White Swan Online Store

Senin, 05 Mei 2008

Think Smart : Dapat Lebih, Kerja Kurang

Agar dapat lebih banyak, tentunya harus kerja lebih banyak dan lebih keras juga. Ini yang biasa kita dengar sebagai nasehat bisnis untuk sukses, tetapi hal ini tidak berlaku lagi di jaman hiperkompetisi seperti sekarang. Begitu banyak yang harus dikerjakan dalam waktu dan sumber daya yang sangat terbatas membuat kita harus mencari jalan “cerdas” untuk tetap unggul. Jika kita mengikut pepatah “jadoel” (jaman dulu) di kalimat pertama tersebut, bisa-bisa kita tersusul oleh pesaing sementara kita sedang menghabiskan waktu untuk bekerja keras menguras tenaga, pikiran, dan dana. Lalu apa solusinya? Baca terus yang berikut.
“Think Smart: Kenapa?”
Untuk mendapat “lebih” dengan kerja yang “kurang”, berpikir kreatif saja tidaklah cukup lagi. Yang lebih tepat untuk kita lakukan adalah berpikir cerdas. Mengapa demikian? Donna C.L Prestwood dan Paul A. Schumann, Jr mengusulkan beberapa alasan di bawah ini.
“Customer driven”
Kita dituntut oleh pelanggan (customer) kita (pihak-pihak yang mengkonsumsi layanan kita: atasan, bawahan, rekan sekerja, pembeli) untuk tampil prima secara terus menerus, dengan kejutan-kejutan baru. Hal ini perlu dilakukan agar kita tetap mendapat tempat di “hati” mereka. Jika kita tidak melakukan hal ini, apapun yang kita hasilkan menjadi membosankan (mudah ditebak, tidak ada yang baru, dan tidak menarik lagi).
“Competitor driven”
Pesaing (competitor) para pendatang baru juga memaksa kita untuk tampil “lebih” di segala bidang, misalnya: Lebih baik dalam kualitas produk, layanan, waktu, dan sumber daya. Tampil “lebih” di segala bidang sulit dicapai tanpa cara berpikir cerdas.
“Technology driven”
Teknologi merupakan bagian yang telah menyatu dengan denyut nadi dunia bisnis saat ini yang penuh dengan perubahan yang berputar dengan cepat. Teknologi berkembang pesat, demikian pula dengan perubahan dalam dunia bisnis. Untuk itu, mengikuti perubahan dunia bisnis saja tidaklah cukup, kita juga perlu merangkul perubahan dalam teknologi. Jika hal ini tidak dilakukan, maka kita akan jauh tertinggal.
“Stakeholders driven”
Para pemangku kepentingan atau stakeholders disini mencakup pihak yang menjalin hubungan bisnis dengan kita. Mereka akan berbisnis dengan kita jika kita senantiasa menawarkan apa yang mereka perlukan. Masalahnya, kebutuhan pemangku kepentingan selalu berubah, dan ini harus kita cermati terus agar kita ataupun produk yang kita tawarkan tetap dibutuhkan dan dicari.
“Project driven”
Setiap produk atau jasa yang kita tawarkan merupakan sebuah proyek yang perlu diselesaikan dengan baik: tepat waktu, tepat dana, tepat sasaran, tepat guna, dan maksimal keuntungan. Ketika satu proyek selesai, perlu dilanjutkan dengan proyek baru. Proyek baru ini bisa saja merupakan perbaikan, modifikasi dari proyek sebelumnya atau proyek yang baru sama sekali.
”Resources driven”
Sukses sulit diraih oleh satu orang saja ataupun satu jenis sumber daya (resources) saja. Tenaga, pikiran, keahlian ataupun sumber daya yang dimiliki orang tersebut terbatas apalagi untuk menghasilkan sesuatu yang spektakuler. Untuk itu diperlukan cara berpikir “cerdas” untuk memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal, dengan hasil yang optimal juga.
“Culture driven”
Dunia bisnis beroperasi di tengah masyarakat yang menjadi target pasarnya. Kegiatan operasi bisnis ini tidak bisa lepas dari pengaruh budaya (culture) masyarakat sasaran. Untuk itulah, semua pihak yang berkecimpung di industri ini, harus selalu berpikir dan bertindak cerdas untuk terus mengamati dan menindaklanjuti perubahan budaya yang terjadi di masyarakat yang menjadi target pasarnya. Umumnya, jika terjadi pergeseran budaya, akan terjadi pula pergeseran selera dan kebutuhan (selera dan kebutuhan inilah yang perlu dipuaskan).

