White Swan Online Store

Selasa, 19 Mei 2009

Belajar dari Superhero

Superman, Spiderman, Batman, James Bond, McGyver. Pasti nama-nama ini tidak asing lagi bagi kita. Mereka adalah pahlawan dunia khayal yang sering muncul di layar lebar, layar kaca, maupun komik. Demikian pula dengan Tjut Njak Dhien, Mahatma Gandhi, Kartini, Martin Luther King Jr., Soekarno, Hatta, Ibu Teresa dan Yasser Arafat.

APA YANG DILAKUKAN ”SUPERHERO”?

Para superhero dunia khayal dan dunia nyata dihormati banyak orang karena melakukan berbagai hal positif sebagai berikut:

#1 Mempersembahkan Kemenangan.
Rama memenangkan perang terhadap Rahwana. Superman selalu dapat menumpas kejahatan para musuh dan tampil sebagai pemenang. Ibu Teresa mengalahkan kemiskinan dan penderitaan di daerah layanannya. Dewi Sartika menawarkan kemenangan atas penindasan hak-hak wanita untuk menikmati pendidikan. Jadi, bukan superhero namanya kalau tidak bisa mempersembahkan kemenangan. Bahkan kemenangan merupakan tujuan utama mereka setiap kali mereka menjalankan ”tugas” ke-superhero-an mereka (yaitu: memberantas ”kejahatan”). Tapi kemenangan ini sering kali harus diraih melalui berbagai kesulitan dan kegagalan sementara. Justru kesulitan dan kegagalan inilah yang menjadikan kemenangan yang dipersembahkan menjadi lebih ”besar” (kemenangan yang terlalu mudah untuk diraih tidak membutuhkan campur tangan seorang superhero). Yang menjadikan kemenangan ini juga lebih bermakna adalah karena kemenangan ini bukanlah untuk kepentingan mereka sendiri, melainkan untuk kepentingan yang lebih besar dari itu, yaitu kepentingan banyak orang (satu negara, satu benua, bahkan seluruh dunia).

#2 Menjadi Inspirasi.
Banyak orang ingin seperti mereka, karena apa pun yang dilakukan para superhero tersebut selalu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Kata-kata dan perbuatan Russel Crow sebagai pahlawan dalam film Gladiator membangkitkan semangat juang kaum tertindas. Demikian pula dengan Bung Tomo yang kata-katanya berhasil menginspirasi pemuda dan pemudi Indonesia untuk berjuang menghadang penjajah. Perbuatan mereka yang positif bagi banyak orang menjadi contoh bagi seluruh lapisan masyarakat untuk selalu menjunjung tinggi ”Kebaikan”. Sikap mereka yang santun (baik terhadap kawan maupun lawan) menumbuhkan rasa hormat orang lain kepada para superhero tersebut. Penampilan mereka yang segar juga memberi inspirasi bagi orang lain untuk tampil prima.

#3 Menjadi Solusi, bukan Masalah.
Menjadi solusi merupakan salah satu kualitas yang dimiliki semua superhero, baik yang di dunia khayal maupun dunia nyata. Batman selalu datang sebagai solusi bagi masyarakat di Gotham City. Romo Mangun juga menjadi solusi bagi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan di kota Yogyakarta. Ya, tiap superhero menawarkan solusi di bidang ”pelayanan” mereka masing-masing. Para superhero ini dikenal luas sebagai orang yang sama sekali tidak pelit untuk memberikan solusi kepada banyak orang. Mereka juga tidak segan-segan menawarkan solusi bagi orang lain untuk meraih sukses. Mereka tidak selalu menunggu sampai orang datang dan masalah menjelang; mereka bersikap proaktif untuk mengantisipasi masalah ataupun mencegah kesulitan. Membantu orang lain dengan menjadi solusi sepertinya sudah merupakan misi hidup mereka. Tidak heran jika para superhero ini selalu dicari ketika kesulitan datang, tantangan menjelang, musuh menghadang dan masalah tiba.

