White Swan Online Store

Rabu, 21 November 2007

Jadi Pengusaha Muda : Be a SMART-preneur

Dalam mengelola bisnis, mereka tampak seperti sedang bermain. Padahal, mereka tidak main-main. Mereka bekerja keras, tak cuma mengandalkan modal dari orang tua. Inilah sembilan kebiasaan (nine habits) yang membuat bisnis mereka berjaya.
Delapan tahun silam, Naomi Susan sibuk menyasak poni rambutnya agar berdiri tegak. Katanya, "Biar seperti ibu-ibu pejabat." Setelan rok dan blazer warna gelap, plus stocking hitam, dikenakannya. Tak lupa, kacamata tebal melengkapi penampilannya. Naomi, yang saat itu masih 22 tahun, tak ingin kehilangan momen istimewa: memenangkan deal pertamanya dengan sebuah operator telepon selular. "Saya takut mereka tahu umur saya yang sebenarnya, sehingga enggan berbisnis dengan perusahaan saya. Nanti dikira cuma main-main," kenang perempuan kelahiran 15 Januari 1975 itu. Akhirnya Naomi memang memenangkan deal tersebut.
Sekian lama berlalu, Naomi bertemu lagi dengan seorang direksi perusahaan itu. Mereka pun mengenang masa lalu. "Wah, waktu itu si bapak ternyata tahu kalau saya 'tipu'. Beliau bilang, saya nggak bisa menuakan umur dengan berdandan seperti ibu-ibu. Wajah saya masih imut," kata Naomi, jenaka.
Perempuan yang memiliki lebih dari delapan perusahaan ini bertutur, kemampuan bekerja dan kesungguhan memenuhi target akan lebih bermakna daripada umur. Si bapak ternyata melihat potensi dalam diri Naomi. Di pihak lain, Naomi juga tak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Kini dua perusahaan itu masih langgeng bermitra.

Daftarnya Kian Panjang
Siapa yang tak senang memiliki usaha sendiri di usia muda? Maka, tak heran jika daftar pengusaha berusia kurang dari 35 tahun, dengan omzet sekitar Rp3 miliar per tahun, kian memanjang. Wajah lama dan baru berbaur. Arini "Ninin" Subianto, Beno Pranata, Eko Hendro Purnomo, Kunang Andries, Rae Sita Massie, Reza Budisurya, Teddy Khairuddin, Vivit A. Arifin, atau Winfred Hutabarat, adalah segelintir dari mereka yang masuk dalam daftar itu.
Sebagian dari mereka sejak kecil sudah bergelimang harta. Ninin adalah anak mantan petinggi Astra International, Benny Subianto, Teddy yang anak mantan dirut PT Pupuk Sriwidjaja, Zaenal Sudjais, atau Kunang yang dilahirkan dari keluarga pembuat perhiasan tersohor, cucu dari Fritz Spiro. Namun, mereka tak hanya leyeh-leyeh menikmati segala kelebihan itu. Mereka berkiprah sendiri, mendirikan usaha sendiri, bahkan kadang harus mulai dari nol.
Menilik gaya bisnis para pengusaha muda ini, ada benang merah yang bisa ditarik: agresif, dinamis, dan kadang funky. Mereka seperti sedang bermain, padahal tidak. Perusahaan yang didirikannya juga memberikan keuntungan yang tidak main-main.
Lihat gaya pasangan Siti "Aniek" Hariyani dan Jody Brotosuseno. Mereka agresif melebarkan sayap bisnis Waroeng Steak & Shake-nya. Berawal dari teras rumah kontrakan di Jl. Cendrawasih, Yogyakarta, mereka mendirikan warung yang menyediakan steak dan shake dengan harga miring. Mereka membidik konsumen mahasiswa. Kini, baru tiga tahun berjalan, Aniek dan Jody sudah memiliki 19 gerai yang tersebar di Jakarta, Depok, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Malang. Mereka menargetkan, tiap dua bulan bisa membuka gerai baru. Keberanian berekspansi dalam waktu yang relatif singkat tak mungkin ditempuh jika keuntungan yang didapat minim.
Berbeda dengan pengusaha "generasi sebelumnya" yang ingin tampil berwibawa di hadapan karyawannya lewat cara menjaga jarak, para pengusaha muda ini justru sebaliknya. Mereka malah berusaha dekat dengan anak buah. "Saya tak menganggap mereka bawahan, tapi teman," papar Eko Hendro Purnomo, dirut PT E Titik Tiga Komando. Pria yang beken dengan panggilan Eko Patrio ini menekankan bahwa di tiga perusahaan miliknya, prinsip keterbukaan dan kekeluargaan begitu kental. Maka, tak jarang sapaan "gue-elu" terdengar saat rapat. Meski demikian, imbuh pria kelahiran 30 Desember 1970 ini, bukan berarti hierarki manajerial pupus begitu saja.
Senada dengan Eko, Winfred Hutabarat, managing director PT Panaksara Pustaka, ternyata emoh jika disebut bos Toko Buku Aksara. Siang itu, misalnya, Winfred hanya mengenakan kaus lengan panjang warna biru dipadu celana jins. Dengan tenang, pria kelahiran 2 Februari 1971 ini melangkah menyusuri rak-rak toko buku miliknya. Sesekali ia mengatur buku yang berdirinya tidak teratur. "Saya malah tak ingin pengunjung tahu kalau saya ini yang punya Aksara," ungkap Winfred.
Ada satu lagi kesamaan para pengusaha muda ini : pekerja keras. "Kesuksesan saya adalah hasil kerja keras," tegas Estelita Hidayat, presdir Innovoxa. Bagi perempuan kelahiran 7 Februari 1972 ini, keberhasilan adalah 99% kerja keras dan 1% dari restu Tuhan. Estelita, yang memiliki usaha advertising dan konsultan, harus "membagi" otaknya setiap hari. Jika sedang berada di BIDS Consultant, perusahaannya yang lain, ia banyak menggunakan otak kiri, sementara di Innovoxa, otak kanannya lebih dominan.