“Think Smart: Bagaimana?”
Nah, sekarang kita sudah sadar bahwa berpikir cerdas itu penting untuk tetap eksis di dunia bisnis. Lalu bagaimana caranya?
“Think Positive”
Umumnya, jika kita menghadapi masalah, atau hambatan yang besar, kita cenderung cepat menyerah. Tetapi, dengan berpikir cerdas, kita akan terpacu untuk berpikir positif. Dari pada mengeluh “Aduh, masalahnya besar sekali” atau “Ampun, hambatannya kompleks sekali”, orang yang berpikir positif akan berpikir “Masalah memang besar, tetapi pasti bisa diatasi”, atau “Hambatan memang kompleks, tetapi pasti bisa dicarikan cara untuk menyederhanakannya sehingga lebih mudah untuk ditangani.” Dengan cara berpikir seperti ini, kita akan terpacu untuk mencari “jalan keluar”. Siapa yang mencari, dia akan mendapat. Jadi, jika kita memfokuskan tenaga, pikiran untuk mencari solusi, pasti solusi akan kita dapatkan.
“Collaborate”
Sukses akan lebih mudah diperoleh dengan bantuan orang lain. Dari pada mengandalkan kekuatan atau keunggulan sendiri yang pasti terbatas pada satu atau dua bidang saja, mengapa kita tidak berkolaborasi dengan orang-orang lain yang memiliki keunggulan di bidang-bidang yang tidak kita miliki. Misalnya: untuk membuat sebuah film box office, dari pada hanya mengandalkan satu nama besar seorang bintang film, hasilnya akan lebih baik, jika berkolaborasi juga dengan sutradara unggulan, penata artistik unggulan, film editor unggulan, dan artis dan aktor unggulan lainnya.
“Outsource”
Seringkali kita terlalu fokus pada “biaya rendah”, sehingga kita terdorong untuk melakukan semuanya sendirian walaupun bidang-bidang yang kita kerjakan tidak terlalu kita pahami, atau tidak terlalu kita kuasai. Dengan demikian, kita sering terjerumus pada kualitas rendah dan keuntungan rendah juga. Tetapi, jika kita mau memfokuskan perhatian, pikiran dan sumber daya pada apa yang bisa kita lakukan secara unggul dan meng-outsource kegiatan lain yang hanya bersifat menunjang saja, pasti pekerjaan kita akan lebih cepat, dan lebih baik hasilnya, serta tentunya mengundang lebih banyak orang untuk membelinya. Misalnya, keunggulan kita adalah sebagai penulis, maka kita bisa meng-outsource proses editing, dan pembuatan gambar dan ilustrasi buku yang kita tulis pada orang lain. Dengan demikian, kita bisa proses penerbitan buku bisa lebih cepat, dengan hasil yang lebih baik.
“Buy in”
Cara ini mirip dengan outsource. Namun, outsource lebih fokus pada proses produksi, sedangkan “buy in” fokusnya adalah pra atau pasca produksi. Artinya, kita tetap fokus melakukan keunggulan kita (di produksi), selebihnya kita beli dari orang lain yang telah terbukti memiliki keunggulan di bidang terkait dengan yang kita butuhkan sebagai penunjang. Misalnya: Dari pada seorang pelukis harus memproduksi sendiri cat minyak, kuas, ataupun kanvasnya, akan lebih baik jika dia fokus pada proses melukis saja, sedangkan cat minyak, kuas dan kanvasi bisa dibeli dari orang lain. Daripada sebuah perusahaan melakukan penelitian terhadap perilaku konsumen secara umum, atau selera konsumen umum di kota atau negara tertentu yang belum lama telah dilakukan oleh lembaga riset lain, akan lebih “smart” jika perusahaan tersebut membeli saja hasil risetnya yang terkait dengan apa yang diperlukan.
”Technology enhanced efforts”
Bagaimana caranya memberikan pengetahuan tentang berbagai produk baru pada 100 tenaga penjual yang tidak pernah berada di satu tempat secara bersamaan, karena mereka selalu bergerak di lapangan, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu negara ke negara lain? Jika harus dilakukan pelatihan secara tatap muka, dengan keterbatasan ruang pelatihan, tenaga pengajar, dan dana, pastilah proses sosialisasi ini akan makan waktu lama (jika satu kali training selama satu minggu, hanya bisa mengumpulkan 10 orang, maka untuk 100 orang akan diperlukan waktu 10 minggu atau 2,5 bulan). Begitu pelatihan 2,5 bulan selesai, ada produk baru lagi yang diluncurkan. Jika tenaga penjual dilatih terus, kapan mereka bisa melakukan tugas utamanya: menjual? Tentu saja hal ini memerlukan solusi cerdas dari cara berpikir cerdas. Solusinya adalah memanfaatkan fasilitas teknologi yang bisa mempercepat dan mempermudah penyampaian informasi kepada seluruh tenaga penjual secara “real time”, misalnya: melalui sarana telekomunikasi elektronik: teleconference, atau cara belajar baru, yaitu e-learning.
Berpikir cerdas memang penting dan perlu dicoba karena bisa mendorong kita untuk melakukan tindakan cerdas, sehingga kita bisa bekerja lebih sedikit dengan hasil yang lebih banyak dan profit yang lebih besar.

