White Swan Online Store

Rabu, 30 Januari 2008

Beda Tipis Bodoh dan Pinter

Ada sesuatu yang menarik, ketika berdiskusi dengan mereka-mereka pelaku bisnis di Marketing Leadership Club, tentang orang bodoh dan orang pinter. Kira-kira anda termasuk kategori yang mana ya? Coba kita telaah beberapa statemen ringan ini:
Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya dibisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar. Walhasil Bosnya orang pintar adalah orang bodoh.
Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya. Orang Bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH) oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.
Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada diatas.
Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu di dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, walhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang bodoh. Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar DEMO, Walhasil orang-orang pintar meratap-ratap" kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan. Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
Bill gate (Microsoft), Dell, Hendri (Ford), Thomas Alfa Edison, adalah orang-orang Bodoh (tidak pernah dapat S1) yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.

Kisah Bob dan Bib serta Permen Lolipop

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lollipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat."
Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!"

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.
"Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya."
"Kenapa kamu memanggil saya?" Tanya Bob.
"Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, Indah sekali!"
Bib bercerita panjang lebar kepada Bob.
"Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama."
Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yg sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu.. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia?
Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab,
"Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah menikah...nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya... nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya... nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "

Pemikiran ‘nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ‘sekarang'.
Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ‘nanti' bahagia.
Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ‘nanti' bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa ‘nanti' bahagia itu.
Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu... tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya,
pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk berdiam atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran;
memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa Indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri.
Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang.
Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati
perjalanannya di lembah permen lolipop.

Mengapa Perkawinan 2 Orang Baik Tidak Berakhir Bahagia ?

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur. Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi. Dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah. Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibandingkan sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang. Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.
Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya. Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung- jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadual sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, membuat kaligrafi, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya adalah seorang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedangkan ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.
Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidak-berdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan. Sedangkan aku juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?
Pengorbanan yang Dianggap Benar
Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya tidak merasa bahagia, dan suamiku sendiri sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan yang tidak enak. Lalu dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun, rasanya kami berdua tetap saja tidak bahagia...
Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata: "Istriku, temani aku sejenak mendengarkan alunan musik!" Dengan mimik tidak senang saya berkata: "Apa tidak melihat masih ada separuh lantai lagi yang belum dipel?" Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidak-bahagiaan dalam perkawinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. "Apa yang kamu inginkan?" Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya... Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya. Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan. Ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga. Dan aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku, cara saya juga sama seperti ibu. Perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita "Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?"
Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama. Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengarkan musik, dan dari kejauhan saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu. Saya bertanya pada suamiku: "Apa yang kau butuhkan?" "Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengarkan musik. Rumah kotor sedikit tidak apa-apalah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku!" ujar suamiku. "Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakaianmu... . dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. " "Semua itu tidak penting!", ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku. Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana saling mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.
Jalan Kebahagiaan
Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya waktu senggang menemani pihak kedua mendengarkan musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat. Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya: 'Dengarkan aku, jangan memberi komentar'. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki. Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya. Kalau tidak saya hanya boleh mendengarkan dengan serius, menurut sampai tuntas. Demikian juga ketika salah jalan. Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup. Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan. Dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan ke luar kota. Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami. Setiap ada pertikaian, kami selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing. Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan. Kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam. Bertanya pada pihak kedua: "Apa yang kau inginkan", kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.
Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia. Mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua. Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun pihak kedua tidak dapat merasakannya. Akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur. Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri. Perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.
Sumber : Secret China

Salahkan Dirimu Sendiri !

oleh : Anthony Dio MartinDirector HR Excellency
"I praise loudly, I blame softly"(Katarina Agung)

