
BOOK (Buku) - BUSINESS (Bisnis) - FINANCIAL PLANNING (Perencanaan Keuangan) - INVESTMENT (Investasi) - LOVE AND FRIENDSHIP (Cinta dan Persahabatan) - MINDSET (Pola Pikir) - SAVE OUR WORLD (Selamatkan Dunia Kita) - WHITE SWAN BIMBINGAN BELAJAR - WHITE SWAN ONLINE STORE
White Swan Online Store
Minggu, 19 Desember 2010
The Thick Face Black Heart

Minggu, 08 Agustus 2010
Bola Karet & Bola Kaca ala Brian Dyson
Jumat, 18 September 2009
Hukum Truk Sampah
- Kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak.
- Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya.
- Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.
Kamis, 17 September 2009
Kisah Anak dan Sang Pianis
Kisah Dua Batu Bata Jelek
Cara Tuhan yang Ajaib (Kisah Nyata dari Andy Flores Noya)

Jumat, 04 September 2009
Kisah Bungkus Palsu Jessica Chandra
Selasa, 01 September 2009
7 Tipe Jawara Bisnis
7 Tipe Hati Pemimpin
Pit Stop untuk Mengisi Energi
Selasa, 19 Mei 2009
Investasi Leher ke Atas untuk Menghadapi Perubahan
Dan tidak sedikit orang kaya yang jatuh miskin, atau bahkan orang miskin yang bertambah miskin , karena mereka tidak mau belajar lagi untuk menghadapi perubahan . Dan terus mencari uang dengan cara yang lama , tidak mau berhenti untuk belajar lagi tren saat ini.
Pernahkah Anda mendengar kata Benjamin Franklin ? Beliau adalah ilmuan yang sangat dihormati oleh Amerika karena peletak hak-hak asasi manusia dan deklarasi kemerdekaan di Amerika, sehingga gambarnya ada si uang $100 yang merupakan pecahan terbesar di US. Benjamin Franklin pernah mengungkapkan bahwa setiap dollar yang diinvestasikan untuk kepala (belajar lagi), dalam pikiran akan kembali miliaran dollar dalam kantong kita.
Itulah mengapa saya terus belajar di singapore sampai US dan terus berinvestasi untuk leher ke atas, karena saya yakin akan menambah income saya. Ketika saya belajar dari yang sukses, maka saya yakin akan sukses.
Pertanyaan Saya, mana yang lebih menghasilkan leher keatas atau leher kebawah ? Banyak orang didunia ini lebih senang menggunakan uangnya untuk kepentingan leher kebawah, yakni membeli pakaian baru, mobil baru yang tidak akan bisa menambah kekayaan mereka. Sedangkan jika mereka berani berinvestasi pada leher keatas, ke pembelajaran tentang property, bisnis, saham dan internet , mereka bisa melipatgandakan kekayaan mereka
Tahukah Anda apabila Anda menjumlahkan penghasilan dari 5 orang terdekat Anda dan Anda bagi 5, maka itulah jumlah penghasilan Anda. Tanpa Anda sadari pola berpikir teman-teman Anda tentang uang akan mempengaruhi Anda, sedemikian sehingga Anda akan menjadi sama dengan mereka. Bagaimana jika teman Anda tersebut bukanlah seorang miliarder atau multi miliarder ? Tentunya gaya pemikiran mereka adalah cara berpikir ala seorang jutawan.
Saya bukan melarang Anda bergaul dengan orang miskin, Saya pun bergaul dengan siapapun. Tapi saat berbicara soal mindset tentang uang, pastikan Anda bergaul, sharing dan belajar dengan orang yang tepat
Dan tahukah Anda bagaimana cara berpindah dari gelombang orang miskin menjadi gelombang orang kaya? Caranya ada 2 :
1. Bergaul dgn orang kaya
2. Belajar dan terus belajar
Org kaya terus belajar dan tumbuh, contohnya saya sangat kagum dengan pak Lukminto yg punya Sritex di solo luas pabriknya saja 100 hektar dan merupakan produsen pakaian militer terbesar didunia. Bahkan rumahnya diresmikan oleh dua presiden, yaitu Bu Megawati dan Pak SBY. Pak Lukminto ini saja ingin terus belajar dan belajar, bahkan mengundang saya untuk bicara di pabrik beliau. Begitu juga dengan pak Teguh Kinarto di Surabaya yang punya perusahaan properti, beliau terus belajar supaya anaknya juga terinspirasi untuk terus belajar.
Saya tahu orang miskin merasa selalu tahu segalanya, tidak mau belajar dan selalu punya seribu satu alasan untuk tidak belajar yg akhirnya membuat mereka tidak belajar dan takut berinvestasi. Dan itulah sebabnya mengapa mereka terus miskin, karena tidak dapat melihat peluang , mengalokasikan uangnya, dan berinvestasi dengan baik.
Sedangkan orang kaya selalu ingin terus belajar, bahkan tidak peduli terhadap siapa pun yg mempunyai ide lebih baik daripada dia. Mereka berani membayar untuk belajar, mentraktir orang yang jauh lebih kaya untuk belajar ilmunya. Oleh karena itu dia bertambah kaya karena mengerti pola orang kaya.