12 Bekal Dasar Berbisnis

Menjadi pengusaha sukses tentunya dambaan semua orang yang menekuni dunia usaha. Mencapai sukses harus melalui rintangan yang tidak ringan. Banyak di antaranya yang putus asa setelah gagal berulang kali dalam menekuni bisnisnya. Menjadi pengusaha memang tidak bisa hanya bermodal nekat. Siti Adiprigandari A Suprapto, staf pengajar MM UI enterpreneurship center menilai, seorang pengusaha harus memiliki beberapa dasar yang kuat agar bisa menghadapi tantangan dalam bisnisnya.
1. Semangat kerja. Mencintai apa yang dikerjakan sehingga membuatnya terus berkarya menghasilkan prestasi-prestasi baru tiada henti. Ketika menghadapi halangan atau kegagalan, tidak putus asa dan justru belajar dari kegagalan.
2. Seorang pengusaha harus memiliki impian. Impian merupakan wujud dari visi dan misi seseorang dalam berkarya. Dengan mimpi pikiran akan terfokus dan memudahkan mencapai apa yang diinginkan.
3. Tegas dalam mengambil keputusan. Menunda pekerjaan merupakan kerugian bagi pengusaha. Kecepatan dalam mengambil keputusan yang tepat merupakan kunci keberhasilan dan keputusan harus diterapkan secara konsisten agar hasil yang diharapkan bisa segera terwujud.
4. Dedikasikan seluruh tenaga, waktu, dan pikiran untuk pekerjaan. Kadangkala seseorang harus bekerja sedikitnya 13 jam sehari dan tujuh hari semingggu agar impiannya segera terwujud.
5. Rinci. Pengusaha harus bisa memperhatikan hal yang detail dari proses produksi usahanya dan tidak bersikap masa bodoh. Dengan demikian, ia bisa mengetahui kendala yang dihadapi dan cara mengatasinya. Ia juga tidak mudah dibohongi bawahannya.
6. Tidak menggantungkan hidup pada nasib. Yang menentukan apa yang ingin Anda kerjakan dan hidup Anda tidak ditentukan oleh atasan melainkan diri sendiri adalah Anda sendiri.
7. Dana. Menjadi kaya bukan tujuan utama seorang wirausahawan. Uang hanya ukuran keberhasilan. Bila sukses uang akan datang dengan sendirinya.
8. Bagi-bagi. Kepemilikan usaha dibagikan kepada karyawan karena tanpa mereka bisnis tidak akan berjalan. Karena itu, karyawan harus diperhatikan agar ada rasa memiliki terhadap perusahaan.
9. Memiliki etika moral. Pengusaha sukses selalu memiliki moralitas yang baik dalam menjalankan bisnisnya. Moralitas ini menjadi penting karena berfungsi sebagai kendali diri agar tidak terjebak pada praktik bisnis yang menghalalkan segala cara.
10. Mampu belajar dan mendengarkan. Pengusaha harus terus belajar dan mendengarkan masukan dari orang lain, tidak bergantung pada bakat alam. Berbagai ajang diskusi seminar, sekolah, konferensi menjadi tempat baginya untuk terus mengasah pengetahuan di bidangnya.
11. Rencana bisnis. Seorang pengusaha selalu memiliki rencana bisnis yang akan dikembangkan. Penyusunan rencana bisnis ini penting sebagai arahan dalam mencapai tujuan perusahaan. Ketika menyusun rencana bisnis biasanya seorang pengusaha melibatkan konsultan bisnis profesional.
12. Hasil terbaik. Pengusaha sukses selalu ingin mencapai prestasi terbaiknya. Prestasi itu akan menjadi kepuasan tersendiri yang sulit diganti apa pun.