Nine Habits
Menjadi pengusaha muda yang sukses memang tak mudah. Hasil telaahan Warta Ekonomi menunjukkan bahwa mereka memiliki keyakinan dan keberanian, termasuk berani keluar dari zona nyaman, untuk memulai langkah pertama. Mereka yang sukses juga umumnya berhasil mengembangkan sembilan kebiasaan (nine habits). Inilah kesembilan habit yang membuat bisnis mereka bersinar.
Habit #1. Keep your eyes open
Jakarta macet itu biasa. Namun, Beno Pranata justru melihatnya sebagai peluang bisnis, terutama pada jam makan siang. Menggandeng tiga karibnya, Pidegso Arifandi, Erwin Hoesein, dan Indra Wirawan, mereka mendirikan PT Mitra Karya Perkasa (PesanDelivery, PD), sebuah perusahaan yang melayani jasa pengantaran makanan dari berbagai restoran favorit.
Puluhan armada PD siap "membelikan" makanan dan mengantarkannya sampai meja Anda. "Demand-nya cukup tinggi, tapi mediator yang menyediakan delivery service yang efektif dan efisien nggak ada," papar Beno. Pria kelahiran 5 Mei 1974 ini melihat bahwa selama ini jasa layan antar hanya dilakukan oleh masing-masing restoran. Padahal banyak restoran yang tak menyediakan jasa itu, meski memiliki pelanggan setia. Kini ada 180 restoran yang menjadi mitra PD. Baru-baru ini Beno meluncurkan jasa katering, yang lagi-lagi bekerja sama dengan restoran mitra.
Habit #2. Lets the idea get wild
Membuat rekaman momen pernikahan, wisuda, atau seremoni lain, itu sudah biasa. Maka, begitu Ratna Arivianti Savitri Arifin (Vivit) dan Abdi Pirsawan Aziz mengemukakan ide untuk menyediakan jasa merekam proses kelahiran bayi, banyak pihak yang mengernyitkan kening. "Bagaimana dengan beberapa 'adegan vulgar' yang harus terekam?" kata Vivit, menirukan perkataan beberapa rekannya.
Ide "gila" itu terus bergulir. Mereka pun mendirikan Baby Born Video Clip (BBVC) di bawah bendera Creator Production, sebuah rumah produksi milik Abdi. Untuk hal-hal yang "vulgar", Vivit menyiasatinya lewat pengambilan gambar dari samping dan atas kepala ibu. "Asal ekspresi ibu dan munculnya kepala bayi untuk pertama kali bisa tampak," tutur perempuan kelahiran 7 Maret 1976 ini. Menurut dia, mengambil gambar dari depan justru akan mengurangi kaidah etika dan estetika.
Habit #3. Never-ending innovation
PT Voxa Integra boleh dibilang jagonya inovasi dalam beriklan. Maka, tak salah jika Estelita Hidayat mendirikan Innovoxa, sebuah divisi media inovatif. Berkat inovasinya dalam media below the line, Innovoxa meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Innovoxa memasang iklan di elevator dan eskalator, di samping menyisipkan iklan melalui capsule ad, sliding door ad, building ad, dan bahkan toilet ad.
Habit #4. Do the business and work as a hobby
Sebagai salah satu pemilik Aksara, Winfred mengakomodasi hobi para koleganya. Maka, Aksara pun tak melulu menjual buku, tetapi juga CD musik (termasuk piringan hitam), gift, dan furnitur (home decor). Pasalnya, para pemilik Aksara mempunyai hobi masing-masing. Hanin Sidharta tergila-gila pada musik, Ninin punya hobi desain, serta Winfred dan Davy Djohan gemar membaca. "Pokoknya, we sell what we like," ungkap Winfred. Ini juga membuat mereka antusias dalam bekerja.
Habit #5. Small is beautiful
Ada kecenderungan pengusaha muda memilih mendirikan perusahaan berskala UKM, utamanya dari sisi jumlah SDM. Teddy Khairuddin, presdir PT Sealand Logistic, hanya punya empat karyawan, yang masing-masing untuk bagian operasional, general affairs, keuangan, dan office boy. "Biar begitu, mereka tak boleh memakai 'kacamata kuda'. Orang keuangan tak melulu mengurusi keuangan. Ia harus memahami proses bisnis secara keseluruhan," urai pria kelahiran 30 tahun silam itu.