Karena itu saya terus mengalokasikan uang, tenaga, pikiran, waktu untuk rutin terus belajar ilmu-ilmu yg terbaik, sehingga saya yakin pasti kaya, sudah kaya dan akan terus luangkan waktu, tenaga, uang, pikiran untuk belajar bisnis, properti, saham, internet dan akan terus belajar apapun yang dapat membuat saya menjadi lebih kaya. Ini adalah pemikiran Trilyuner saya.
TDW University - Think Out of The Box
Di dunia saat ini dengan persaingan bisnis yang sangat kompetitif, ada baiknya kita untuk selalu belajar Think Out of The Box, karena dibanding Anda bertarung di red ocean (market yang banyak sekali player bermain disana) , Anda bisa bermain untuk tetap mendapatkan profit dengan bermain di luar kotak.
Sebagai contoh Pada Zaman Wild-Wild-West, terjadi trend mengali emas dan tiba-tiba semua orang pergi ke barat untuk mencari emas, tetapi tahukah Anda siapa yang paling kaya?
Yang menggali emas ? BUKAN
Ternyata yang paling kaya adalah YANG JUAL JEANS (LEVI’S), YANG JUAL SEKOP kenapa? karena disaat semua ikut-ikutan menggali emas, mereka tiba-tiba mempunyai kebutuhan yang sama yaitu celana jeans dan sekop. Jadi pada saat itu orang-orang yang dapat melihat peluang bisnis tersebut, akan menjual jeans atau sekop karena mereka tidak ikut-ikutan mencari emas tapi fokus apa yang akan banyak di cari saat trend emas itu terjadi.
Ketika ada trend yang semua orang suka olah raga lari, kita jual apa supaya larinya lebih cepat?
JUALIN SEPATU , JUAL KAOS OLAHRAGA
Ada bisnis sampingan yang bisa anda sediakan saat semua orang lari menuju trendnya, apalagi kalau Anda sendirian
Waktu dulu, di indonesia ada musim ternak jangkrik, Anda bisa jadi konsultan bisnis jangkrik, jual pakan jangkrik, tidak perlu ikut-ikutan ternak jangkrik.
Saat ada bisnis yang trend,harus pintar mencari sampingannya apa saja. Bukan hanya memiliki pemikiran yang terpaku pada 1 hal saja. Untuk itulah Anda harus belajar Think Out of The Box.
Untuk melatih hal ini Anda bisa meningkatkan kreativitas Anda, tetapi kecenderungan banyak orang tidak cukup kreatif sehingga bermain ditempat yang sama , dan berakhir dengan perang harga dan mulai saling menjelekkan. Hal yang lain , yang bisa Anda lakukan untuk melatih Think Out of The Box ini adalah dengan cara memiliki seorang mentor yang bisa melatih Anda kapanpun yang Anda inginkan dan komunitas yang bisa saling membantu Anda untuk semakin kreatif melihat peluang bisnis.
Dan hal lainnya adalah untuk melatih Anda menjadi lebih aware akan peluang-peluang seperti ini adalah dengan cara terus belajar dan open mind , mau belajar kepada siapapun yang lebih baik.
Motivasi dan Kepemimpinan : Kualitas Kepemimpinan Sejati
Motivasi adalah perpaduan antara keinginan dan energi untuk mencapai tujuan tertentu. Memengaruhi motivasi seseorang berarti membuat orang tersebut melakukan apa yang kita inginkan. Karena fungsi utama dari kepemimpinan adalah untuk memimpin, maka kemampuan untuk memengaruhi orang adalah hal yang penting. Prinsip Dasar Motivasi
Motivasi adalah suatu fenomena psikologis, sehingga kita perlu mengetahui pendapat dari para psikolog. Mungo Miller, pimpinan Affiliated Psychological Services, mencetuskan enam prinsip umum motivasi sebagaimana di bawah ini :
- Motivasi adalah proses psikologis, atau lebih tepatnya proses emosional, bukan logis.
- Motivasi pada dasarnya adalah proses yang tidak kita sadari. Tindakan yang kita atau orang lain lakukan mungkin saja tampak tidak logis, namun bagi orang yang melakukannya, tindakannya tampak wajar dan masuk akal.
- Motivasi bersifat individual. Tingkah laku seseorang bersumber dari dirinya sendiri.
- Motivasi tiap orang berbeda, begitu juga setiap individu bervariasi dari waktu ke waktu.
- Motivasi adalah proses sosial. Tak dapat diingkari, bahwa terpenuhi atau tidaknya kebutuhan kita tergantung dari orang lain.
Dalam tindakan sehari-hari, kita dipandu oleh kebiasaan yang bersumber dari motivasional di masa lalu.
Pendorong Motivasi
Motivasi seseorang sering kali dipengaruhi oleh dua hal berikut :
- Seberapa mendesaknya suatu kebutuhan. Misalnya, kita merasa lapar, namun harus menyelesaikan satu tugas dengan segera. Kalau kita merasa sangat lapar, kita akan makan. Tapi bila kita hanya sedikit merasa lapar, kita akan memilih untuk menyelesaikan tugas.