Sabtu, 19 April 2008

Memahami dan Mengontrol Keuangan Keluarga

Salah satu masalah berkaitan dengan istilah “keuangan (finance)” adalah luasnya cakupan istilah tersebut dengan berbagai pemahaman. Tapi dengan pendekatan bertahap, kami yakin Anda dapat memahami istilah tersebut. Marilah kita mulai dengan langkah awal dan melihat bagaimana keputusan sehari-hari berdampak terhadap Anda dan ma0salah keuangan Anda.Bila Anda seperti layaknya masyarakat umum, harus pergi ke kantor setiap pagi dan pulang sore harinya. Dan setiap akhir bulan atau awal bulan, Anda akan menerima gaji sebagai kerja keras Anda selama satu bulan. Sebagai contoh, sebut saja Anton, saat ini bekerja di sebuah perusahaan IT di Jakarta dengan gaji bulanan sebesar Rp 5 juta dan istrinya, Anita, bekerja di sebuah perusahaan BUMN, dengan gaji Rp 3 juta per bulannya. Total pendapatan keluarga Anton setiap bulannya adalah Rp 8 juta atau Rp 96 juta setiap tahunnya.
Pajak.
Umumnya gaji yang diterima para pegawai sudah dipotong pajak. Jadi Anda sudah mendapatkan pendapatan bersih setiap bulannya. Demikian pula dengan keluarga Anton, sudah mendapatkan gaji bersih setiap bulannya. Kalau gaji Anda masih gaji kotor, maka sebaiknya kurangi dulu dengan potongan pajak sebelum Anda memasukkannya ke dalam anggaran keuangan keluarga.
Pengeluaran keluarga.
Sejalan dengan bergulirnya kehidupan berkeluarga, tentunya membutuhkan biaya. Pengeluaran yang umum dilakukan oleh keluarga, secara garis besar seperti berikut ini:
Sewa rumah : Rp 1,2 juta perbulannya.
Cicilan mobil: Rp 2,3 juta.
Biaya perawatan dan kebutuhan transportasi: Rp 500,000
Listrik dan Telepon:Rp 900,000
Belanja kebutuhan bulanan: Rp 1,3 juta
Entertainment, makan di luar dan lain-lain: Rp 1 juta
Pembantu rumah tangga and supir: Rp 800,000
Bila memang pengeluaran keluarga Anton seperti yang terlihat diatas, tentunya untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat ini sudah mencukupi? Betul, untuk satu tingkatan memang sudah terpenuhi. Tapi kehidupan keuangan bukan saja untuk saat ini tapi juga untuk masa datang. Dan ada dua hal penting yang harus dipertimbangkan: Permasalahan mungkin timbul selama perjalanan kehidupan. Misalkan saja, terjadi risiko, dimana rumah tempat Anda tinggal saat ini kemalingan dan Anda tidak mengasuransikannya. Beberapa alat elektronik, seperti tv, dvd, hp dan beberapa barang lainnya hilang. Maka Anda harus menggantinya, betul? Itu membutuhkan uang. Setiap orang memiliki dorongan untuk membeli sesuatu yang lebih baik. Misalkan saja Anda ingin mengganti tv Anda yang sudah cukup lama dan ingin mengantinya dengan yang lebih baru dengan teknologi yang lebih canggih. Tentunya membutuhkan uang. Karena kedua hal ini, biasanya kita terlibat dengan hutang. Adanya ketidak samaan antara pemasukan dan pengeluaran, untuk menutupinya kita berhutang. Bagi sebagai besar orang, hutang harian atau bulanan biasanya menggunakan kartu kredit. sedangkan untuk pembelian yang lebih besar seperti rumah atau mobil, menggunakan produk pinjaman yang lebih formal.Tidak ada yang salah dengan berhutang. Masalah timbul bila Anda menggunakan hutang untuk sesuatu hal yang tidak penting. Karena adanya dorongan untuk membeli atau berbelanja, maka tagihan kartu kredit Anda membumbung tinggi. Membayar cicilan minimum setiap bulannya