Langkah serupa diterapkan Kunang Andries dalam mengelola PT Fir'fli Illuminati Indonesia. Setiap bulan ia hanya membayar gaji enam pegawai tetap. Sisanya, outsource. "Untuk marketing dan brand strategy, sudah ada yang mengurusi. Mereka membantu tema advertising dan strategic direction," ungkap Kunang. Tak cuma itu, perempuan kelahiran 18 April 1976 ini juga meng-outsource pembuatan perhiasan dari bengkel lain yang memiliki exclusive arrangement dengan mereka. Namun, kalau urusan desain, tetap dipegang oleh istri Nicko Widjaja ini.
Habit #6. Build network & alliances
Pada awal pendirian PT Fergaco, hari-hari Rae Sita Massie dipenuhi air mata. Pasalnya, perusahaan penyedia jasa safety bagi perusahaan pengeboran lepas pantai miliknya tak kunjung memperoleh klien. Padahal ia telanjur mengeluarkan investasi cukup besar untuk berlaga di bisnis ini. "Saya nyaris menutup usaha karena tak ada klien sama sekali," kenang perempuan kelahiran 34 tahun silam ini. Akhirnya Rae Sita sadar bahwa jagat perminyakan memang sulit dimasuki orang baru. Maka, ia pun mulai membina networking dan beraliansi. Kini bisnis Rae Sita terus bergulir.
Habit #7. Practice makes perfect
Sebelum sukses dengan Waroeng Steak & Shake, Aniek dan Jody pernah menggeluti berbagai bisnis kecil-kecilan: menjual roti bakar, susu kedelai, hingga memproduksi kaus partai semasa Pemilu 1999. Mereka jatuh bangun, tetapi tak pernah kapok. Suatu waktu, mereka membantu pengelolaan Obonk Steak, sebuah restoran steak milik orang tua Jody. Berbekal pengalaman tersebut, mereka pun memberanikan diri membuka Waroeng Steak milik sendiri. Untuk membeli peralatan restoran, seperti hotplate, piring, gelas, dan lima set meja, Jody rela menjual sepeda motor yang dibeli dari uang hasil tabungannya. Aniek merasa, sukses yang diperolehnya saat ini banyak terpengaruh oleh pengalaman saat mereka bekerja di restoran milik mertuanya.
Habit #8. Systemize your business
"Kalau pemimpin harus nongkrong terus di kantor, itu berarti sistemnya belum bagus," tandas Eko. Menurut dia, sebagai pemimpin usaha, salah satu tugasnya adalah menyiapkan dan menyempurnakan sistem. Jadi, organisasi tak tergantung pada kehadiran fisik pemimpin, tetapi pada sistem yang dijalankan oleh SDM yang berkualitas. Itu sebabnya, meski ia sibuk menjadi presenter atau pelawak, tiga perusahaannya tetap berjalan normal.
Habit #9. Be a SMART-preneur
Seliar apa pun ide, sehebat apa pun inovasi, dalam berbisnis tetap harus SMART (specific, measurable, achievable, reality-based, time frame). "Biasakan punya target," papar Rhenald Kasali.
Menurut pakar manajemen bisnis itu, ada empat alasan mengapa orang muda mau menjadi pengusaha.
Pertama, karena tak punya pilihan lain. "Mereka yang kepepet ini biasanya malah berhasil," kata Rhenald.
Kedua, karena punya modal besar, entah orang tuanya kaya raya atau teman-temannya bergelimang uang.
Ketiga, mereka memiliki latar belakang akademik yang cukup.
Keempat, mencoba peruntungan dengan berbisnis. "Biasanya mereka memulainya lewat jalur UKM. Mencoba bisnis kecil-kecilan dulu," tuturnya.
Namun, Rhenald khawatir akan makin banyaknya pengusaha muda yang terjun ke bisnis hanya karena ikut arus. Misalnya, karena melihat bisnis kafe yang menjanjikan, mereka ikut masuk. "Kalau mereka mengaku memiliki keunikan dibanding pesaing, itu bisa berbahaya," ungkapnya. Belum lagi jika mereka terburu-buru berekspansi, yang hanya akan menggerogoti cash flow gerai pertama. Kata Rhenald, pengusaha muda itu mesti terus memupuk kemampuan, di samping melakukan efisiensi.