- Anggapan bahwa suatu tindakan akan memenuhi suatu kebutuhan. Misalnya, ada dua kebutuhan yang mendesak - keinginan untuk menyelesaikan tugas atau makan. Persepsi tentang bagaimana kita memandang dua kebutuhan tersebut sangat menentukan mana yang akan diprioritaskan. Kalau kita berpikir bahwa kita bisa dipecat karena tugas tidak selesai, kita akan mengorbankan waktu makan siang untuk mengerjakannya. Sebaliknya, jika kita merasa tidak akan mendapat masalah walaupun pekerjaan itu tidak selesai, kita akan pergi untuk makan siang.
Orang dapat termotivasi karena kepercayaan, nilai, minat, rasa takut, dan sebagainya. Diantaranya adalah faktor internal seperti kebutuhan, minat, dan kepercayaan. Faktor lainnya adalah faktor eksternal, misalnya bahaya, lingkungan, atau tekanan dari orang yang dikasihi. Tak ada proses yang mudah dalam motivasi -- kita harus selalu terbuka dalam memandang orang lain.
Menjadi Motivator yang Baik
Adalah penting bagi seorang pemimpin untuk mengetahui bagaimana cara memotivasi karyawannya. MM Feinberg menjabarkan beberapa tindakan yang tidak memotivasi orang lain :
- Meremehkan bawahan. Tindakan ini bisa membunuh rasa percaya diri dan inisiatif karyawan.
- Mengkritik karyawan di depan karyawan lain. Tindakan ini pun bisa merusak hubungan yang sudah terbina baik.
- Memberi perhatian setengah-setengah atau tidak memerhatikan karyawan. Kalau seorang pemimpin tidak memedulikan karyawannya, maka rasa percaya dirinya akan luntur.
- Memerhatikan diri sendiri. Pemimpin yang seperti ini dianggap egois dan hanya memanipulasi karyawan untuk kepentingannya sendiri.
- Menganak emaskan seorang karyawan. Tindakan ini sebaiknya juga tidak dilakukan, karena bisa merusak moral karyawan lain.
- Tidak mendorong karyawan untuk berkembang. Kalau karyawan merasa bahwa bos juga ikut berjuang bersama, mereka akan sangat termotivasi. Informasikan kesempatan yang ada dan jangan pernah mengekang minat para karyawan.
- Tidak memedulikan hal-hal kecil. Apa yang nampaknya kecil bagi Anda, mungkin saja sangat penting untuk karyawan.
- Merendahkan karyawan yang kurang terampil. Seorang pemimpin memang wajib menolerir ketidakmampuan karyawannya, namun harus hati-hati dalam menangani permasalahan yang ditimbulkan agar tidak sampai mempermalukan karyawannya.
- Ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Atasan yang ragu-ragu mengakibatkan kebimbangan di seluruh organisasi.
Sesungguhnya, cara yang paling baik untuk memotivasi karyawan adalah melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Saran, rekomendasi, dan kritik adalah pendorong yang paling efektif dan sangat memotivasi organisasi yang berani menerapkannya.
The Power of Character (Kekuatan dari Karakter)
“Dua ribu lima ratus rupiah, pak”. Kata anak tersebut. Saya mencari uang yang lebih kecil kembaliannya tetapi tidak dapat saya temukan. Saya memberikan padanya sepuluh ribu rupiah.
Saya tidak mempunya kembaliannya saat ini pak”. Respon dari si anak.
Lampu sudah berubah ke hijau, mobil saya harus jalan. “Kalau begitu saya akan ambil kembaliannya besok”, kata saya kepada anak tersebut ketika mobil saya mulai berjalan. Pikiran-pikiran negatif menyeruak di dalam diri saya. Bagaimana jika saya tidak melihat anak kecil tersebut lagi di jalan yang sama keesokan harinya? Karena uang tersebut bukan dalam jumlah yang besar, maka saya dengan cepat melupakannya.
Hari berikutnya, saya melewati jalan yang sama. Dari kejauhan, saya dapat melihat anak kecil tersebut. “Ini uang kembalian bapak” anak kecil tersebut memberikan uangnya.
Jujur saja, saya tertegun dengan karakter anak ini, walaupun ia mempunyai kesempatan untuk menghilang tetapi ia memilih untuk dapat dipercaya. Saya kagum padanya karena di tengah-tengah krisis kepercayaan di sekitar kita, masih ada anak-anak dengan karakter yang tulus dan keinginan yang kuat untuk bekerja keras demi masa depan mereka.

1. Kualitas dari kehidupan
2. Nilai dari kehidupan
3. Benih dari kesuksesan
4. Sikap mental yang terlatih menghadapi tantangan
5. Kekuatan dalam diri untuk bertahan dan menang
6. Hikmah dari kegagalan dan sukses
7. Ketulusan dari dalam hati
8. Filosofi sebagai prinsip untuk bertindak sportif
9. Pengembangan mental yang kokoh
10. Hubungan erat yang terbentuk antara kita dengan Tuhan.
Karakter adalah Kualitas dari Kehidupan
Kualitas dari kehidupan bukan berarti seseorang harus sukses, kaya, pintar atau mempunyai status yang baik. Kualitas dari kehidupan didasarkan oleh karakter yang kuat. Karakter digunakan sebagai dasar atau prioritas dalam hidup.