#4 Tampil Unggul.
Kualitas pekerjaan mereka yang selalu prima mendorong banyak orang agar senantiasa berusaha mempersembahkan yang terbaik yang bisa mereka usahakan. Kualitas kerja James Bond, sang mata-mata dari Inggris, tak pernah diragukan oleh lawan ataupun kawan. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Hatta, salah satu proklamator kita, yang juga adalah Bapak Koperasi, dalam mempersembahkan hasil karyanya (baik dalam bentuk pemikiran, tulisan, dan hasil kerja nyata).
Dalam menjalankan setiap tugas, para superhero tidak pernah setengah hati, mereka selalu serius dalam mempersembahkan hasil yang berkualitas unggul (jauh di atas rata-rata). Inilah yang merupakan salah satu senjata mereka untuk selalu meraih ”kemenangan” di tiap medan perjuangan mereka. Guna tampil unggul, mereka tekun berlatih, menambah ilmu dan keterampilan mereka. Untuk tampil prima, mereka memperhatikan detail dalam memetakan sukses di benak mereka, sebelum menerjemahkannya dalam bentuk tindakan nyata. Mereka juga selalu berusaha maksimal di tiap kegiatan yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka tidak pernah membandingkan kualitas dengan imbalan yang mereka terima. Mereka rela melakukannya tanpa imbalan sekalipun asalkan memberi kepuasan yang tinggi bagi diri sendiri dan orang lain, dan memberi manfaat bagi banyak orang.

BAGAIMANA MENELADANI ”SUPERHERO”?

Yang baru saja kita bahas adalah berbagai kualitas superhero yang mereka terjemahkan dalam perbuatan. Lalu bagaimana para superhero itu bisa menghasilkan perbuatan yang mengandung kualitas kepahlawanan seperti di atas? Inilah yang perlu juga kita teladani.

#1 Punya Mimpi.
Semua superhero mempunyai mimpi. Mimpi merekalah yang menjadikan para superhero ”besar” di mata banyak orang. Mimpi ini mereka tularkan kepada orang lain, sehingga melalui sinergi dengan banyak pihak, mereka berjuang bersama untuk merealisasikan mimpi tersebut. Hal yang sama juga terlihat pada para superhero di dunia nyata. Yasser Arafat ”bermimpi” untuk memberikan Tanah Air bagi rakyatnya. Mahatma Gandhi mempunyai ”mimpi” untuk memberikan kemerdekaan bagi bangsa India. Martin Luther King Jr. ”bermimpi” untuk membuat umat manusia dapat duduk berdampingan dan menikmati hak-hak mereka sebagai manusia. Ia bermimpi untuk membuat orang lain menghormati hak asasi manusia tanpa memandang ras, agama, kedudukan.

#2 Bicara Positif.
Para superhero tidak pernah berbicara negatif yang mematahkan semangat banyak orang. Dengan kata-kata mereka, mereka berhasil membuat orang merasa aman, dan memotivasi orang lain untuk melakukan hal-hal yang positif. Kalimat-kalimat mereka dikenang orang karena memberi inspirasi dan membuat hidup lebih berarti. J. F. Kennedy terkenal dengan kalimat legendarisnya: ”Jangan tanya apa yang negara telah berikan kepadamu, tetapi tanyalah apa yang sudah kamu berikan kepada negara.” Soekarno terkenal dengan kalimatnya yang mendorong orang untuk memiliki cita-cita: ”Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Kata-kata penyejuk dan pemberi semangat inilah yang membuat orang lain senang berteman, bersahabat dan berada di dekat para superhero.

#3 Kreatif.
Dalam memberikan solusi, para superhero menawarkan banyak alternatif jalan keluar. Kreativitas ini terbentuk karena mereka tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru dan tidak jemu-jemu mengasah otak mereka dengan pembelajaran berkelanjutan (membaca, berdiskusi dengan orang lain, berlatih, mencoba hal-hal baru). Semua ini dijadikan kebiasaan, bukannya dilakukan jika diperlukan saja, sehingga mereka pun menjadi terbiasa untuk berpikir dan bertindak kreatif. Siapa yang bisa membayangkan untuk berjuang dengan menuliskan surat saja? Inilah yang dilakukan oleh Kartini. Adat-istiadat yang kuat serta kondisi negara yang masih dalam penindasan kekuasaan lain membatasi gerak-gerik dan perjuangan Kartini. Namun, justru kendala-kendala inilah yang telah memacu Kartini untuk kreatif mencari ”senjata” lain untuk berjuang, yaitu melalui surat-suratnya dan melalui pendidikan, yaitu sekolah puteri yang didirikannya.