Resume 9 Habits of Young Entrepreneur :
Habit #1. Keep your eyes open
Habit #2. Let the idea get wild
Habit #3. Never-ending innovation
Habit #4. Do the business and work as a hobby
Habit #5. Small is beautiful
Habit #6. Build network & alliances
Habit #7. Practice makes perfect
Habit #8. Systemize your business
Habit #9. Be a SMART-preneur

Tantangan Pengusaha Muda : Kecil-kecil Jadi Bos
Ambisi yang meletup-letup, emosi, masalah SDM, dan miskin pengalaman, mewarnai bisnis para pengusaha muda. Perjalanan waktu akhirnya membuat mereka dewasa.
Orang muda kadang membuka usaha baru dengan ambisi yang meletup-letup. "Saat mendirikan perusahaan pertama, kepala saya penuh target. Pokoknya dream must come true," aku Naomi Susan, direktur PT Natural Semesta. Saat itu, kata "pokoknya" menjadi mantra sakti. Pokoknya harus berhasil. Pokoknya harus deal. Pokoknya harus untung.
Namun, ternyata tak semuanya berjalan mulus. Beberapa perusahaan Naomi, seperti klikduit.com, harus kandas. Ia pun terjungkal beberapa kali saat berbisnis properti. Kala gagal untuk pertama kalinya, Naomi merasa dunianya runtuh. "Saya bete banget. Malu, sedih, mengutuk diri sendiri," kenangnya.
Meski banyak pengusaha muda yang tak mampu bertahan, Rhenald Kasali, ketua program Ilmu Manajemen, Pasca Sarjana Universitas Indonesia, tetap salut. Baginya, ada keberanian untuk memulai langkah pertama itu sudah bagus. Tinggal bagaimana mereka mengelola diri dan perusahaannya.
Rhenald tak menampik bahwa dalam mengelola usahanya, sebagian pengusaha muda masih diliputi emosi. Menurut dia, tantangan manajerial di perusahaan sedikit banyak dipengaruhi kematangan emosi pemimpinnya. Emosi itu timbul karena ada keinginan untuk membuktikan kemampuan diri.
Eko Hendro Purnomo, dirut PT E Titik Tiga Komando, mengakui kebenaran analisis itu. Saat mulai berbisnis, emosinya lebih menonjol ketimbang aspek manajerial. "Kalau melihat orang yang kerjanya nggak bagus, saya langsung bilang, lu besok keluar aja. Sementara kalau terkesan dengan pekerjaan seseorang, saya bisa saja bilang, besok lu naik pangkat ya," ungkap Eko. Waktu itu ia belum peduli hak dan kewajiban karyawan yang diberhentikan atau dipromosikan.
Beruntung Eko menyadari kekeliruannya. Kini pada tiga perusahaannya ada divisi SDM. "Biar mereka yang mengatur jenjang karier dan masalah penggajian," katanya, sambil tersenyum. Ia mengaku mendapatkan banyak pengetahuan soal manajemen dari membaca, bergaul, dan bertukar pikiran dengan banyak orang, tak terkecuali para pakar, di samping belajar dari pengalaman.

Jangan Berdasar Tren
Saat booming bisnis low cost carrier, PT Adam Sky Connection Airlines (Adam Air) ikut masuk. Kapten perusahaan ini, Adam Adhitya Suherman, 23 tahun, tak memilih warna dominan biru atau putih, tetapi justru oranye dan hijau muda. "Kesannya fresh dan ceria," tutur Adam. Ia tak takut pilihan warnanya bisa "menggerogoti" wibawa sebuah maskapai penerbangan.
Adam percaya bahwa keberhasilan perusahaan lebih banyak dipengaruhi oleh kuatnya budaya kerja. "Itu sebabnya saya pilih orang-orang terbaik dan punya tim business development yang solid," ujarnya. Tim yang anggotanya 10 orang itu melakukan riset dan studi kelayakan, terutama berkaitan dengan pembukaan rute-rute potensial, menerapkan tradisi on time performance, dan memilih tipe pesawat.
Lain lagi cerita Estelita Hidayat, yang mencoba peruntungan di bidang konsultan bisnis dengan membawa bendera PT BIDS Global Consultant. Ia mengaku, beberapa klien membutuhkan waktu sebelum berkonsultasi dengan perusahaannya. "Bagi orang Indonesia, konsultan itu identik dengan lelaki tua dan botak," ucap perempuan muda berambut panjang ini. Banyak orang Indonesia belum terbiasa melakukan deal bisnis dengan anak muda. Konsultan usia muda, tambah dia, dinilai belum berpengalaman.
Sementara itu, Eko merasakan bahwa masalah SDM dengan segala kreativitasnya masih menjadi kendala bagi bisnisnya . "Di bisnis PH, orangnya itu-itu saja," keluhnya. Ia melihat persaingan di bisnis PH (production house) makin sengit. Banyak pemain baru, tetapi pasokan SDM-nya masih minim. "Banyak yang muncul, banyak juga yang hancur," ujar Eko, yang merintis bisnis PH empat tahun silam.
Mereka yang hancur, kata Eko, adalah yang gagal mengelola SDM, manajemen, kreativitas, dan memelihara karyawannya. Akibatnya, perpindahan orang-orang kreatif dari satu PH ke PH lain kerap terjadi. Di sini, jurus sukses Eko dalam mempertahankan karyawan adalah dengan "memanusiakan" mereka.
Slogan "minimal senyum, maksimal ketawa" menjadi andalan Eko untuk mendiferensiasi PH miliknya. "Saya selalu berusaha agar program kami minimal bisa membuat orang tersenyum, syukur-syukur ketawa," kata Eko. Kini perusahaannya memiliki dua program andalan: Peri Gosip dan Gosip Apa Gosip. Sebentar lagi ia akan memunculkan reality show baru, Uang Greget dan Turis Dadakan.
Saran Rhenald, pengusaha muda sebaiknya tak memilih bisnis yang daur hidupnya pendek. Jangan berbisnis yang berbasis tren, seperti bisnis dotcom atau kafe. "Di Kemang, berapa sih yang untung? Kadang cuma laku tiga meja. Apa cukup buat menggaji karyawan?" kritik Rhenald.
Ia menilai, pengusaha yang hanya ikut-ikutan tanpa bekal pengalaman dan pengetahuan di suatu bidang, sama dengan menggantang api. Teddy Khairuddin, presdir PT Sealand Logistic, setuju dengan Rhenald. "Untuk jadi pengusaha, minimal harus menguasai 80% bidang yang akan digelutinya," kata Teddy.
Lalu, apa yang harus dilakukan? "Berani mengambil risiko," tegas Rhenald. Kalau sekiranya bisnis itu tak bisa dipertahankan, cepat keluar. Jangan hanya karena emosi untuk membuktikan kehebatan, lalu melalaikan perhitungan bisnis.
Naomi, yang sudah menelan pahit getirnya dunia bisnis selama delapan tahun, merasakan bahwa kini ia tambah dewasa. Apabila ada bisnis barunya yang tidak berjalan sesuai rencana, ia tak segan-segan menutupnya dan tidak lagi menyalahkan diri sendiri. "Bisa saja pilihan lokasinya salah, sistemnya kurang bagus, atau saya tidak ahli di bidang itu," katanya. Kalau gagal, itulah bisnis. Bisa untung, bisa buntung.

