White Swan Online Store

Selasa, 09 Desember 2008

Muda Senang, Tua Tenang

Mana yang Anda pilih: “Muda senang, tua tenang” atau “Muda resah, tua susah”? Tentunya opsi pertama yang menjadi pilihan Anda. Bagaimana caranya? Apakah Anda harus menunggu warisan miliaran rupiah? Apakah Anda harus mendapat lotere milyaran rupiah? Apakah Anda harus menjadi pimpinan di sebuah perusahaan besar? Ternyata bukan itu jawabannya. Ingin tahu rahasianya? Simak yang berikut.

Dimana Anda Saat Ini?

Apakah Anda saat ini sedang mengukir nasib Anda untuk menuju opsi pertama: Muda senang,
tua tenang? Untuk melihat posisi Anda saat ini, coba pertanyaan berikut:
Apakah Anda masih punya cicilan yang masih harus Anda lunasi?
Apakah Anda masih banyak menggunakan pinjaman untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari?
Bagaimana dengan status rumah Anda? Apakah Anda masih tinggal di rumah sewaan?
Apakah Anda langsung mengalokasikan pengeluaran Anda ke beberapa pos yang harus Anda bayar padahal Anda belum lagi menerima gaji?
Apakah Anda merasa senantiasa dikejar-kejar oleh kebutuhan hidup kian hari kian menggunung?


Jika sebagian besar jawaban Anda adalah “Ya”, Anda perlu berhati-hati, karena jika kondisi ini terus berlanjut, kemungkinan Anda sedang menciptakan masa tua yang resah. Kondisi ini perlu Anda perbaiki. Beberapa strategi berikut
mungkin cocok untuk Anda terapkan.

Muda Senang, Tua Tenang
Ketika muda hidup senang, setelah pensiun hidup tenang. Ini mungkin merupakan cita-cita Anda juga? Jika demikian, Anda tidak sendirian. Banyak orang ingin hidup tenang ketika memasuki usia senja. Mereka ingin jalan-jalan keliling dunia, tidak perlu lagi bekerja untuk mencari uang. Kalaupun mereka tetap bekerja, tujuannya bukan untuk mencari uang menutupi kebutuhan sehari-hari lagi, melainkan karena pekerjaan tersebut memberikan mereka kesenangan dan kepuasan dalam melakukannya. Lalu, bagaimana caranya?

Tujuan Hidup
Agar hidup senang dan tenang, terlebih dahulu Anda perlu memiliki tujuan hidup. Tujuan hidup ini akan membantu Anda untuk menentukan langkah dan menyeleksi keputusan serta tindakan finansial yang akan Anda ambil untuk membentuk “masa depan” (baca: masa pensiun) Anda. Semakin jelas tujuan ini, semakin mudah menyusun rencana, memilih strategi, dan bertindak untuk mewujudkannya. Misalnya: saya ingin pensiun dengan uang satu miliar, satu rumah 800 m2 milik sendiri, dan dana bulanan yang secara otomatis bisa diperoleh untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan membandingkan kondisi Anda sekarang dan kondisi yang ingin Anda raih, Anda bisa menyusun strategi untuk merealisasikannya (menjembatani “gap” antara kondisi sekarang dengan kondisi masa depan.

Hidup Cukup
Mana yang Anda pilih: Terlihat seperti orang kaya atau menjadi orang kaya? Kebanyakan orang memilih untuk “terlihat” seperti orang kaya. Mereka mengendarai mobil mewah, tinggal di rumah mewah, dan terlihat menjejali tempat-tempat yang sering dikunjungi orang-orang “kaya”, walaupun sebenarnya mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai gaya hidup mewah mereka. Hasilnya: mereka banyak berhutang, dan hidup dari bulan ke bulan dengan strategi gali lubang tutup lubang. Bagi mereka, gaji atau pendapatan yang mereka terima tidak pernah cukup untuk menutupi kebutuhan mereka akan gaya hidup mewah. Jika mereka mau hidup cukup (hidup di rumah yang lebih kecil, tetapi milik sendiri, daripada rumah mewah, tapi sewaan; naik mobil lebih sederhana, tetapi tidak menggeragoti tabungan daripada naik mobil mewah yang membuat kantong kempes dan hutang menjulang), banyak yang bisa mereka hemat. Uang yang dihemat bisa dialokasikan untuk membuat hidup mereka lebih berarti dan masa tua mereka lebih tenang.

“Invest or Die.”
Uang yang bisa dihemat dari cara hidup cukup bisa diinvestasikan untuk kondisi emergensi dan untuk hari tua. Ke mana harus berinvestasi? Ada banyak bidang yang bisa menjadi pilihan investasi: tabungan, deposito, surat berharga, bisnis, real estate, dan asuransi.
Ada yang memilih surat berharga karena kemungkinan “gain” yang tinggi. Ada yang memilih tabungan dan deposito karena risikonya yang rendah. Ada pula yang memlih real estate karena nilainya yang selalu meningkat. Jenis asuransi yang menggabungkan beberapa keuntungan (kesehatan dan tabungan hari tua; asuransi jiwa dan kesehatan) banyak dipilih karena kebutuhan (untuk jaminan kesehatan) dan karena sifatnya yang melindungi dari risiko sekaligus sebagai wadah untuk menabung di hari tua. Tentunya Anda bisa memilih lebh dari satu instrumen investasi untuk menyebar risiko. Jika Anda bingung mana yang harus dipilih, Anda bisa berkonsultasi dengan konsultan keuangan dan memilih konsultan keuangan yang paling cocok dengan gaya investasi Anda untuk mempercayakan kelangsungan dan perkembangan uang Anda. Jika Anda tidak berinvestasi, maka uang Anda akan cepat “menguap” dan seringkali Anda tidak menyadari kemana uang tersebut pergi.