#4 Tidak Mementingkan Diri Sendiri.
Bukan superhero namanya jika mereka memikirkan diri sendiri dalam meraih kemenangan. Menjunjung tinggi kepentingan banyak orang membuat skala perjuangan para superhero melebihi kepentingan satu orang saja. Dengan menomorsatukan kepentingan orang banyak (yang akhirnya juga kepentingannya sendiri pasti terakomodasi dengan sendirinya), para superhero justru menunjukkan kebesarannya. Perjuangannya untuk banyak orang mengundang banyak pihak untuk turut membantunya meraih kemenangan.
Nelson Mandela yang rela mengambil risiko untuk dipenjara karena perjuangannya untuk menegakkan persamaan hak bagi bangsa kulit berwarna merupakan teladan yang telah melegenda. Mandela rela disiksa dan dipenjara untuk kepentingan banyak orang. Pengorbanannya yang akhirnya membawa kemenangan bagi bangsa kulit berwarna tidak hanya di Afrika Selatan tetapi juga di seluruh dunia untuk menikmati perlakuan yang sama dalam berbagai hal, menjadikannya seorang pemimpin besar yang dikagumi kawan dan lawan. Bayangkan kalau Mandela hanya mementingkan keselamatannya sendiri, dan tidak berani mengambil risiko yang telah dialaminya tersebut. Mungkin saja ia tidak akan dikenal banyak orang.

#5 Tidak Takut Berbeda.
Seorang superhero menjadi demikian karena ia ”berbeda” dari orang biasa. Ia tidak takut dengan perbedaannya ini. Perbedaan bisa saja berupa perbedaan fisik, perbedaan pendapat, perbedaan cara pandang, perbedaan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Seorang superhero tidak takut akan perbedaannya ini. Justru ia mengelola perbedaan tersebut menjadi manfaat bagi banyak orang.
Helen Keller yang secara fisik berbeda dari orang lain (ia buta, tuli, dan bisu) tidak minder terhadap ”perbedaan” fisiknya tersebut. Helen juga berbeda dalam cara berpikir. Jika kebanyakan orang berpikir bahwa seorang yang memiliki keterbatasan fisik adalah orang-orang yang malang, tak bisa berprestasi, dan hanya patut dikasihani saja, tidak demikian dengan Helen. Helen justru berjuang keras untuk membuktikan semua itu tidak benar melalui teladannya sendiri. Akhirnya, Helen berhasil dalam perjuangannya mengelola perbedaannya dan menunjukkan kepada dunia bahwa berbeda secara fisik dan pendapat bukan hambatan untuk maju. Keberaniannya inilah yang menjadikan Helen sebagai seorang superhero tidak hanya bagi mereka yang memiliki ”perbedaan” fisik, tetapi juga yang menganggap dirinya ”normal” secara fisik.

#6 Mulai dari Diri Sendiri.
Sebelum berhasil berjuang meraih kemenangan bagi banyak orang dan membawa perubahan positif bagi lingkungannya, seorang superhero umumnya memulai perjuangan dengan mengubah diri sendiri terlebih dahulu. Ia mengubah cara pandangnya, nilai-nilai yang diperjuangkannya, dan tindakannya dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi. Sebelum berjuang meyakinkan dunia bahwa kemerdekaan itu penting, hak asasi manusia perlu dihormati, Mahatma Gandhi meyakinkan dirinya sendiri dulu. Demikian pula dengan Ki Hajar Dewantoro yang berhasil meyakinkan Indonesia bahwa pendidikan itu penting. Untuk itu, ia meyakinkan diri sendiri dan memulai dengan membangun sekolahnya sendiri dulu, sebelum akhirnya tindakannya diikuti dan dijadikan inspirasi bagi orang lain.

Jika para superhero selalu pada akhirnya meraih kemenangan dan dihormati banyak orang serta kesuksesan perjuangan merek berdampak lintas tempat dan waktu, mengapa kita tidak meneladani mereka?

Selasa, 05 Mei 2009

Revo-Q : Sudahkah Anda Memilikinya?

IQ (kemampuan intelektual), EQ (kemampuan mengelola emosi), SQ (kemampuan bersosialisasi), Entre-Q (kemampuan wirausaha). Mungkin Anda sudah pernah mendengar sederetan istilah ini. Anda juga mungkin setuju bahwa berbagai kemampuan ini memang diperlukan untuk sukses. Jangan cepat setuju dulu.
Ada satu lagi kemampuan yang perlu Anda pupuk untuk meraih sukses saat ini: Revo-Q. Sama seperti ”...Q” yang lainnya, Revo-Q atau Revolution Quotient juga merupakan kemampuan yang perlu kita pupuk untuk tampil sebagai pemenang. Semakin tinggi Revo-Q kita, semakin besar kesempatan kita untuk tampil terdepan di mana pun kita ditempatkan. Komponen apa saja yang membentuk Revo-Q? Bagaimana kita meningkatkan Revo-Q? Simak yang berikut.