Profil Pengusaha Muda : Menebar Ide, Menjaring Untung
Beragam bidang menjadi lahan para pengusaha muda untuk meretas jalan di dunia bisnis. Mulai dari bisnis kafe, restoran, butik, production house, perkapalan, bahkan hingga penerbangan. Memang tak mudah menjalankan bisnis di usia muda, mempertahankan, dan bahkan meraup untung. Ide, agresivitas, inovasi, dan keuletan tampaknya menjadi kunci sukses mereka. Berikut profil 30 pengusaha muda di bawah 35 tahun yang mampu bertahan, dan bahkan menuai untung dalam berbisnis.
1. Adam Adhitya Suherman, 23, presdir PT Adam Airlines
Kedua orang tuanya yang pengusaha memicu Adam untuk juga terjun ke dunia usaha. Ia mulai berbisnis pada 2003, dan dengan berani memilih bidang penerbangan sebagai bisnis intinya. Apa pertimbangannya? Rupanya Adam mengandalkan konsep boutique airlines, yakni memberikan layanan berkualitas tinggi tetapi dengan harga yang relatif murah perusahaannya bakal terus melaju. "Kepuasan pelanggan menjadi penekanan kami. Faktor inilah yang mempengaruhi keberhasilan bisnis kami," ungkap Adam.
Selain layanan, Adam juga mencoba menawarkan inovasi yang dianggapnya berbeda dengan para pesaingnya. Di antaranya, warna pesawat-pesawatnya yang terkesan lebih "terang" dan fresh, membangun sistem reservasi online dengan nama Adam Sky Net, dan program-program yang dirancang khusus untuk penumpang, termasuk ketika penumpang berada di dalam pesawat. Lewat konsep dan inovasi yang dikembangkannya itu, Adam menargetkan perusahaannya mampu menerbangkan 25 pesawat untuk tahun ini.
2. Andreas Thamrin, 27, pemilik Games Market dan operations manager Digitone Pty. Ltd.
Putra sulung pengelola Global Teleshop, Hermes Thamrin, ini makin mengokohkan dirinya sebagai pengusaha muda di bidang entertainment software, khususnya games yang ia jual lewat internet. Belakangan bisnisnya makin berkembang lewat penjualan ritel ponsel 3G. Mengaku memperoleh keuntungan besar dari bisnis yang dijalankannya di Australia, Andreas berencana melebarkan sayap usahanya ke Selandia Baru.
3. Arini Subianto, 34, pemilik PT Panaksara Pustaka
Bermula dari hobi menata perabot dan aksesori rumah, Arini mengembangkannya menjadi sebuah bisnis yang cukup menggiurkan di tahun 1988. Bisnisnya makin besar ketika jebolan Fashion Design Parsons School of Design, New York, ini memutuskan untuk membuka usaha toko buku yang ia padukan dengan bisnis lamanya.
4. Beno Pranata, 31, presdir PT Mitra Karya Perkasa
Sebelum memutuskan menekuni bisnis layan antar, Beno melakukan survei terlebih dahulu dan menggodok konsep bisnisnya selama empat bulan. Dengan modal awal Rp350 juta hasil saweran dengan tiga orang rekannya, pada November 2002 Beno resmi menjalankan usahanya. Di bawah bendera "PesanDelivery", kini Beno berhasil merangkul 112 resto yang rutin menjadi pelanggan jasa layan antarnya.
5. Chatalia, 27, managing director PT Famili Kekal Abadi
Usia muda tak menghalangi Chatalia untuk menemukan ide-ide kreatif di bisnis persepatuan. Konsep self service alias "ambil sendiri sepatumu" yang ia terapkan di tokonya terbukti mendapat respons positif dari konsumen. Ditambah dukungan dari sang ayah, Lie Hok San, yang sudah menekuni industri persepatuan sejak 1970-an, Chatalia bermaksud melakukan ekspansi bisnisnya hingga ke Yogyakarta dan Bali.
6. Dewi Safitri Wahab, 27, pemilik Mangkok Putih
Selalu siap jatuh bangun, menjadi prinsip Dewi dalam menjalankan usaha. Itu pula yang menjadikan peraih gelar MBA dari Johnson & Walles University Rhode Island, AS, ini berani mendirikan perusahaan sendiri pada 2001. Sesuai dengan latar belakang pendidikan S1-nya di bidang perhotelan, kebanyakan usaha yang ia rintis merupakan bisnis food and beverage. Di antaranya, Mangkok Putih Noodle, Eatz Diners, dan Cita Rasa Catering.
7. Dian Purba, 31, pemilik PT Citra Ambrosia
Sebelum mendirikan usaha sendiri, Dian pernah melakoni pekerjaan di beberapa perusahaan, seperti Pricewaterhouse Coopers dan Unilever. Baru pada 1997, anak seorang dokter spesialis mata ini memulai debutnya sebagai pengusaha muda di bidang restoran. Sukses di bisnis ini, ia mulai menjajaki bisnis lain dengan mendirikan sebuah butik di bawah pengelolaan PT Trimitra Adibusana.
8. Eko Hendro Purnomo, 34, dirut PT E Titik Tiga Komando
"Bagi saya, pengusaha muda itu identik dengan agresif," ungkap Eko. Maka tak heran jika ia menjadikan kesulitan justru sebagai sebuah kesempatan untuk terus maju. Agresivitas itu pula yang membuat Eko kini berhasil mengembangkan tiga perusahaan yang masing-masing bergerak di bisnis rumah produksi, printing & advertising, event organizer, serta restoran dan katering. Untuk memperbesar bisnisnya, Eko menargetkan akan menambah perusahaannya, termasuk penambahan program-program siaran baru. Meski secara kuantitas Eko berharap bisnisnya terus bertambah, ia juga mengaku sangat peduli akan sisi kualitas.
9. Estelita Hidayat, 33, presdir PT BIDS dan Voxa Integra