Tutup Kebocoran
Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Pepatah ini juga berlaku bagi “kebocoran” keuangan yang mungkin Anda alami. Masing-masing orang memiliki kemungkinan kebocoran keuangan yang berbeda karena perbeaan gaya hidup mereka.
Apa saja kemungkinan kebocoran keuangan yang bisa dihindari? Kebiasaan membeli makanan cemilan dan rokok merupakan beberapa contoh yang bisa menjadi sumber kebocoran: Rokok, makanan kecil, atau belanja hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan. Berapa uang yang Anda habiskan untuk membeli makanan kecil dalam seminggu? Berapa uang yang Anda habiskan untuk membeli rokok yang sudah terbukti bisa merusak kesehatan? Misalnya saja, rata-rata uang yang Anda habiskan untuk membeli hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu atau bahkan seharusnya tidak Anda beli adalah Rp. 50, 000 seminggu. Dalam satu tahun, jika Anda bisa menghentikan kebiasaan tersebut, Anda bisa menghemat Rp. 2.600.000 (52 minggu X Rp. 50.000). Dalam lima tahun, Anda bisa menghemat Rp. 13 juta. Uang sebesar ini bisa Anda manfaatkan untuk banyak hal, misalnya sebagai uang muka membeli mobil, pembayaran premi tahunan untuk asuransi kesehatan, atau asuransi hari tua Anda yang lebih bermanfaat bagi Anda. Jadi, kenalilah sumber kebocoran keuangan Anda yang harus Anda perbaiki.

Aset Positif

Pada dasarnya, kekayaan seseorang terdiri dari aset (aktiva) dan hutang (pasiva). Untuk mencapai hidup senang dan masa tua tenang, yang harus Anda tingkatkan adalah aset Anda yang positif, yaitu aset yang bisa menjadi mesin untuk “mencetak” uang lagi untuk Anda (misalnya: Rumah, surat berharga, tabungan, dan asuransi yang akan memberikan kembali uang yang Anda tanamkan plus keuntungan).

Hutang Positif
Hutang memang sebisa mungkin dihindari, terutama hutang yang bisa menggerogoti aset positif Anda. Tetapi, bukan berarti semua hutang adalah negatif. Ada pula hutang positif yang bisa Anda manfaatkan secara optimal untuk membeli aset positif yang tingkat pengembaliannya bisa membayar bunga dan pokok hutang yang akhirnya bisa menutupi hutang tersebut.

Nasihat Para Pakar
Selain strategi diatas, Anda juga bisa menyimak nasehat para pakar mengenai cara efektif untuk hidup senang sekarang,
dan hidup tenang di hari tua.

David Bach: “Pay Yourself First”
Ketika menerima gaji bulanan atau pendapatan dari hasil usaha, banyak orang yang langsung mengalokasikan dana tersebut ke pos-pos pengeluaran bulanan. David Bach memiliki pendapat yang berbeda mengenai cara mengalokasi dana seperti ini. Dalam bukunya “Automatic Millionaire”, David Bach menyarankan para pembaca untuk mengalokasikan uang yang mereka terima untuk terlebih dahulu membayarkan kebutuhan mereka sendiri yang lebih penting dari kebutuhan sehari-hari, yaitu kebutuhan jangka panjang, sebelum membayarkan kebutuhan lainnya. Dan ini harus dilakukan secara otomatis seperti halnya membayar pajak dan tidak boleh ditunda. Caranya: para pembaca dianjurkan untuk meminta jasa bank untuk langsung memasukkan dana yang diterima setiap bulannya ke pos “investasi masa depan” (pembayaran premi asuransi, ataupun bentuk investasi lainnya). Selain itu, Bach juga mengusulkan kepada pembaca untuk sebisa mungkin membayar apa yang mereka beli secara cash (tunai), terutama barang-barang konsumsi (yang habis dikonsumsi tanpa memberi keuntungan pengembalian) misalnya: barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti pakaian, makanan, entertainment.

Robert T Kiyosaki: Financial Freedom
Robert T Kiyosaki banyak menulis buku-buku laris mengenai pengelolaan keuangan pribadi. Dalam buku-bukunya tersebut, terutama “Rich Dad, Poor Dad”, Robert banyak menganjurkan para pembaca untuk memiliki kebebasan finansial, salah satunya adalah dengan menjadi “tuan” bagi uang yang dimiliki dengan membuat “uang” bekerja untuk kita.
Menurut “Rich Dad”, kemungkinan untuk meningkatkan penghasilan menjadi beberapa kali lebih besar akan lebih tinggi jika seseorang bisa memiliki usaha sendiri. Cara lain adalah dengan menyalurkan dana untuk diinvestasikan di berbagai instrumen (misalnya: surat berharga).
Bersenang-senang dahulu “berdarah-darah” kemudian; bersakit-sakit dahulu, “bersusah-susah” kemudian; atau bercukup-cukup dahulu sejahtera dan sentosa kemudian. Opsi mana yang Anda pilih? Jika opsi ketiga yang Anda pilih, mungkin Anda bisa mulai mencoba salah satu atau mengkombinasikan beberapa strategi yang baru saja selesai dibahas kali ini. Siapa tahu ada yang cocok untuk Anda? Selamat hidup senang dan hidup tenang.

1 komentar:

budi herprasetyo mengatakan...

halo mas nanang,
mat taon baru 2009.
moga hidup anda semakin bermakna.
Salam sempurna !

White Swan Online Store