MENGAPA PERLU REVOLUSI ?

Tanpa revolusi, bangsa Indonesia mungkin sampai saat ini masih berada dalam belenggu penjajahan. Tanpa revolusi, Singapura negara kecil dengan kekayaan alam terbatas, tidak akan menjadi pusat bisnis dunia. Revolusi tidak hanya diperlukan oleh sebuah negara atau bangsa, tetapi juga oleh individu. Coba kita lihat Bill Gates dengan kerajaan Microsoftnya, Sam Walton dengan Walmartnya, serta Pierre Omiday dengan e-bay-nya. Tanpa revolusi, para multimilioner ini tidak mungkin bisa setenar dan sesukses sekarang. Mengapa demikian? Tom Peters, pembicara kondang yang sering menelorkan ide-ide revolusioner, mengungkapkan bahwa di medan persaingan yang superketat saat ini, menggulirkan perubahan saja tidak lagi cukup untuk bertahan hidup, apalagi jika ingin selalu tampil terdepan dalam persaingan. Teknologi berubah cepat. Ilmu pengetahuan juga selalu mempersembahkan inovasi baru. Semua orang telah melakukan perubahan untuk memanfaatkan perubahan teknologi dan ilmu pengetahuan tersebut. Para pesaing juga tidak mau ketinggalan untuk menggulirkan perubahan. Lalu, bagaimana kita dapat tampil beda dari orang kebanyakan? Jawabannya singkat saja: revolusi (melakukan perubahan cepat, lebih cepat dari lingkungan).

KOMPONEN REVOLUSI

Setelah kita menyadari pentingnya Revolusi, tentunya kita ingin tahu pula komponen-komponen dasar yang diperlukan untuk membangun Revo-Q. Ada banyak komponen yang membentuk revolusi, tiga di antaranya yang terpenting adalah:

#1 Mimpi
Mimpi merupakan komponen dasar atau fondasi dari sebuah revolusi. Tanpa mimpi, revolusi tak akan pernah terjadi. Manusia berhasil terbang karena mimpi yang dijadikan nyata oleh Wright bersaudara. Manusia bisa menjejakkan kaki di bulan karena diawali oleh mimpi. Wanita Indonesia bisa berprestasi, karena mimpi Ibu Kartini dan para pejuang hak-hak asasi wanita lainnya untuk merevolusi budaya yang membatasi kesempatan wanita untuk sukses. Warga kulit berwarna di Afrika Selatan bisa menikmati fasilitas yang sama karena mimpi seorang Nelson Mandela untuk meraih persamaan hak tersebut.

#2 Keberanian
Mimpi hanya tinggal mimpi tanpa adanya keberanian. Keberanian yang seperti apa? Keberanian untuk mencoba, keberanian untuk bertindak, keberanian untuk gagal, keberanian untuk melakukan kesalahan. Keberanian yang luar biasa juga diperlukan untuk belajar dari kegagalan dan kesalahan, dan keberanian untuk bangkit kembali dari kegagalan dan kesalahan.
Apa jadinya jika Thomas Alva Edison tidak berani mencoba lagi ketika ia gagal untuk yang ke-99 kali? Apa jadinya jika Helen Keller, yang buta, bisu dan tuli, tidak mau lagi mencoba berkomunikasi dengan dunia setelah seringkali dilanda kekecewaan dan kekesalan karena kesalahan yang dilakukannya dan kesulitan yang dialaminya? Yang pasti, kita tidak akan pernah mendengar nama mereka dan tidak akan pernah menikmati hasil revolusi yang mereka gulirkan.