Seseorang tidak akan mempunyai sesuatu yang dapat dibanggakan, tetapi jika ia menempatkan karakter sebagai dasar, kita dapat mengatakan bahwa kehidupan ia akan jauh lebih bersinar dibandingkan dengan individu lain yang melakukan hal sebaliknya.
1. Tekanan
2. Tantangan
3. Masalah-masalah
4. Pencobaan
5. Kesulitan
Kepribadian adalah sebuah jalan kehidupan atau etika kehidupan yang dapat terlihat atau dirasakan oleh orang lain yang berada di sekitar individu tersebut. Kepribadian tidak dapat menggambarkan karakter sebenarnya dari individu. Kualitas kepribadian dapat memimpin seseorang menjadi sukses tetapi hanya kualitas karakter yang dapat membuat seseorang tetap berada di atas kesuksesannya.

1. Cara kita berpakaian
2. Cara kita berjalan
3. Cara kita berbicara
4. Cara kita melihat
5. Cara kita duduk
6. Cara kita makan dan minum
7. Cara kita bekerja
8. Cara kita berjabat tangan
9. Cara kita menata rambut
10. Dari keseluruhan penampilan kita
Kita sering mengatakan penampilan seseorang adalah etika dari orang tersebut, yang dapat menempatkan diri dengan baik di setiap situasi. Dapat dikatakan orang ini adalah individu yang beretika.
Bagaimanapun ketika, orang yang beretika tidak lagi mementingkan kualitas karakter kehidupan yang baik, maka dia telah berhasil memanipulasi orang lain dengan etikanya yang baik itu karena apa yang terlihat oleh orang lain pada seseorang terjadi pada situasi normal. Karakter individu yang sebenarnya akan terlihat ketika indvidu berhadapan dengan tekanan, tantangan atau masalah-masalah.
Kita mempunyai potensi-potensi untuk memanipulasi orang lain dengan kepintaran, pengalaman dan kekuatan penampilan luar kita tetapi ada satu hal yang penting jika kita ingin mengetahui kualitas hidup sebenarnya dari seseorang yaitu waktu.
Waktu adalah Cara Pengujian yang Ampuh
Secara normal, kita hanya berinteraksi dengan orang lain dalam jangka waktu yang pendek, misalnya dalam waktu kerja atau hanya dalam beberapa jam. Maka orang-orang yang mengetahui sifat baik dan kualitas kehidupan kita adalah orang-orang yang telah mengenal dan bersama kita dalam jangka waktu yang panjang. Ekspresi yang tersembunyi akan terlihat dalam situasi tertentu. Tidak ada orang yang dapat menyembunyikan dirinya yang sebenarnya di dalam untuk selamanya, karena dari cara dia berbicara, bertindak dan merespon, kita dapat mengidentifikasi karakter dia.
Kita tetap membutuhkan waktu untuk mengingat atau mengetahui karakter teman-teman kita.
Dengan mempelajari dan mengetahui ilmu karakter, kita akan menjadi sebuah pribadi yang seutuhnya. Bisa menikmati kehidupan yang nyaman, sehat dan bahagia. Kesuksesan akan dijagai oleh karakter yang baik karena kita bisa menggapai sukses dengan karisma tetapi hanya karakter yang bisa menjagai kesuksesan kita tetap pada puncaknya.
Kisah 2 orang Kakak Beradik : Sebuah Pembelajaran Positive Attitude
Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka. Jawab anak yang bungsu: "Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih". "Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak".
Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, ibupun bertanya hal yang sama. Jawab anak sulung: "Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut". "Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup." "Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris ,karena mempunyai jam kerja lebih lama".
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita. Pilihan ada di tangan anda. 'Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa.
Satu Jam Saja untuk Berpikir & Belajar !
Mengapa Perlu Berpikir ?
Ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan ”berpikir’, tiga di antaranya yang terpenting adalah:
#1 Mengisi ”bahan bakar”
Jika kita mengendarai mobil, suatu waktu kita perlu mampir ke pompa bensin untuk mengisi bahan bakar. Jika hal ini tidak kita lakukan, maka pada suatu saat mobil akan mogok karena kehabisan bahan bakar. Demikian pula dengan kita. Jika kita bekerja terus tanpa menyediakan waktu untuk berhenti sejenak mengisi bahan bakar (mencari ide baru—strategi baru, inovasi baru, metode baru), maka suatu saat kita akan berhenti beraktivitas karena kita tidak tahu lagi apa yang harus kita kerjakan; pikiran kita yang menjadi motor penggerak aktivitas kita sudah tumpul, tak berdaya.