tidak memecahkan masalah. Hal ini harus dipecahkan dengan strategi yang baik dan bijak. Dan kalau ditelah lebih jauh, dalam hal ini Anda kehilangan kontrol terhadap keuangan Anda. Cerita diatas, melupakan hal terpenting dalam menjalani kehidupan keluarga yang baik, yaitu program menabung. Banyak hal yang harus disiapkan seperti kebutuhan pensiun, kebutuhan biaya pendidikan bila nanti memiliki anak dan lain-lain. Dan salah satu hal penting yang dilupakan adalah “alokasi dana darurat”. Setiap keluarga harus memiliki alokasi ini.Tapi bagaiamana bila kami memiliki kekuatan majik, dimana kami naikkan dua kali lipat pendapatan keluarga Anton, yang tadinya hanya Rp 8 juta setiap bulannya sekarang menjadi Rp 16 juta setiap bulannya, apakah ini akan memecahkan masalah? Tentu saja kenaikan gaji, apalagi dua, tapi Anton seperti 99% dari kita pasti di memiliki dorongan untuk meningkatkan pengeluaran. Pada kenyataannya, bila kita katakan pada 100 orang akan menaikkan gaji mereka 100%, 99 dari mereka pasti akan mengandakan pengeluaran mereka. Karena mereka merasa memiliki kapasitas. Mereka akan memilih tinggal di rumah yang lebih besar, membeli mobil yang lebih bagus, dan selanjutnya, yang pada akhirnya mereka akan kembali lagi seperti cerita kita di atas. Jadi jelas sekali di sini bahwa menambah pemasukan bukanlah solusi terbaik. Karena kita memiliki kecenderungan untuk menghabiskan apa yang kita dapatkan. Hal ini adalah normal. Tapi kita harus mewaspadainya.“Goal Setting Priority”Perihal tersulit dalam “mengontrol keuangan” adalah memulai untuk berjalan pada jalur yang benar. Selama masa sekolah sampai perguruan tinggi, kita tidak pernah mendapatkan pemahaman mengenai keuangan individu. Dan yang selalu kita dengar hanyalah persoalan keuangan tanpa tahu langkah pemecahannya.Ada satu hal yang bisa Anda bisa lakukan untuk memulai perjalanan di jalur yang benar yaitu dengan menetapkan tujuan prioritas yang Anda idamkan. Bila Anda menginginkan sesuatu dari yang Anda lakukan, kemungkinan besar Anda akan melakukan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan hal tersebut. Pendekatan pertama yang bisa Anda lakukan, adalah dengan menetapkan tujuan prioritas menjadi Miliarder. Tentunya Anda sering menonton acara di salah satu stasiun tv “menjadi miliarder”. Mungkin saja Anda menjadi miliarder dengan menyelesaikan 15 pertanyaan yang diajukan dalam acara tersebut. Tapi sampai saat ini belum pernah ada yang sampai ke sana.Menjadi miliarder tidak susah. Menjadi miliarder dalam waktu semalam, itu baru sulit. Tapi kalau Anda melakukannya secara berkesinambungan, kami yakin Anda dapat mencapai impian menjadi miliarder.Strategi dollar cost averaging dilakukan dengan menabung secara sistimatik dan berkesinambungan dalam jangka panjang. Seperti tujuan kita tadi, ingin menjadi miliarder, paling tidak memiliki dana 1 Milyar rupiah pada saat pensiun (55 tahun). Misalkan Anda hanya memiliki waktu 30 tahun untuk mencapainya (usia Anda saat ini 25 tahun) maka Anda harus menyisihkan sebesar (asumsi bunga 10% pertahun), Rp 5,5 juta pertahunnya atau Rp 460,500 perbulannya atau Rp 15,350 per hari.Dibutuhkan hanya sebesar Rp 460.000-an sebulan untuk mencapai target 1 miliar rupiah. Tentunya hal ini mudah Anda lakukan, Dalam situasi Anton, bisa saja mengurangi biaya entertaimnet