Langkahnya di dunia bisnis dimulai pada 1995, saat ia mendirikan Voxa Advertising. Bisnisnya di dunia advertising makin berkembang kala pada 2001 ia menambah perusahaannya dengan bendera Innovoxa. Ketika itu investasi awal yang ia keluarkan mencapai Rp200 juta. Dengan berpegang teguh pada prinsip "keep innovating", Estelita bertekad terus mengembangkan usahanya tidak hanya pada skala lokal, tetapi juga nasional. Kini omzet perusahaannya rata-rata mencapai Rp5-10 miliar per tahun.
10. Ferry Agus Wibowo, 30, pemilik PT Tiga Saudara Group
Pengusaha muda asal Yogyakarta ini bisa dibilang berbakat menangani bisnis properti. Buktinya, lewat perusahaan yang dirintisnya pada 1999, ia berhasil menjadikan TSG sebagai tiga besar di bisnis properti di Yogyakarta. Salah satu kunci suksesnya adalah jeli dalam berpromosi.
11. Fredella Nugroho, 28, pemilik PT Cilantro International
Dengan latar belakang pendidikan di bidang perhotelan, tampaknya Fredella cocok menekuni bisnis resto yang mulai ia garap pada 2003. Lewat restoran Cilantro yang berkonsep Asia Bistro & Lounge ini, Fredella membidik konsumen kelas atas.
12. Jenifer J.A. Supit, 34, direktur pengelola PT Horizon Jet Support Club
Kegemaran Jenifer pada laut dan olahraga air membuatnya tertarik untuk mengembangkan bisnis tersebut. Bersama tiga rekannya, ia mendirikan HJSC yang memfasilitasi berbagai jenis olahraga air, seperti jet ski.
13. Kanaya Tabitha, 33, pemilik rumah mode Kanaya
Namanya di dunia mode Tanah Air sudah tak asing lagi. Ia bahkan dikenal sebagai salah satu perancang busana termahal di Indonesia. Bisnisnya di bidang fashion , yang beromzet rata-rata Rp4 miliar per tahun, makin berkibar ketika Kanaya memproduksi busana berlabel namanya sendiri.
14. Kunang Andries, 30, direktur PT Fir'fli Illuminati Indonesia
Berasal dari keluarga pengusaha jewelry, membuatnya terbiasa untuk menekuni bisnis sendiri. Kunang juga mengaku mendapatkan kebebasan untuk berkarya jika memiliki bisnis sendiri. Lewat Fir'fli, perusahaan jewelry miliknya, ia menawarkan perhiasan yang hanya terbuat dari materi-materi yang terbaik. Jika kebanyakan pengusaha muda cenderung berlaku agresif dalam mengembangkan bisnisnya, Kunang malah terkesan hati-hati. "Saya akan mempertahankan satu butik yang hanya melayani klien-klien tertentu saja, seperti yang ada sekarang," ujarnya.
15. Luciana Budiman, 29, pemilik Yakunkaya Toastindo
Ia mulai mengembangkan bisnis kedai kopi tradisional asal Singapura ini sejak 2003. Bisnisnya kini makin berkembang dengan penambahan dua gerai Yakunkaya yang berlokasi di Mal Kelapa Gading dan Plaza Semanggi, serta tiga gerai, yang salah satunya berlokasi di Medan, Sumatra Utara.
16. Maria Reviani Hidayat, 30, pemilik Flame Wine & Grill Cafe
Setamat kuliahnya di bidang industrial engineering dari Universitas Washington, AS, Maria sempat membantu sang ayah bekerja sebagai konsultan engineering. Tak berapa lama, ia hijrah ke Jakarta dan mendirikan bisnis makanan. Dalam berbisnis, putri pengusaha jamu Sido Muncul, Irwan Hidayat, ini tak mau ngoyo. Prinsipnya, menjalani saja apa yang ada di hadapan.
17. Oscar Lawalata, 28, pemilik rumah mode PT Oscaroscar
Tak berapa lama setelah ia lulus dari sekolah mode Esmod di tahun 1998, pengusaha muda yang juga populer sebagai desainer ini langsung mengadakan show pertamanya. Terhitung sejak mengawali kariernya, kini ia telah mengadakan fashion show lebih dari 100 kali dan menangani 500-an klien, baik secara individu maupun institusi.
18. Naomi Susan, 30, direktur PT Natural Semesta dan PT Ovis SendnSave
Memulai usaha pada usia 22 tahun membuat Naomi tak canggung lagi untuk melakoni berbagai bidang bisnis, mulai dari bisnis internet, toko baju, carter pesawat, hingga salon dan kafe. Meski pernah gagal, Naomi tak mau berhenti berekspansi. "Bisnis itu seperti judi. Ada saatnya menang, ada saatnya kalah," katanya.
19. Rae Sita Massie, 34, pemilik PT Fergaco
Ia memulai bisnis penyediaan jasa ke perusahaan minyak di tahun 2000. Meski tak memiliki pengalaman di bisnis tersebut, Rae tertantang untuk terus menekuninya. Beberapa perusahaan minyak lokal maupun asing, seperti Schlumberger, Pertamina, Medco, dan Exspan, kini menjadi kliennya. Seiring makin bertambahnya klien, perusahaan miliknya pun berhasil menuai profit.
20. Reza Budisurya, 33, pemilik Manna Lounge dan Score
Berawal dari kegemarannya jalan-jalan dan melihat konsep berbagai tempat hang out anak muda, Reza tertarik untuk membuka sebuah kafe, yang merupakan paduan kafe fine dinning dan tempat biliar, di Cilandak Town Square. Dengan investasi Rp10 miliar, Reza mengarahkan usahanya pada segmen menengah ke atas.
21. Ridwan Prasetyarto, 34, CEO eBdesk
Alumnus Institut Teknologi Bandung ini akrab dengan dunia kewirausahaan sejak ia masih kuliah. Ia mengaku kepiawaiannya dalam berbisnis makin terasah ketika bergaul dengan alumnus-alumnus ITB lainnya yang juga terjun sebagai pengusaha, seperti Fadel Muhammad dan Arifin Panigoro. Bersama tiga orang rekannya, Ridwan mendirikan perusahaan perangkat lunak pada 1999. Bisnisnya kini kian berkembang, bahkan hingga ke mancanegara.