Pembaca, saya pernah membaca sebuah kejadian nyata yang membuat saya tergelak renyah. Pada 18 Oktober 2005, harian Daily Times melaporkan seorang narapidana di Rumania memperkarakan Tuhan. Dakwaannya pada Tuhan sangat serius sampai terbawa ke pengadilan.
Narapidana bernama Pavel M ini menyalahkan Tuhan lantaran tidak menyelamatkan dirinya dari godaan dan pekerjaan setan. Ia beranggapan Tuhan sudah membohongi, menyalahgunakan, serta tidak menggunakan kekuasaannya dengan baik sehingga ia masuk penjara.
Bunyi dakwaannya seperti berikut, "Saya, yang bertanda tangan di bawah ini, bernama Pavel M, yang saat ini di penjara di Timisoara Penitentiary untuk masa tahanan 20 tahun karena membunuh, menyatakan menuntut Tuhan, penghuni surga, telah melakukan kejahatan, yakni membohongi, menutupi, menyalahgunakan kekuasaan, menerima sogokan, serta tidak menggunakan pengaruhnya saat diperlukan."
Dalam surat tuntutannya itu, Pavel menyatakan sebagai seorang umat beragama berarti mengikatkan kontrak antara dirinya dan Tuhan. Tuhan semestinya menjaganya dari setan. Menurutnya, Tuhan sudah mendapatkan berbagai pujian serta doa darinya. Seharusnya, menurutnya, Tuhan menjauhkan dirinya dari setan namun ia tetap melakukan kejahatan, sehingga dihukum. Surat tuntutan itu dilayangkan ke pengadilan di Timisoara yang kemudian dilayangkan ke jaksa penuntut. Tetapi, tampaknya surat ini akan diabaikan, oleh karena sulitnya pengadilan menghadirkan Tuhan.
Kita boleh tertawa. Tapi kelihatannya si Pavel M ini orang serius. Saking tidak ada yang bisa ia salahkan lagi, Tuhan pun ia perkarakan. Biasanya, kita melihat orang yang menyalahkan lingkungan, orang tua, teman, tempat kerja, atasan, dan pasangan hidup. Tapi belum pernah ada yang sampai memperkarakan Tuhan. Mungkin kalau ada penghargaan Blamer of the year, si Pavel M ini layak mendapat hadiah grand prize-nya.
Ada begitu banyak orang yang menyalahkan orang lain dan lingkungan atas nasib buruk yang menimpanya. Orang-orang memang suka blaming (menyalahkan). Di dalam workshop kecerdasan emosional intensif yang saya pimpin, saya seringkali menyebutkan manusia-manusia ini tergolong manusia 'akibat', yang merasa dirinya 'korban' dari keadaan.
Modus operandi atau kebiasaan manusia-manusia 'akibat' ini adalah seringkali menyalahkan. "Bisnis saya gagal akibat kebijakan ekonomi", "Saya gagal mendidik anak karena ortu saya dulu tidak pernah memberi contoh", "Saya jadi rusak karena kekurangan kasih sayang orang tua", "Saya gagal promosi karena bos kurang suka dengan saya", dan masih banyak deretan kalimat lainnya.