#3 Pengetahuan
Mimpi, keberanian tanpa upaya untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan juga akan sia-sia. Pengetahuan merupakan bekal untuk mewujudkan mimpi. Pengetahuan juga merupakan faktor penyeimbang bagi keberanian. Pengetahuan tanpa keberanian, tak akan membawa hasil. Keberanian tanpa pengetahuan merupakan tindakan yang sia-sia juga.
Setelah memiliki mimpi untuk membuat orang mampu berkomunikasi jarak jauh dengan orang lainnya, Alexander Graham Bell, penemu telepon, mempelajari segala sesuatu yang diperlukan untuk mewujudkan mimpinya. Setelah menyadari bahwa telah terjadi diskriminasi perlakuan pada bangsa kulit berwarna, Martin Luther King Jr. memulai perjuangannya menegakkan hak asasi manusia dengan terlebih dahulu menimba pengetahuan tentang undang-undang, dokumen hukum dan dokumen lainnya yang dapat menunjang perjuangannya menegakkan HAM.

BAGAIMANA MENINGKATKAN REVO-Q ?

Setelah memiliki semua komponen yang diperlukan untuk membangun Revo-Q, pertanyaan selanjutnya adalah: Bagaimanakah caranya meningkatkan Revo-Q ?

#1 Melampaui Keterbatasan
Semua orang pasti memiliki keterbatasan. Untuk meningkatkan Revo-Q, kenali keterbatasan tersebut, dan lampaui berbagai keterbatasan ini. Caranya? Tentu saja pembelajaran berkelanjutan yang senantiasa dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan baru. Siapa yang menyangka jika dulu Albert Einstein termasuk anak yang dianggap ”lemah” secara akademis di sekolah? Jika pada waktu itu Albert Einstein menyerah pada keterbatasan akademisnya, ia tidak akan menjadi ilmuwan besar. Siapa yang menyangka jika mantan Perdana Menteri Inggris yang legendaris tidak berhasil menyelesaikan jenjang perguruan tingginya karena keterbatasan dana? Keterbatasan dana ini dikalahkannya dengan belajar mandiri. Ke mana pun ia pergi Churchill selalu membawa buku-buku untuk menambah pengetahuannya. Kebiasaannya membaca berbagai buku akhirnya membuka wawasan berpikir serta menumbuhkan kemampuannya menulis.

#2 Melampaui Imajinasi
Untuk melakukan revolusi, jangan membatasi diri dengan apa yang kita rasakan, kita lihat, kita dengar, ataupun yang kita pegang. Gunakan kreativitas secara optimal dengan keluar dari kotak ”imajinasi”. Bila kita masih bisa melihatnya, merasakannya, memegangnya ataupun mendengarnya, berarti itu sudah ”usang”. Think out of the Box !
Jika kita bisa merasakannya dengan indera kita, orang lain pun juga pasti bisa. Jika orang lain bisa, berarti itu bukan hal baru lagi. Agar selalu tampil terdepan, kita perlu menajamkan kreativitas dengan mencari ataupun menciptakan yang belum bisa kita lihat, kita pegang, kita dengar ataupun kita rasakan. Bahkan Eleanor Roosevelt menantang kita untuk melakukan hal yang kita pikir kita tidak bisa lakukan. Hanya dengan demikian (melakukan yang belum bisa kita lakukan), kita tertantang untuk selalu merevolusi diri.

#3 Melampaui Perubahan
Jika kita hanya berubah sejalan dengan perubahan lingkungan kita, kita akan berjalan di tempat. Jika ingin maju, lampaui kecepatan perubahan di lingkungan kita. Hanya dengan demikian kita dapat tampil beda, dan bisa menjadi pemimpin yang mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.
Ketika produser sinetron menawarkan film layar kaca yang menonjolkan ”penampakan”, kekerasan, kekayaan, dan perselingkuhan, Bajaj Bajuri melampaui perubahan dengan menawarkan kesegaran dan kesederhanaan kehidupan rakyat biasa. Ketika para pemimpin dunia berlomba memenangkan peperangan, memberantas kejahatan dengan kekerasan, Ibu Teresa dengan kelembutan menggalang persatuan, menawarkan kasih pada kaum yang tertindas. Pada saat berbagai talk show menawarkan berbagai diskusi mengenai skandal politik, krisis ekonomi, pelecehan sosial dan perusakan budaya, Aa Gym menawarkan siraman rohani. Hasilnya? Tokoh-tokoh inilah yang terlihat menonjol karena berhasil merevolusi dunia tempat mereka berkarya.