#2 Membersihkan ”kotoran”
Selain isi bensin, mobil juga perlu ganti oli agar mesin tetap dapat berfungsi dengan baik. Oli yang kotor dan telah mengental dapat menyebabkan penyumbatan dan kerusakan mesin. Oli kotor ini perlu diganti dengan oli yang baru. Ilustrasi ini berlaku pula pada pikiran kita. Kita perlu berhenti sejenak untuk membersihkan diri dari pikiran-pikiran kotor (misalnya: kedengkian, keraguan, kecemasan, keputusasaan) yang dapat menjadi penghambat kita untuk maju.Pikiran kotor ini perlu senantiasa diganti dengan pikiran positif yang memiliki kekuatan ampuh untuk melancarkan jalannya mesin sukses kita.
#3 Mengasah ”ketajaman”
Isi bahan bakar dan ganti oli pada mesin mobil belumlah lengkap. Kedua hal ini perlu dilengkapi juga dengan ”tune up” yang dilakukan secara berkala agar mobil tetap bisa melaju dengan lancar. Pikiran pun perlu di- ”tune up” agar ketajamannya tetap terjaga. Dengan pikiran yang tajam, akan lebih mudah bagi kita untuk mendeteksi masalah, mengidentifikasi solusi, dan memformulasi strategi untuk mengatasi masalah tersebut. Pikiran yang tajam juga akan lebih memudahkan kita untuk melihat ataupun menciptakan kesempatan sukses, serta mengubah tantangan menjadi kesempatan.
Apa yang Perlu Dipikirkan ?
Sekarang kita percaya bahwa menyediakan waktu untuk berpikir memang penting. Lalu, apa yang perlu kita pikirkan dalam waktu satu jam tersebut? Pada prinsipnya ada beberapa kegiatan berpikir yang perlu kita lakukan: Mencari ide/inspirasi, melakukan evaluasi, belajar, dan melakukan perencanaan.
#1 Mencari dan Menuliskan Ide
Kita perlu senantiasa mengisi ”Tanki Pikiran” kita dengan ide-ide yang memberi energi baru untuk bertindak. Ide baru bisa kita dapatkan dari berbagai sumber: diskusi dengan orang lain, artikel yang kita baca, program yang kita lihat, film yang kita tonton, atau sekedar ide-ide dan inspirasi yang datang ketika kita sedang merenung. Ide-ide ini perlu kita tuliskan pada sebuah buku. Penulis buku How To Become CEO mengusulkan agar kita menyediakan Buku Ide untuk menuliskan ide-ide yang muncul di benak kita. Secara periodik kita perlu me-review ide-ide yang sudah dituliskan, memilih yang paling relevan untuk lebih mendekatkan kita pada ”mimpi” yang ingin kita raih. Kita juga perlu secara berkala untuk menambah ide-ide baru dalam daftar di Buku Ide kita tersebut. Buku Ide ini bisa sangat bermanfaat bagi kita ketika kita harus memikirkan suatu solusi, atau mengusulkan suatu ide baru. Pada kondisi tersebut, kita tinggal membuka Buku Ide dan mencari ide yang paling mendekati apa yang kita butuhkan (karena bisa saja ide ini masih perlu dimodifikasi, atau dari ide ini kita mendapat inspirasi untuk melakukan hal-hal lain yang lebih baik).
#2 Melakukan Evaluasi
Kegagalan, perbedaan pendapat, perselisihan, kesulitan seringkali ”mengotori” pikiran kita, sehingga jika kita biarkan terus akan menggerogoti semangat juang untuk sukses. Dengan melakukan evaluasi, kita bisa mendeteksi ”pikiran kotor” yang perlu kita singkirkan dan kita ganti dengan ”pikiran positif” yang memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan. Dalam mengevaluasi, minimum ada dua pertanyaan penting yang bisa kita ajukan.
Pertama: Hal-hal apa yang telah saya lakukan dengan baik? Pasti ada hal-hal baik yang kita lakukan hari ini, misalnya: membantu orang lain (teman kantor, atasan, bawahan, nasabah), menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat, menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas yang lebih baik dari yang diharapkan? Lalu, bagaimana hal ini bisa saya pertahankan, atau saya tingkatkan lagi kualitasnya (dengan metode yang sama, dengan memodifikasi metode yang ada, atau mencoba metode baru).
Pertanyaan kedua: Kesalahan atau kegagalan apa yang telah saya lakukan hari ini? Selain kesuksesan, bisa saja hari ini kita melakukan sesuatu yang di bawah harapan kita, misalnya: terlambat menyelesaikan pekerjaan, melakukan kesalahan dalam pekerjaan, membuat nasabah marah. Kesalahan biasanya menimbulkan dampak yang kurang menyenangkan. Untuk itu kita perlu memikirkan apa yang perlu dilakukan untuk meminimumkan dampak negatif yang timbul dan memperbaiki kesalahan yang terjadi. Agar kesalahan ini tidak terjadi lagi, kita juga perlu mencari tahu penyebabnya dan memikirkan cara-cara baru/langkah-langkah preventif untuk menghindari terjadinya kesalahan yang sama.