yang tadinya Rp 1 juta menjadi hanya Rp 500.000 rupiah.Kami yakin Anda pernah kumpul dengan teman di coffee shop yang banyak bertaburan di Jakarta. Sekali minum saja, paling tidak Rp 15-Rp 20.000. Belum lagi kalau sambil makan snack, Rp 50.000 tidaklah cukup. Dengan hanya mengurangi hal ini kami yakin Anda dapat mencapai insentif yang Anda inginkan yaitu menjadi miliarder.Kemudian Anda bertanya: apakah hanya dengan melakukan hal ini saya bisa menjadi miliarder? Mengapa belum pernah ada orang yang memberitau saya? Atau mungkin Anda bertanya, dimana saya bisa mendapatkan investasi yang membrikan tingkat bunga 10%? Untuk menjawab hal ini tentunya membutuhkan penjelasan yang lebih panjang. Dan kami yakin kami pernah membahasnya dalam rubrik eureka yang lalu.Mendapatkan apa yang diingkan sekarang (jangka pendek)Kalau kita melihat alinea sebelumnya, lebih memprioritaskan tujuan prioritas jangka panjang. Dibutuhkan waktu untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi bagaimana bila prioritas tersebut adalah keinginan jangka pendek? Bagaimana kita bisa menindak lanjuti hal ini?Untuk mengatasi hal ini ada satu kalimat yang selalu kami dengungkan dalam berbagai tulisan kami: “menabunglah dulu baru belanja kemudian”. Hal ini menjadi sangat sulit dilakukan karena media tv menjadi salah satu alat untuk memasarkan produk melalui iklan. Karena sebagian besar kita pasti akan duduk di kursi sambil menikmati film yang Anda gemari. Tapi di sela-sela waktu tersebut iklan tersebut ditayangkan. Sekali dua kali mungkin tidak meningkatkan keinginan Anda untuk membeli, bagaimana bila sudah berpuluh-puluh kali bahkan beratus-ratus kali? Tentunya yang tadinya ingin “menabung dulu baru belanja kemudian” menjadi terdorong untuk belanja dulu, kalau ada sisa baru menabung.Mengapa kalimat “menabung dulu baru belanja kemudian” memberikan pola kebiasaan yang baik. Pertama, Anda akan merasakan bahwa dorongan untuk membeli sesuatu terkadang berubah dengan cepat. Kedua, dengan pola ini, untuk membeli sesuatu yang Anda inginkan dalam jangka pendek tentunya Anda akan terdorong untuk menyisihkan dulu baru membelinya kemudian.Hal ini seringkali diremehkan tapi sesungguhnya hal ini merupakan perubahan cara pandang berkiatan dengan keuangan, “menabung dulu baru belanja kemudian”. Hal ini dapat berdampak terhadap prilaku kontrol keuangan yang ujung-ujungnya memberikan kapasitas kepada Anda dan keluarga untuk melakukan wealth accumulation.Keseimbangan kehidupan keuanganDi penghujung pembahasan kita kali ini, ini kita menawarkan sedikit pemikiran berkaitan dengan keseimbangan kehdiupan keuangan dalam keluarga. Secara umum beberapa hal yang berkaitan dengan keuangan yang harus dipikirkan adalah:Sebaiknya Anda memiliki tujuan keuangan yang jelasSebaiknya Anda memiliki pendapatan lebih besar dari pengeluaran bukan hanya bulanan tapi sepanjang tahunJangan biasakan memiliki hutang kartu kreditMiliki dana darurat dengan nilai antara 3-6 bulan biaya hidupPersiapkan pula kebutuhan pendidikan anak-anak AndaPersiapkan kebutuhan masa pensiun Anda, semakin cepat semakin baikMiliki proteksi asuransi bila Anda memiliki tanggunganInilah yang bisa kami tawarkan dalam menjalani kehidupan keuangan keluarga yang seimbang. Bukan hanya saat ini saja tapi juga untuk tujuan jangka panjang.