#4 Melampaui Kemapanan
Kemapanan membuat orang terlena untuk tidak melakukan perbaikan. Orang yang sudah puas dengan kemapanan yang telah dicapainya, cenderung tidak berpikir dan berusaha lagi untuk merevolusi kemapanannya tersebut dengan melakukan berbagai perbaikan (mereka berpikir: mengapa harus diperbaiki jika kondisi saat ini sudah bisa memberikan kepuasan).
Kepuasan tidak akan bertahan lama, karena jika kita tidak menggulirkan revolusi, orang lainlah yang akan melakukannya. Jika orang lain yang melakukan, mereka akan tampil terdepan, sementara kita akan tertinggal di belakang. Barnes dan Noble, perusahaan penjualan buku tingkat dunia, terlena dengan kemampanan dan kebesarannya, sehingga mereka tidak mengira jika ada perusahaan kecil ”Amazon.com” yang bisa merevolusi industri penjualan buku.
Hal yang sama juga terjadi dengan Amerika Serikat yang terlena dengan kemapanan industri otomotifnya. Mereka tidak mengira, jika Jepang yang bergerak cepat berhasil merevolusi pasar mobil besar di Amerika Serikat dengan memperkenalkan mobil kecil yang gesit dan hemat bensin. Hal yang sama juga dialami Jepang yang terlena kemapanan di industri elektronik dan tidak mengira Korea dan Cina yang mulai menunjukkan keadidayaannya di industri yang selama ini dikuasai oleh negara matahari terbit tersebut. Jadi, jika kita sudah mapan, jangan puas dulu, justru sebaliknya, lampaui kemapanan dengan senantiasa. Sepuluh tahun lalu, telepon genggam, masih merupakan barang mahal yang hanya dimiliki orang-orang tertentu saja. Sekarang, tukang ojek langganan penulis pun sudah mengantongi telepon genggam tersebut. Tahun lalu, telepon genggam berkamera masih merupakan barang langka, sekarang, semua telepon genggam keluaran baru sudah berkamera.
Apa artinya semua ini? Dunia berubah. Perubahan yang terjadi makin lama makin cepat. Jika kita tidak ingin terlindas perubahan, dan ingin selalu tampil terdepan di tempat kita berkarya, jangan sekedar mengikuti perubahan saja, tetapi lampaui perubahan tersebut dengan menggulirkan revolusi. Selamat mencoba.

Prosperity-Q

Mungkin Anda sudah pernah mendengar tentang IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), SQ (Social Quotient), atau Entre-Q (Entrepreneurship Quotient). Lalu, bagaimana dengan yang satu ini: Prosperity-Q? Jika IQ adalah tingkat kecerdasan, EQ adalah tingkat kematangan emosi, SQ adalah tingkat kemampuan bersosialisasi, dan Entre-Q adalah tingkat kemampuan berbisnis, maka PQ atau Prosperity-Q adalah tingkat kemampuan Anda meraih kemakmuran.

Bagaimana meningkatkan PQ? Cara-cara berikut yang sudah diterapkan oleh para makmur-wan (orang yang sudah meraih kemakmuran) untuk meningkatkan PQ mereka bisa Anda pelajari. Siapa tahu ada yang cocok untuk Anda?

#1 ”DEFINE IT”!
Pada suatu hari seorang pebisnis sedang berkunjung ke sebuah perkampungan nelayan. Di sana ia bertemu dengan seorang nelayan yang sedang santai bercengkerama dengan anak dan isterinya. Sang pebisnis pun menasihatinya: ”Anda harus bekerja keras untuk meraih kemakmuran. Dengan kerja keras, Anda bisa menabung. Hasil tabungan bisa Anda belikan kapal motor milik Anda sendiri. Kapal motor ini bisa Anda gunakan untuk mendapatkan lebih banyak ikan, sehingga Anda pun bisa mendapatkan lebih banyak uang. Uang yang Anda peroleh bisa Anda gunakan untuk diinvestasikan bagi kemakmuran di hari tua. Setelah Anda pensiun Anda tidak perlu takut miskin, karena sudah memiliki banyak uang dan Anda bisa membahagiakan anak dan isteri Anda.”
Sang nelayan yang mendengarkan nasihat pebisnis itu pun lalu menjawab: ”Mengapa harus menunggu begitu lama? Sekarang pun saya sudah bisa berbahagia dengan anak dan isteri saya.” Dari cerita ini terlihat bahwa definisi kemakmuran satu orang dengan yang lain ternyata tidak harus sama. Jadi, kenali, definisikan dan gambarkan kemakmuran yang ingin Anda raih (apa pun bentuk dan kondisinya). Hanya dengan demikian, Anda bisa menyusun strategi untuk meraihnya dan bisa mengenalinya dengan mudah dan menikmatinya ketika kemakmuran yang Anda cita-citakan berhasil Anda wujudkan. Atau, mungkin saja saat ini Anda sudah meraihnya, seperti yang dirasakan oleh nelayan dalam ilustrasi di atas?