#3 Melakukan Pembelajaran
“No learning, no glory.” Tanpa pembelajaran, tak akan ada kesuksesan. Orang yang sukses adalah orang-orang yang tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Dalam proses mencoba tersebut, mereka belajar sesuatu yang baru. Ketika mencoba sesuatu yang baru, mungkin saja mereka tidak langsung sukses, tetapi mengalami beberapa kali kegagalan sebelum akhirnya mereka belajar cara yang tepat untuk melakukannya. Mereka juga bisa belajar dari pengalaman orang lain (kegagalan orang lain, kesuksesan orang lain, percobaan yang dilakukan orang lain). Setelah meraih satu sukses pun mereka tetap tidak berhenti belajar. Mereka belajar hal baru lagi untuk meraih sukses baru. Jadi, pembelajaran ini tidak pernah berhenti. Ketika kita sibuk melakukan suatu pekerjaan, kita sering lupa untuk berhenti sejenak guna melakukan pembelajaran. Banyak alasan yang kita kemukakan: tak ada waktu, tak sempat, tak perlu. Padahal dengan ”satu jam” belajar, bisa saja kita menemukan bahwa arah kegiatan kita sudah melenceng dan perlu diluruskan; atau kita bisa belajar sesuatu yang baru yang bisa mempercepat atau meningkatkan kualitas pekerjaan kita.
#4 Melakukan Perencanaan
Ide, hasil evaluasi, dan hasil pembelajaran perlu diramu dalam satu rencana strategis untuk meraih masa depan yang lebih baik. Perencanaan penting untuk menindak-lanjuti ide yang telah dirumuskan ataupun pembelajaran yang kita dapatkan dari hasil evaluasi ataupun kegiatan ”belajar” agar hasilnya menjadi lebih optimal. Seperti biasanya, perencanaan perlu disusun berdasarkan prioritas (dari yang terpenting sampai yang kurang penting), dan waktu (mana yang harus diselesaikan lebih dulu, berapa lama waktu yang perlu dialokasikan untuk menyelesaikan hal tersebut). Lebih baik lagi jika kita bisa menyusun Rencana B, yaitu antisipasi yang bisa kita pikirkan jika kita mengalami hambatan untuk mewujudkan Rencana A (rencana awal yang kita susun). Perencanaan juga bisa dilakukan dengan pendekatan ”skenario”. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam ”skenario” ini bisa kita tetapkan. Misalnya, kita bisa menyusun rencana berdasarkan skenario kondisi optimistis, pesimistis, atau standar. Jadi, kita tidak akan kaget lagi jika ternyata kondisi yang terjadi tidak seperti skenario A, tapi lebih mendekati skenario B.
Kapan dan di Mana Melakukan Kegiatan ”Berpikir” ?
Kapan dan di mana kita bisa ”berpikir” secara khusus selama satu jam? Kita bisa menentukan sendiri waktu dan tempat yang paling pas untuk kita. Yang penting untuk dipertimbangkan adalah waktu dan tempat yang memungkinkan kita menyi3wsihkan satu jam dengan gangguan ataupun interupsi yang paling minimum.
Kapan?
Orang yang lebih bisa berpikir jernih di pagi hari, bisa mencoba melakukannya pagi-pagi sekali setelah berdoa, dan sebelum melakukan kegiatan lain. Bagi ”orang malam”, sore hari setelah selesai kerja atau bahkan malam hari sebelum tidur bisa dijadikan alternatif pilihan.
Di Mana ?
Sedangkan untuk tempat yang tepat, Jeffrey J. Fox mengusulkan untuk mencoba melakukannya di rumah, atau di tempat lain di luar kantor. Menurut Fox, jika kita melakukannya di kantor, kita mungkin akan menemukan lebih banyak gangguan/interupsi. Fox juga mengingatkan untuk tidak melakukannya ketika sedang mengemudi kendaraan (karena akan mengganggu konsentrasi mengemudi dan membahayakan lalu lintas).
Belajar dari Superhero
APA YANG DILAKUKAN ”SUPERHERO”?
Para superhero dunia khayal dan dunia nyata dihormati banyak orang karena melakukan berbagai hal positif sebagai berikut:
#1 Mempersembahkan Kemenangan.
Rama memenangkan perang terhadap Rahwana. Superman selalu dapat menumpas kejahatan para musuh dan tampil sebagai pemenang. Ibu Teresa mengalahkan kemiskinan dan penderitaan di daerah layanannya. Dewi Sartika menawarkan kemenangan atas penindasan hak-hak wanita untuk menikmati pendidikan. Jadi, bukan superhero namanya kalau tidak bisa mempersembahkan kemenangan. Bahkan kemenangan merupakan tujuan utama mereka setiap kali mereka menjalankan ”tugas” ke-superhero-an mereka (yaitu: memberantas ”kejahatan”). Tapi kemenangan ini sering kali harus diraih melalui berbagai kesulitan dan kegagalan sementara. Justru kesulitan dan kegagalan inilah yang menjadikan kemenangan yang dipersembahkan menjadi lebih ”besar” (kemenangan yang terlalu mudah untuk diraih tidak membutuhkan campur tangan seorang superhero). Yang menjadikan kemenangan ini juga lebih bermakna adalah karena kemenangan ini bukanlah untuk kepentingan mereka sendiri, melainkan untuk kepentingan yang lebih besar dari itu, yaitu kepentingan banyak orang (satu negara, satu benua, bahkan seluruh dunia).
#2 Menjadi Inspirasi.