22. Rocky J Pesik, 27, general manager PT Mitra Piranti Usaha
Bisnis Rocky yang melayani pengiriman paket, kartu, dokumen, dan parsel, berkembang lagi lewat penyediaan kotak surat bagi pelanggannya. Target market-nya pun jelas: individu atau korporat yang ingin merahasiakan alamatnya. Saat ini bisnis yang digeluti Rocky, yang dikenal dengan brand Mailshop, mulai melebar hingga 21 titik di daerah Jabodetabek.
23. Rudy Mulyono, 33, pemilik Rally Auto Center
Kesuksesan Rudy membangun bengkel mobil terluas di Jawa Timur membuat dirinya tertantang untuk menjajaki bisnis di bidang lain. Tidak tanggung-tanggung, ia mulai membangun sebuah pabrik rokok di Kediri, berlabel PT Alam Mega Raya. Rencananya, setelah bisnis rokoknya berjalan, Rudy pun akan mulai membuka usaha kafe keluarga yang menyediakan fasilitas karaoke, meja biliar, dan live music.
24. Siti Hariyani, 31, pemilik Waroeng Steak & Shake
Tiga tahun silam, Siti Hariyani bersama suami, Jody Brotosuseno, mendirikan sebuah gerai steak di Yogyakarta. Awalnya gerai ini ditujukan untuk membidik konsumen dari kalangan mahasiswa. Lama-kelamaan warungnya makin berkembang hingga menjangkau beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan Malang.
25. Stevan Lie, 32, direktur operasional PT Indospirit Natura
Bersama tiga rekannya, Stevan mendirikan Indospirit Natura yang memiliki tiga bidang usaha, yakni klinik hydrotherapy, toko organik, dan restoran yang khusus menyajikan menu makanan sehat. Seiring perjalanan waktu, produk-produk yang ditawarkan Stevan pun makin lengkap, meliputi kue kering, jus buah, cuka apel, susu bubuk, dan sebagainya. Namun, semuanya tetap berlabel tanpa mengandung bahan kimia. Dalam rangka pengembangan bisnisnya, Stevan bermaksud mewaralabakan tokonya yang kini berjumlah lima gerai.
26. Tara Diandra Amalia, 30, pemilik Cinnzeo Bakery
Menjadi pengusaha adalah pilihannya, setelah ia sempat mencoba berkarier sebagai seorang profesional di HSBC dan Pricewaterhouse Coopers. Berbekal tekad serta motivasi, Tara memilih menekuni bisnis bakery yang sebelumnya tak pernah ia kenal. Keseriusannya dalam menggarap bisnis bakery nyatanya membuahkan hasil yang manis. Kini perusahaannya tetap eksis, bahkan berencana makin memperluas jaringannya hingga ke beberapa kota besar di Tanah Air.
27. Teddy Khairuddin, 31, presdir PT Sealand Logistic Services
Pengalamannya selama 7,5 tahun bekerja sebagai profesional di perusahaan perkapalan menjadi modal bagi Teddy untuk membangun bisnis sendiri di bidang ini. Langkahnya makin mantap ketika ia berhasil menambah jumlah kapalnya menjadi tiga unit kapal carteran, dan dua mesin bagging pupuk pada 2005. Dengan keuntungan yang berhasil diraupnya, Teddy berencana terus melakukan ekspansi dengan menambah tiga unit kapal carteran dan empat mesin bagging.Soal dana, Teddy mengakui bahwa modal untuk penyewaan kapal serta pembelian mesin-mesin tersebut diperoleh dari hasil keuntungan usahanya selama ini. "Kami sudah mencapai break-even point dan memperoleh profit. Dari keuntungan itulah, dana tersebut kami investasikan kembali untuk memperlebar bisnis," ungkap Teddy.
28. Trianasari, 29, pemilik PT Citra Ambrosia
Bersama beberapa orang rekannya, putri mantan dirut BRI, Kamardy Arief, ini merintis usaha kafe dan restorannya pada tahun 2000. Di bawah bendera Cinnabar dan Magnolia Kafe, bisnis Trianasari makin berkibar. Meski sempat merugi, Trianasari berencana membuka resto baru dengan menu Asia di kawasan Jakarta Pusat.
29. Vivit Arifin, 29, pemilik Creator Production BBVC
Ide membuat rekaman proses kelahiran seorang bayi bermula pada saat Vivit bersalin di sebuah rumah sakit di Australia pada 2003. Ia sangat ingin mengabadikan momen penting itu dalam sebuah rekaman video. Ide itu lantas berkembang menjadi sebuah bisnis yang mulai serius ia garap sejak 2003. Meski tak pernah beriklan secara terbuka, klien yang menggunakan jasa Vivit terus bertambah. Kini tercatat ada 50 klien yang pernah "mencicipi" jasa rekaman Vivit. Harga "jasa" yang ditawarkan pun beragam, mulai dari Rp2 juta (untuk durasi 20 menit) hingga Rp4 juta (durasi 40 menit). Mengenai bisnisnya ini, Vivit berharap BBVC (Baby Born Video Clip) bisa dijadikan alat pendidikan, bukan sekadar dokumentasi semata bagi para kliennya.
30. Winfred Hutabarat, 34, pemilik toko buku Aksara
Lulusan Yale University, AS, ini sejak awal bertekad menjadikan toko bukunya berbeda dengan toko-toko buku lainnya. Maka, jadilah ia mengeset toko bukunya, selain menjual buku, juga menjual CD musik impor, gift, dan bahkan furnitur. Dengan konsep tersebut, toko buku milik Winfred mendapat respons positif dari para pelanggan. Kini, omzet miliaran rupiah pun berhasil diraupnya.
Siap jadi young enterpreneur ?