Dampak buruk
Ada beberapa dampak buruk dari manusia 'akibat' ini. Pertama, dirinya tidak pernah belajar menjadi dewasa. Mereka tidak pernah belajar dari pengalaman. Mereka selalu menyalahkan apa saja di luar dirinya. Mereka bersifat kekanak-kanakan. Kesalahan akhirnya menjadi seperti spiral yang berulang. Mereka tidak pernah belajar bagaimana keluar dari masalah itu. Ketika seorang baby sitter dipecat oleh majikannya karena sikapnya yang suka main sms, sehingga nyaris membahayakan nyawa bayi jagaannya. Ia menyalahkan atasannya yang cerewet. Namun, di tempat yang baru pun ia dipecat lagi. Hingga berkali-kali.
Salah satu contoh pribadi yang dewasa adalah atlit besar Tiger Woods. Pernah terjadi di mana ia bermain buruk karena faktor cuaca yang tidak bersahabat. Tetapi, sementara pegolf lainnya sibuk menyalahkan cuaca, ia lebih melihatnya sebagai ketidakmampuan bermain baik di cuaca yang buruk. Ia tidak menyalahkan cuaca dan dengan demikian ia menjadi pegolf professional terbaik, bukan saja dari sisi kemampuan tetapi juga mentalnya. Hal ini jadi bisa kita bandingkan dengan atlet maupun klub olah raga kita yang seringkali menyalahkan banyak pihak dan kondisi ketika mereka kalah bertanding. Selamanya kita tidak pernah belajar menjadi dewasa jika kita tidak pernah belajar melihat kontribusi kesalahan kita.
Kedua, tidak belajar bertanggung jawab. Manusia yang menyalahkan orang lain dan lingkungan, akhirnya buta bahwa dia pun patut disalahkan atas kesalahan maupun tindakan kelirunya. Ketika seorang eksekutif diperkarakan karena menilep uang kantornya, ia menyalahkan rekan-rekannya yang melakukan hal ini sebelumnya. Ia merasa hanya karena sial, dialah yang ketahuan. Baginya, yang salah adalah para pendahulu dan rekan-rekannya yang mengajarkan kebiasaan buruk itu.
Ibarat mau menikmati nangka, tapi tidak mau kena getahnya. Itulah yang sering jadi prinsip manusia ini. Mereka selalu mengelak dari tanggung jawab. Karena itulah, manusia ini tidak pernah menjadi seorang yang sungguh-sungguh sukses dalam karir dan hidupnya.
Saya ingat salah satu perusahaan financing terkemuka di Indonesia yang menjadi klien training kami punya tulisan besar-besar di ruangan rapatnya, "Daerah Bebas Kambing Hitam!".
Ketiga, tidak pernah akan menjadi pribadi yang tangguh. Memang, banyak alasan kenapa orang jadi suka menyalahkan orang lain. Termasuk di antaranya karena takut kelihatan buruk, malu mengakui, gengsi, supaya kesalahannya tidak tampak terlalu buruk, mengurangi rasa bersalah atau pun usaha 'bagi-bagi kesalahan' sehingga beban bersalah jadi lebih kecil. Namun, apa pun alasannya, sejauh orang tidak belajar bahwa ia punya kontribusi atas situasi kesalahan yang ia alami, maka pribadi ini tidak akan pernah belajar menanggung risiko.
Ketika ada masalah dan kesulitan, maunya adalah cepat-cepat menghindar. Akibatnya, pribadi ini terus menjadi pribadi yang lembek dan tidak tahan banting. Mereka tidak pernah belajar menjadi pribadi yang lebih tangguh karena tidak belajar bertahan menerima konsekuensi dari sikapnya yang salah. Beberapa contoh pribadi tangguh yang tidak menyalahkan tetapi tetap berusaha bangkit dari keterpurukan yang bisa kita pelajari yakni Donald Trump, yang sempat jatuh bangkrut.
Kita juga bisa belajar dari dari William Suryajaya, mantan bos Astra yang kini tetap berjaya. Mereka punya banyak alasan untuk menyalahkan banyak pihak, tetapi mereka justru menjadi pribadi yang tangguh dan bangun kembali, karena tidak fokus pada 'siapa yang patut dipersalahkan'. Justru kesalahan dan kegagalan membuat mereka menjadi pebisnis yang semakin tangguh. Ada baiknya kita belajar dari ahli psikoterapis Albert Ellis yang saya kagumi, di mana ia mengatakan, "The best years of your life are the ones in which you decide your problems are your own. You do not blame them on your mother, the ecology, or the president. You realize that you control your own destiny." (Tahun terbaik dalam hidupmu adalah ketika engkau melihat masalahmu adalah milikmu sendiri. Engkau tidak usah menyalahkan ibumu, lingkunganmu atau presidenmu. Engkau sadar bahwa engkaulah yang mengendalikan nasibmu." Mungkin nasihat inilah yang harus kita berikan kepada si M Pavel di atas!

Jumat, 18 Januari 2008

Ketika Kami Tak Cocok Lagi

Kisah Kesetiaan Suami yang Mengubah Pandangan Isterinya
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui, saya mulai merasa lelah dengan semua itu. Alasan saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.
Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya. Saya menginginkan perceraian. "Mengapa?" dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah. Terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini," jawab saya. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah. Seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiranmu?" Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit, dan itu benar. Saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya. Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu. Jika kamu dapat menemukan jawabannya yang ada di dalam hati saya, mungkin saya akan mengubah pikiran. Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung, dan kita berdua tahu, jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?" Dia berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok." Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-coretan tangannya, di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat, yang bertuliskan :
"Sayang, Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu. Tetapi izinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya mencoba untuk kuat melanjutkan membacanya kembali...
"Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor. Lalu saya harus memberikan jari-jari saya untuk memperbaiki programnya. "
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu."
"Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi dan saya harus memberikan mata untuk mengarahkanmu."
"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'tamu' kamu datang setiap bulannya, lalu saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."
"Kamu senang diam di dalam rumah, dan saya kuatir kamu akan jadi 'aneh'. Lalu saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon dan cerita-cerita untuk menyembuhkan kebosananmu. "
"Kamu selalu menatap komputer dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu. Saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."
"Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu...."
"Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari cara saya mencintaimu. Tapi saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati...."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan saya membaca kembali...
"Dan sekarang sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana dengan susu segar dan roti kesukaanmu...."
Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang dulu sangat saya cintai. Dia begitu penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Saya tidak kuat lagi dan langsung memeluknya dan rebah di bahunya yang bidang sambil menangis....

White Swan Online Store