Banyak orang ingin seperti mereka, karena apa pun yang dilakukan para superhero tersebut selalu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Kata-kata dan perbuatan Russel Crow sebagai pahlawan dalam film Gladiator membangkitkan semangat juang kaum tertindas. Demikian pula dengan Bung Tomo yang kata-katanya berhasil menginspirasi pemuda dan pemudi Indonesia untuk berjuang menghadang penjajah. Perbuatan mereka yang positif bagi banyak orang menjadi contoh bagi seluruh lapisan masyarakat untuk selalu menjunjung tinggi ”Kebaikan”. Sikap mereka yang santun (baik terhadap kawan maupun lawan) menumbuhkan rasa hormat orang lain kepada para superhero tersebut. Penampilan mereka yang segar juga memberi inspirasi bagi orang lain untuk tampil prima.
#3 Menjadi Solusi, bukan Masalah.
Menjadi solusi merupakan salah satu kualitas yang dimiliki semua superhero, baik yang di dunia khayal maupun dunia nyata. Batman selalu datang sebagai solusi bagi masyarakat di Gotham City. Romo Mangun juga menjadi solusi bagi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan di kota Yogyakarta. Ya, tiap superhero menawarkan solusi di bidang ”pelayanan” mereka masing-masing. Para superhero ini dikenal luas sebagai orang yang sama sekali tidak pelit untuk memberikan solusi kepada banyak orang. Mereka juga tidak segan-segan menawarkan solusi bagi orang lain untuk meraih sukses. Mereka tidak selalu menunggu sampai orang datang dan masalah menjelang; mereka bersikap proaktif untuk mengantisipasi masalah ataupun mencegah kesulitan. Membantu orang lain dengan menjadi solusi sepertinya sudah merupakan misi hidup mereka. Tidak heran jika para superhero ini selalu dicari ketika kesulitan datang, tantangan menjelang, musuh menghadang dan masalah tiba.
#4 Tampil Unggul.
Kualitas pekerjaan mereka yang selalu prima mendorong banyak orang agar senantiasa berusaha mempersembahkan yang terbaik yang bisa mereka usahakan. Kualitas kerja James Bond, sang mata-mata dari Inggris, tak pernah diragukan oleh lawan ataupun kawan. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Hatta, salah satu proklamator kita, yang juga adalah Bapak Koperasi, dalam mempersembahkan hasil karyanya (baik dalam bentuk pemikiran, tulisan, dan hasil kerja nyata).
Dalam menjalankan setiap tugas, para superhero tidak pernah setengah hati, mereka selalu serius dalam mempersembahkan hasil yang berkualitas unggul (jauh di atas rata-rata). Inilah yang merupakan salah satu senjata mereka untuk selalu meraih ”kemenangan” di tiap medan perjuangan mereka. Guna tampil unggul, mereka tekun berlatih, menambah ilmu dan keterampilan mereka. Untuk tampil prima, mereka memperhatikan detail dalam memetakan sukses di benak mereka, sebelum menerjemahkannya dalam bentuk tindakan nyata. Mereka juga selalu berusaha maksimal di tiap kegiatan yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka tidak pernah membandingkan kualitas dengan imbalan yang mereka terima. Mereka rela melakukannya tanpa imbalan sekalipun asalkan memberi kepuasan yang tinggi bagi diri sendiri dan orang lain, dan memberi manfaat bagi banyak orang.
BAGAIMANA MENELADANI ”SUPERHERO”?
Yang baru saja kita bahas adalah berbagai kualitas superhero yang mereka terjemahkan dalam perbuatan. Lalu bagaimana para superhero itu bisa menghasilkan perbuatan yang mengandung kualitas kepahlawanan seperti di atas? Inilah yang perlu juga kita teladani.
#1 Punya Mimpi.
Semua superhero mempunyai mimpi. Mimpi merekalah yang menjadikan para superhero ”besar” di mata banyak orang. Mimpi ini mereka tularkan kepada orang lain, sehingga melalui sinergi dengan banyak pihak, mereka berjuang bersama untuk merealisasikan mimpi tersebut. Hal yang sama juga terlihat pada para superhero di dunia nyata. Yasser Arafat ”bermimpi” untuk memberikan Tanah Air bagi rakyatnya. Mahatma Gandhi mempunyai ”mimpi” untuk memberikan kemerdekaan bagi bangsa India. Martin Luther King Jr. ”bermimpi” untuk membuat umat manusia dapat duduk berdampingan dan menikmati hak-hak mereka sebagai manusia. Ia bermimpi untuk membuat orang lain menghormati hak asasi manusia tanpa memandang ras, agama, kedudukan.
#2 Bicara Positif.
Para superhero tidak pernah berbicara negatif yang mematahkan semangat banyak orang. Dengan kata-kata mereka, mereka berhasil membuat orang merasa aman, dan memotivasi orang lain untuk melakukan hal-hal yang positif. Kalimat-kalimat mereka dikenang orang karena memberi inspirasi dan membuat hidup lebih berarti. J. F. Kennedy terkenal dengan kalimat legendarisnya: ”Jangan tanya apa yang negara telah berikan kepadamu, tetapi tanyalah apa yang sudah kamu berikan kepada negara.” Soekarno terkenal dengan kalimatnya yang mendorong orang untuk memiliki cita-cita: ”Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Kata-kata penyejuk dan pemberi semangat inilah yang membuat orang lain senang berteman, bersahabat dan berada di dekat para superhero.