Menciptakan Faktor RICH dalam Diri Anda

Semua orang pasti ingin menjadi kaya dan hidup berkelimpahan. Sebenarnya kita semua mempunyai hak yang sama untuk mendapatkannya. Anda bisa kaya secara material maupun spiritual dengan mengaktifkan dan menciptakan factor kekayaan dalam diri Anda, diantaranya :

#1. Realize your potential (Menyadari potensi Anda).
Setiap individudilahirkan dengan potensi dan bakat tersendiri, yang paling penting yaitu kita harus menyadari potensi diri kita sendiri sehingga bias mengembangkannya menjadi keunggulan pribadi kita. dengan menyadari potensi dan bakat kita itu adalah faktor kekayaan yang paling utama yang bisa kita kembangkan menjadi apa saja yang kita inginkan.

#2. Increase your level of service everyday in everyway.
Meningkatkan pelayanan Anda setiap hari dengan segala cara. Dengan selalu memberikan pelayanan yang terbaik yang kita bisa dan seantiasa memberi yang lebih baik dalam apapun yang kita lakukan otomatis akan menapatkan imbalan yang sepantasnya buat kita.

#3. Challenge your skill with new activities and tasks.
Menguji keterampilan Anda dengan melakukan kegiatan dan tugas baru. Senantiasa melakukan sesuatu diluar zona kebiasaan kita, dengan selalu mencoba kegiatan dan hal-hal baru kita akan banyak belajar dan secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan kemampuan kita dalam menyelesaikan berbagai tantangan dalam situasi apapun.

#4. Harmonise with people and the environment around.
Menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang-orang dan linkungan Anda. Dalam melakukan apapun kita pasti selalu berhubungan dengan orang lain disekitar kita, oleh sebab itu kita harus selalu menghargai kepentingan orang lain dan menciptakan hubungan yang harmonis dengan mereka maupun dengan lingkungan sekitar kita sehingga apapun yang kita lakukan akan lebih bermakna.

Dengan mengaktifkan 4 faktor (unsur) kaya diatas, semua dari kita akan menjadi kaya secara jasmani maupun rohani, material maupun spiritual sehingga kita bisa menjadi orang kaya seutuhnya dan hidup lebih berprestasi serta harmonis dengan orang-orang dan lingkungan disekitar kita.

10 Sifat Kepribadian yang Paling Disuka

#1. Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.
Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

#2. Rendah Hati
Beda dgn rendah diri yg merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

#3. Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yg setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

#4. Bersikap Positif
Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan drpd keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

#5. Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

#6. Bertanggung Jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

#7. Kepercayaan Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

#8. Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dr kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

#9. Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

#10. Empaty
Empati adalah sifat yg sangat mengagumkan. Orang yg berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

White Swan Online Store