9 komentar:

Anonim mengatakan...

Hоωdy, і read уour blog
oсcasionаlly and i own a similar onе аnd i was
just wondering if yοu get а lot of spam comments?
If so how dο you prevent it, аny рlugin οr
anything уou can suggest? I get so much latelу it's driving me mad so any help is very much appreciated.
Feel free to visit my web blog - vida vacations

Anonim mengatakan...

Pretty gгeat post. Ӏ simρlу stumbled upon
your blog anԁ wanted to ѕay that I have trulу enjoyed surfing arοund your blog pοsts.

In anу сase I'll be subscribing on your rss feed and I hope you write once more soon!
Here is my page - instant approval payday loans

Anonim mengatakan...

Үou really make it seem so easу together with youг pгesеntаtіon hοωеver I to find this mаttеr to be aсtuаlly ѕomething that
I feеl I would by no means understand.
It κind оf fееls too complex and extremelу huge foг mе.

I am havіng a loоk forward οn your subsequent submit, I'll attempt to get the grasp of it!
My website ... Vida Vacations

Anonim mengatakan...

Someone necessarily lend a hand to make severely
articles I would state. This is the first
time I frequented your web page and up to now? I surprised with the analysis you made to
create this particular publish extraordinary. Great job!
My site ; reputation management

Anonim mengatakan...

Sіmρly wish to saу уour article is аs
amazing. The сlаrity foг youг
put uр iѕ ѕimply coοl and that і
could thіnk you're knowledgeable in this subject. Well along with your permission let me to snatch your feed to stay up to date with impending post. Thank you a million and please keep up the rewarding work.

Here is my web site Facebook Backgrounds

Anonim mengatakan...

Great poѕt.

Feel free to ѵisit my web page ... Lloyd Irvin

Anonim mengatakan...

Hey there, I think your website might be having browser compatibility issues.
When I look at your blog site in Ie, it looks fine but when opening in Internet Explorer, it has some
overlapping. I just wanted to give you a quick heads up!
Other then that, amazing blog!

Feel free to visit my blog - pilgrim jewellery uk online

jual rumah sesuai budget mengatakan...

nice info. happy to read your posting...

Anonim mengatakan...

I was confronted with the exact same complication and got
the original motorists to put in by running the installer in
vista being compatible mode and disable signing.


My web site ... xerox Phaser 8560 printer

White Swan Online Store