#2 ”DREAM IT”!
Anda ingin meraih kemakmuran? Mimpikanlah kemakmuran tersebut. Tanpa memiliki ”mimpi” mengenai kemakmuran, maka Anda tidak akan pernah meraihnya. ”Mimpi” merupakan manifestasi dari keinginan yang dalam. Jika Anda sudah memimpikannya, berarti Anda sudah menginginkannya. Menurut Walt Disney, jika Anda sudah bisa memimpikannya, pasti Anda juga mampu mewujudkannya. Makin dalam keinginan, makin jelas mimpi, maka makin besar kekuatan yang mendorong Anda untuk merealisasikannya. Takashi Ishihara mempunyai mimpi dan keinginan untuk menjebol pasar mobil Amerika Serikat dengan mobil kecil dan irit yang diproduksi perusahaannya. Banyak orang meragukan kemampuan Ishihara tersebut, karena Perang Dunia II baru saja usai, dan bangsa Amerika masih dianggap ”alergi” terhadap segala sesuatu yang diasosiasikan dengan Jepang. Tetapi mimpi Ishihara begitu jelas dan keinginannya begitu kuat sehingga ia bisa menyusun strategi ampuh dan meyakinkan seluruh karyawannya untuk bersama-sama mewujudkan mimpi itu.
Keyakinannya ini juga berhasil membawa Ishihara mendaratkan mobil Nissan Sunny di negara Amerika Serikat, yang pada waktu itu masih menyetir mobil besar dan boros. Dengan kesadaran warga Amerika Serikat yang makin tinggi akan perlunya penghematan energi, penjualan mobil Nissan Sunny di negara adidaya ini semakin melaju. Ishihara pun berhasil meraih sukses dan kemakmuran yang diimpikannya.

#3 ”THINK IT POSSIBLE”!
Setelah Anda memiliki mimpi yang jelas dan keinginan yang kuat untuk meraihnya, maka Anda tidak perlu takut untuk memikirkan cara jitu yang harus Anda ambil. Yang paling penting hanya berpikir bahwa kemakmuran tersebut sangat mungkin Anda raih. Dengan pikiran seperti ini, secara otomatis Anda akan terdorong untuk menemukan berbagai strategi mewujudkan kemungkinan tersebut menjadi kenyataan.
Hendricks dan Ludeman dalam bukunya Corporate Mystic menceritakan tentang teman mereka (seorang wanita) yang ingin mengubah nasibnya dengan belajar untuk menjadi dokter pada usianya yang ke-44 tahun. Semua orang di sekitar wanita tersebut mengatakan bahwa ia tidak akan mungkin diterima oleh universitas mana pun juga mengingat usianya yang sudah hampir setengah abad.
Namun, wanita tersebut tidak kecil hati karena ia yakin bahwa keinginannya tersebut ”mungkin” terealisasi. Lalu ia mendaftar di beberapa universitas di Amerika Serikat. Semuanya menolak. Sang wanita tidak putus asa, ia akhirnya mendaftar di sebuah universitas di Belanda dan ternyata universitas tersebut menerimanya dengan senang hati.
Tiga bulan sebelum kuliah, wanita Amerika itu belajar bahasa Belanda dari nol. Karena tekatnya yang kuat, dalam tiga bulan ia berhasil menguasai bahasa Belanda yang cukup untuk berkomunikasi. Dengan tekatnya yang kuat, ia juga berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi dokter. Pada saat buku Hendricks dan Ludeman ditulis, tahun 1996, wanita tersebut sudah menjadi dokter yang handal dan berhasil mengubah nasibnya dan meningkatkan pendapatannya menuju kemakmuran yang dicita-citakan.

