, mengapa kita tidak meneladani mereka?

White Swan Online Store