#3 Kreatif.
Dalam memberikan solusi, para superhero menawarkan banyak alternatif jalan keluar. Kreativitas ini terbentuk karena mereka tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru dan tidak jemu-jemu mengasah otak mereka dengan pembelajaran berkelanjutan (membaca, berdiskusi dengan orang lain, berlatih, mencoba hal-hal baru). Semua ini dijadikan kebiasaan, bukannya dilakukan jika diperlukan saja, sehingga mereka pun menjadi terbiasa untuk berpikir dan bertindak kreatif. Siapa yang bisa membayangkan untuk berjuang dengan menuliskan surat saja? Inilah yang dilakukan oleh Kartini. Adat-istiadat yang kuat serta kondisi negara yang masih dalam penindasan kekuasaan lain membatasi gerak-gerik dan perjuangan Kartini. Namun, justru kendala-kendala inilah yang telah memacu Kartini untuk kreatif mencari ”senjata” lain untuk berjuang, yaitu melalui surat-suratnya dan melalui pendidikan, yaitu sekolah puteri yang didirikannya.
#4 Tidak Mementingkan Diri Sendiri.
Bukan superhero namanya jika mereka memikirkan diri sendiri dalam meraih kemenangan. Menjunjung tinggi kepentingan banyak orang membuat skala perjuangan para superhero melebihi kepentingan satu orang saja. Dengan menomorsatukan kepentingan orang banyak (yang akhirnya juga kepentingannya sendiri pasti terakomodasi dengan sendirinya), para superhero justru menunjukkan kebesarannya. Perjuangannya untuk banyak orang mengundang banyak pihak untuk turut membantunya meraih kemenangan.
Nelson Mandela yang rela mengambil risiko untuk dipenjara karena perjuangannya untuk menegakkan persamaan hak bagi bangsa kulit berwarna merupakan teladan yang telah melegenda. Mandela rela disiksa dan dipenjara untuk kepentingan banyak orang. Pengorbanannya yang akhirnya membawa kemenangan bagi bangsa kulit berwarna tidak hanya di Afrika Selatan tetapi juga di seluruh dunia untuk menikmati perlakuan yang sama dalam berbagai hal, menjadikannya seorang pemimpin besar yang dikagumi kawan dan lawan. Bayangkan kalau Mandela hanya mementingkan keselamatannya sendiri, dan tidak berani mengambil risiko yang telah dialaminya tersebut. Mungkin saja ia tidak akan dikenal banyak orang.
#5 Tidak Takut Berbeda.
Seorang superhero menjadi demikian karena ia ”berbeda” dari orang biasa. Ia tidak takut dengan perbedaannya ini. Perbedaan bisa saja berupa perbedaan fisik, perbedaan pendapat, perbedaan cara pandang, perbedaan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Seorang superhero tidak takut akan perbedaannya ini. Justru ia mengelola perbedaan tersebut menjadi manfaat bagi banyak orang.
Helen Keller yang secara fisik berbeda dari orang lain (ia buta, tuli, dan bisu) tidak minder terhadap ”perbedaan” fisiknya tersebut. Helen juga berbeda dalam cara berpikir. Jika kebanyakan orang berpikir bahwa seorang yang memiliki keterbatasan fisik adalah orang-orang yang malang, tak bisa berprestasi, dan hanya patut dikasihani saja, tidak demikian dengan Helen. Helen justru berjuang keras untuk membuktikan semua itu tidak benar melalui teladannya sendiri. Akhirnya, Helen berhasil dalam perjuangannya mengelola perbedaannya dan menunjukkan kepada dunia bahwa berbeda secara fisik dan pendapat bukan hambatan untuk maju. Keberaniannya inilah yang menjadikan Helen sebagai seorang superhero tidak hanya bagi mereka yang memiliki ”perbedaan” fisik, tetapi juga yang menganggap dirinya ”normal” secara fisik.
#6 Mulai dari Diri Sendiri.
Jika para superhero selalu pada akhirnya meraih kemenangan dan dihormati banyak orang serta kesuksesan perjuangan merek berdampak lintas tempat dan waktu, mengapa kita tidak meneladani mereka?
SELECT TOPIC (Just Click) :
- BOOK (36)
- BUSINESS - HOW TO ATTACK COMPETITOR (18)
- BUSINESS - HOW TO DEVELOP HUMAN RESOURCES (12)
- BUSINESS - HOW TO SELL TO CUSTOMER (11)
- BUSINESS - HOW TO START AND BUILD (21)
- FINANCIAL PLANNING (23)
- INVESTMENT - PORTFOLIO (5)
- INVESTMENT - PROPERTY (6)
- LOVE AND FRIENDSHIP (36)
- MINDSET (76)
- SAVE OUR WORLD (16)
- WHITE SWAN BIMBINGAN BELAJAR (11)
- WHITE SWAN ONLINE STORE (32)