#4 ”GET IT”!
Setelah Anda berpikir bahwa mimpi Anda ”mungkin” sekali tercapai. Langkah berikutnya adalah mengambil tindakan nyata untuk merealisasikannya. Mimpi tanpa tindakan adalah sia-sia. Tindakan tanpa mimpi atau arahan yang jelas juga merupakan tindakan yang sia-sia karena tindakan yang diambil menjadi tidak terarah. Tindakan meraih mimpi ini memerlukan tiga kunci utama, yaitu: keyakinan sukses, komitmen, dan ketahanan yang tinggi. Kenichi Ohmae, ”management guru” terkemuka di dunia, menambahkan dua kunci sukses lagi. Ohmae melihat perlunya bagi semua orang, terutama pelaku bisnis, untuk mewujudkan mimpi melalui tindakan proaktif dan cara berpikir inovatif.
Perputaran roda perubahan dengan kecepatan yang luar biasa dan persaingan yang hiperkompetitif menuntut semua orang untuk tidak hanya mengambil sikap menunggu atau baru bereaksi ketika menghadapi masalah, melainkan mengambil sikap proaktif (mengantisipasi masalah dan menciptakan solusi sebelum masalah tersebut terjadi) dalam meraih mimpi mereka, agar tidak dilindas oleh pesaing. Pelaku bisnis juga dituntut untuk berpikir inovatif untuk mencoba berbagai cara baru ataupun cara yang berbeda untuk mewujudkan mimpi tersebut. Jadi ketika satu cara gagal, ada cara lain yang sudah disiapkan.

#5 ”ENJOY IT”!
Secangkir kopi hangat yang dinikmati seteguk demi seteguk akan terasa lebih nikmat daripada secangkir kopi yang diminum sekali teguk saja. Demikian pula dengan kemakmuran. Jika Anda sudah memiliki gambaran yang jelas akan kemakmuran yang ingin Anda capai, maka ketika kemakmuran itu benar-benar terwujud Anda bisa langsung mengenalinya. Namun, Anda tidak perlu menunggu sampai kemakmuran total yang Anda impikan tercapai.
Mulailah menikmati tiap jengkal kemakmuran yang berhasil Anda raih sedikit demi sedikit. Seperti nelayan pada ilustrasi sebelumnya yang menikmati apa yang ia miliki saat ini (tidak menunggu sampai seluruh cita-citanya mengenai kemakmuran tercapai). Kenikmatan ini bisa memacu Anda untuk lebih giat lagi mewujudkan kemakmuran di tingkat berikutnya.

#6 ”SHARE IT”!
Beban yang dipikul bersama akan terasa lebih ringan, sedangkan kemakmuran yang dinikmati bersama akan terasa lebih manis. Kemakmuran-kemakmuran ”kecil” yang berhasil Anda raih dalam perjalanan menuju kemakmuran besar akan terasa lebih manis dan bermakna jika Anda menikmatinya bersama orang lain. Dengan ”membagikan” kenikmatan tersebut Anda berinvestasi kebaikan pada rekening emosi orang lain. Semakin besar investasi kebaikan Anda, semakin sayang dan hormat orang lain terhadap Anda, maka semakin besar lingkaran pengaruh Anda pada orang-orang yang Anda ajak berbagi tersebut.
Dr. Stan Shih, raja komputer dari Taiwan, yang ikut membangun merek Acer percaya bahwa manusia perlu menciptakan nilai untuk memberikan sumbangan bagi masyarakat di sekitarnya. Dengan prinsip inilah Stan Shih banyak melakukan kegiatan sosial dan kemasyarakatan, dan memberikan sumbangan penting bagi masyarakat sekitarnya. Kegiatan dan sumbangan ini tidak melulu harus berhubungan dengan bisnis dan uang, namun bisa berupa ide, usulan, artikel, ceramah, buku, nasihat dan berbagi pengalaman bisnis dengan keluarga dan masyarakat yang dilayaninya. Lagi pula para orang bijak mengatakan bahwa ukuran sukses seseorang bukan ditentukan oleh seberapa besar prestasinya, melainkan seberapa banyak jumlah orang yang diajaknya untuk berbagi sukses.
Sudah siapkah Anda meraih kemakmuran? Jangan lupa enam kunci sukses meraih kemakmuran yang baru saja kita bahas. Jadi, tunggu apa lagi? Definisikan kemakmuran Anda, mimpikan, miliki pikiran bahwa kemakmuran tersebut mungkin tercapai, ambil tindakan, nikmati kemakmuran kecil yang berhasil Anda raih, dan berbagilah dengan orang lain di sekitar Anda untuk melipatgandakan kenikmatan dari kemakmuran yang Anda raih. Selamat meraih kemakmuran.

Sabtu, 02 Mei 2009

White Swan Online Store